PEREMPUAN

Banyak betul film yang sudah aku tonton, banyak juga kisah yang sudah aku baca, dan yang menjadi topik utamanya adalah PEREMPUAN.

Perempuan, aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana sebetulnya sosok itu. Tetapi aku sering dengar dan baca bahwa sosok itu adalah suatu keindahan yang tak dapat digambarkan dan tidak dapat dibandingkan dengan keindahan ciptaan Tuhan lainnya.

Bahkan bunga yang paling cantik sekali pun.

Perempuan yang ku tahu kebanyakan bersedia menjadi tempat berlindung dan memberikan lebih banyak seketika dia menerima sedikit saja asal dia diperhatikan keberadaannya. Sepele betul kau jadikan hatimu wahai Perempuan.

Aku bicara disini sebagai penonton, bukan laki-laki bukan juga perempuan.

Wahai Perempuan, semuanya berasal darimu. Jalan kebaikan dan pengharapan darimu, demikian juga pintu kemaksiatan dan keputus asaan juga berasal darimu. Janganlah kau bermurah hati mengucap janji setia menunggu, jangan pula secepat kilat lidahmu mengucap sumpah atas ketidak sukaanmu.

Perempuan, aku melihat, kau makhluk lemah. Lemah hatinya. Sebagaimana kuatnya tekadmu menutupinya tapi jiwamu remuk dan mati.

Perempuan, aku mendengar bahwa kaummu hanya mengingat kepedihannya yang sedikit setelah apa yang telah kau lakukan pada golongan yang lain. Tidakkah kau tahu Perempuan apa maksud dari pernyataan itu.

Perempuan, lagi aku ingatkan engkau. Jangan terlalu bermurah hati, gunakan logikamu dan nuranimu. Bukan hatimu, agar kau tidak tercabik-cabik.

Perempuan, kau sumber segala asal atas akhir keputusan yang kau torehkan. Dan dia, yang memberikan hatinya untuk berlindung dari dera dunia yang terlalu kuat pengaruhnya.

Jangan kau putus harapan seorang lawan dengan kepura-puraanmu, karena bukan dia saja yang akan tersiksa atas keputusanmu. Tetapi juga kau.

Perempuan, berkatalah Ya jika memang Ya. Tidak jika memang Tidak. Jangan kau buat drama mu sendiri di dunia ini. Karena sudah Tuhan yang tetapkan.

Perempuan. Hajab betul kau hidup, membekas dan memberi tanda atas setiap langkahmu.

Advertisements

ORANG GILA

Ada orang gila biasa dipanggil “ si Bakar Rambut”. Kenapa dia dipanggil seperti itu? Aku tidak tahu.

Hampir setiap hari datang ke kantor, masuk pakai salam, salamnya seperti ini “mintak do duit, oyah bagen la kamu, lapakh aku na, indak pala ondak ku yang idup bagika ka, pakhahan ja kamu bla bla bla.

Jangan bingung dulu, ini terjemahannya “ minta dulu uang, seperti itu lah kamu, aku lapar, bukan kemauan ku hidup seperti ini, keterlaluan kamu bla bla bla.

Sebenarnya dia masih ngomong tetapi aku tidak tau apa yang diucapkannya, aku cuma mendengar suara saja.

Aku mau foto kemarin tapi aku takut. hahaha…

Sebenarnya bukan tidak ada yang meberinya uang, bahkan ada yang memberinya makanan tapi itu sangat jarang setelah kedapatan si Bakar Rambut membeli tuak dengan uang tadi. Itu minuman keras made in kampung yang warnanya putih susu tapi encer. Paling tidak dia minum itu tuak segelas aqua biasa. Kalau sudah diminumnya beuuuuuuuhhhh tidak tahan sama baunya. Namanya juga si Bakar Rambut sesuai dengan rambutnya yang panjang, sedikit agak botak. Eh enggak deh, rambutnya jarang-jarang dan tidak terurus. Tapi alhamdulillah pakaiannya lengkap.

Dalam kasus lain,ada seorang Ibu yang sering memberi uang dua ribuan sama dia, karena ketagihan si Ibu didatangi tiap hari sampai pernah kucing-kucingan. Si Ibu jera bercinta. Eh !

Satu hal yang membuat aku sangat bersyukur, aku tidak pernah diganggu apa lagi dimintai uang. Aku cuma sering kasi segelas air mineral (kalau lagi ada) walau dia tidak meminta, aku letakkan lumayan jauh dari aku dan dia tau berterima kasih. Saluuuuttt. Supaya tidak diganggu aku selalu siapkan satu jurus ampuh, cukup dengan memandang tepat ke matanya dengan pandangan sinis menayamping.

Si Bakar Rambut punya keluarga, sudah pernah di kurung supaya tidak mengganggu, tetapi rusuh sekampung karena jeritan makiannya hahaha siapa yang tahan ya kan. Menurut aku dia itu error karena akibat dari nge-lem sama sabu. Pernah aku lihat dia mengorek – ngorek tempat sampah dan dapat sisa kue, nasi sama aqua botol yang isinya kurang dari separuh, miris juga hati ini. Pernah juga dia memakai pakaian baru, rambutnya di botakin jadi tampak sangat bersih dan waras, akungnya cuma bertahan semingguan lah,,,

Si Bakar Rambut sering duduk di sudut luar Pekong Vihara Budha Santi yang di depannya ada jalan menuju tangkahan Pak Nang, kalau tidak di situ berarti dia di sudut jalan kantor Polisi, yaaa tempat nongkrongnya paling sering ya disitu, dan kalau diukur paling jarak dua meter lah. Pekong dan Kantor Polisi itu bersebelahan cuma dipisah oleh jalan yang luasnya sekitar dua meter tadi. Dia duduk sambil komat – kamit ngomong sendiri. Kalian mengerti kan apa maksud ku.

Begitulah si Bakar Rambut, yang sering ngisi absen ke kantor dengan salam khasnya dan apa adanya dia.

-____-

DILAN DAN MILEA

Mungkin kalian sudah menontonnya di bioskop, saya sama sekali belum tetapi saya sudah baca novelnya. Dan saya mau bilang bahwa saya tidak suka.

Saya tidak suka sikap mereka yang menyimpulkan sendiri, saya tidak suka sikap si Dilan yang memutuskan sendiri.

Ini di bagian akhir cerita dimana Lea minta putus karena dia fikir si Dilan terlibat perkelahian geng motor lagi untuk membalas dendam kematian temannya itu. Si Lea memutuskan sendiri tanpa mendengar penjelasan Dilan terlebih dulu. Benar saya tidak suka perempuan seperti itu.

Setelah hilang baru menyesal, baru lah menelpon Dilan lagi. Ini bagus, ini salah satu usaha Lea untuk kembali lagi pada Dilan, tetapi di sini Dilannya malah tidak open, padahal butuh. Rindu tapi ditahan.

Kalian apa-apaan sih,,,

Lea seharusnya terus menelpon dan bilang rindu ke Dilan, tetapi tidak terucap.

Dilan menyimpulkan kalau Lea sudah jadi milik orang lain dan mundur, Lea juga begitu, mengira Dilan sudah memiliki kekasih baru dan mengambil langkah mundur juga.

Kalian memang cocok.

Seharusnya.

Tetapi karena sifat kalian sama, jadinya tolak menolak persis seperti magnet yang sama kutubnya akan tolah-menolak.

Arrggghhhh

Saya tidak suka ending yang seperti ini.

Padahal peluang kalian bersama itu lebar. Ini posisi saya sebagai pembaca novel, tetapi jika saya menjadi Lea maka saya juga akan melakukan hal yang sama, karena saya cewek kodratnya menunggu, kalau agresif banget nanti kesannya murahan pula.

Hei, kamu Dilan ku. Ini kode buatmu. Apa kamu membaca tulisan ini?

Tolong jangan seperti Dilannya si Lea ya… saya mohon.

SAJAK PEMILU

Aku tidak pernah suka dengan yang namanya pesta rakyat sejak kepergianmu waktu itu.
Kan kamu janji kalau kita bakal kumpul seperti yang kamu bilang di telepon.
Tahukah kamu kondisi ku waktu itu?
Aku merasa kosong seketika, tak tau aku cara mengungkapkannya.
Tapi sampai saat ini aku selalu rindu pada mu.
Juga
Terima kasih tidak muncul lagi sesering dahulu.
Bukannya aku tidak rindu
Hanya saja setiap engkau hadir maka aku akan sakit.

Riadhoh

*Repost dari Mastah Kang Dewa Prayoga*,

Saya share karena sangat bermanfaat dan sesuai harapan guru kita Uts Yusuf Mansur, Mudahan Bisa melaksanakannya, dimudahkn dan istiqomah Aamiin.

Apa target terbarumu di tahun 2018?

Saya tidak merayakan tahun baru, tapi tahun baru menjadi momen yang bagus untuk mengevaluasi diri dan membuat target-target baru.

Sayangnya, banyak orang di luar sana hanya menargetkan poin finansial dan urusan dunawinya saja, seringkali mereka lupa menargetkan poin spiritual dan urusan akhiratnya kelak.

Oleh karenanya, yuk kita coba targetkan spiritualnya juga. Mau?

Kalau mau, baca sampai selesai ya….

Salah satu poin penting dalam mencapai target spiritual yang ingin Saya share kepada Anda adalah terkait RIYADHOH.

Pertanyaannya, apa itu riyadhoh?

Menurut bahasa, Riyadhoh memiliki arti Latihan, membiasakan, atau olahraga. Sedangkan menurut istilah yang dimaksud Riyadhoh adalah melatih diri atau membiasakan diri dengan amalan amalan tambahan agar mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.

Dalam pelaksanaannya, kita berlatih keras untuk membiasakan diri melaksanakan ibadah-ibadah mahdhoh (ritual) dan ghairu mahdhoh, sehingga kedua macam ibadah itu menjadi budaya hidup kita sehari-hari.

Berikut beberapa contoh riyadhoh dalam ibadah mahdhoh:
– Jaga Shalat Tahajjud 8 Rakaat + Witir 3 Rakaat.
– Jaga Shalat Shubuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya berjamaah di masjid, lengkap dengan qobliyah dan ba’diyahnya
– Jaga baca Surat Al Waaqi’ah sesudah shubuh atau sesudah ashar
– Jaga Shalat Dhuha 6 Rakaat. Yang kuat, 12 rakaat.
– Baca zikir usai shalat, plus bacaan Yaa Fattaah Yaa Rozzaaq 11x, plus ayat kursi, plus Surat Al Ikhlas 3x, setiap usai shalat.
– Khusus usai Shalat Subuh dan Ashar, ditambah 4 ayat terakhir Surah Al Hasyr.
– Jaga setiap hari membaca 300x Laa hawla walaa quwwata illaa billaah. Boleh 100x. Dan boleh dibagi-bagi di 5 waktu shalat.
– Jaga setiap hari baca Istighfar 100x.
– Jaga setiap hari baca Subhaanallaahi wabihamdihi subhaanallaahil ‘adzhim 100x pagi dan 100x sore.
– Jaga setiap hari baca Surat Yaasiin
– Tutup malam dengan shalat sunnah 2 rakaat; baca Al Kafirun di rakaat pertama, Al Ikhlas di rakaat kedua. Setelahnya baca salah satu dari As Sajdah, Al Mulk, atau Ar Rahman.

Dan berikut contoh riyadhoh dalam ibadah ghoiru mahdhoh:

– Bekerja untuk mencari nafkah
– Jualan diniatkan menolong orang
– Tersenyum dengan orang lain
– Menafkahkan harta di jalan Allah

…dan masih banyak lagi

Biasanya, orang yang sedang melakukan riyadhoh, mereka melakukannya selama 40 hari tanpa putus. Kenapa?

Konon katanya, siapa saja yang melakukannya dengan istiqomah tanpa terputus satu hari pun, Insya Allah semua hajatnya akan terpenuhi. Dan juga, berdasarkan sebuah penelitian di bidang psikologi, otak bawah sadar manusia akan membentuk memori atau suatu kebiasaan dalam masa 40 hari.

Tapi khusus untuk kali ini, Saya ingin mengajak Anda untuk melakukannya bukan dalam 40 hari, tapi selama 365 hari. Ya, 365 hari, alias 1 tahun. Siap?

Alasannya, tentu supaya riyadhoh ini membekas dan melekat dalam pribadi kita, tak hanya sekadar membentuk habbit, tapi juga bukti usaha kita untuk mendekatkan diri pada Allah subhanahu wa ta’ala.

Apa saja riyadhoh yang bisa kita lakukan selama tahun 2018 nanti?

Berikut adalah diantaranya:

1. Tahajud 8 rokaat
2. Witir 3 rokaat
3. Hajat 2 rokaat
4. Taubat 2 rokaat
5. Qobliyah Shubuh 2 rakaat
6. Shubuh berjamaah di masjid
7. One day one juz
8. Baca Ar-Rohman, Al-Waqiah, Al-Mulk
9. Menghafal 10 ayat baru
10. Baca Al-Ma’tsurot pagi
11. Sholat Syuruq
12. Sedekah Pagi
13. Sharing ilmu & pengalaman
14. Dhuha 12 rokaat
15. Qobliyah Dzuhur
16. Dzuhur berjamaah di masjid
17. Ba’diyah Dzuhur
18. Qobliyah Ashar
19. Ashar berjamaah di masjid
20. Al-Ma’tsurit sore
21. Qobliyah Maghrib
22. Maghrib berjamaah di masjid
23. Ba’diyah Maghrib
24. Baca Yasin
25. Qobliyah Isya
26. Isya berjamaah di masjid
27. Ba’diyah Isya
28. Menghafal 1 hadits baru
29. Istighfar 100x
30. Berwudhu sebelum Tidur
31. Puasa Senin & Kamis
32. Sedekah Nasi setiap Jum’at
33. Baca Al-Kahfi di malam Jum’at

…dan masih banyak lagi.

By the way, untuk melakukan poin-poin di atas, tidak harus nunggu tahun 2018 lho, Anda pun bisa memulainya sejak sekarang, jangan ditunda-tunda, toh kebaikan. Iya, kan?

Semoga bermanfaat ya. Kalau mau dishare, tafaddhol, silakan. Semoga jadi wasilah hadirnya kebaikan. Aamiin….

Masa Kecil part-3

Ini masa dimana aku sudah masuk sekolah. Aku kecil selalu ikut kemana nenekku pergi, tiap acara wirid atau apa pun itu kalau diajak nenek. Karena kampung nenek ada di Teluk Putat, Sei Pelancang dan waktu itu belum ada kendaraan darat untuk kesana jadi harus berangkat jam delapan pagi dan sampainya jam empat sore dengan sekali singgah di pemberhentian. Nah kalau setiap pigi ke kampung nenek aku so pasti ikut walaupun itu hari masuk sekolah, jadilah aku tiap dalam sebulan ada absen ku.

Kalau udah pergi jauh nenek pasti bawa banyak makanan, yang buatan sendiri lah, yang dibeli di tangkahan (pelabuhan), termasuk telur rebus yang dijajakan di dalam bot pasti dibelikan tanpa diminta. Enaknya yang punya nenek. Itu kenangan hingga aku berusia delapan tahun dan nenek pun pergi untuk selamanya. Sebelum nenek pergi, ia sempat memperlihatkan penyakit yang disembunyikannya selama ini pada ku, ya aku yang pertama tahu tentang sakitnya. Sesak di dada saat menuliskan bagian ini.

Aku rindu nenek.

>>>

Oh ya ada momen dimana hujan adalah bagian hal yang paling aku suka selama ini. Aku dan teman-teman ku suka bermain hujam, tapi sebelum itu kami lari ke dapur mengambil plastik asoi buat dipasang di kaki dan dijadikan kayak sepatu gitu, saat angin mulai kencang berhembus disitu kami lari-larian. Kayak menunggu hujan turun.

Tapi begitu pun tetap aja kena marah karena kami lari-lari nya di pasar, apalagi kakek ku bweeeeh,,, matanya merah kalau menahan marah, kalo aku tetap ora peduli. Menurut aku pas banget la aku jalanin masa kecil seperti itu, karena musim hujan deras sama angin kencang itu ada di bulan tertentu, tidak seperti sekarang yang tidak menentu lagi.

Bermain di ladang tiap sabtu sama minggu. Oh iya, masa bercocok tanam di kampung ku itu cuma setahun sekali, lahannya tadah hujan breii. Ke ladang itu aman, pergi bersih pulang pun bersih, tidak ada pacat (lintah pengisap darah), yang ada itu kodok warnanya cantik-cantik, memburu sangkar burung yang ada telur atau anakannya (yang ini gak pernah dapat), burung yang tersangkut di jerat (adikku yang ahlinya nih, aku cuma nunjuk-nunjuk aja), suara elang gagak yang wah kuat banget, aku pernah menangis dibuatnya karena sakin kuatnya aku pikir dia bakalan turun dan mematuk aku. Hahaha… lah iya. Karena dari suaranya yang kuat maka bayangan yang ada dikepala ku waktu itu elangnya juga sebesar aku. Efeknya sampe sekarang aku kalau melihat elang masih sering merinding tapi gak takut kayak dulu lagi.

Ada lagi, makan bontot di pondok ladang, lauknya bakar ikan asin yang dibawa dari rumah, makan lalapan timun sama kacang panjang yang dipetik langsung. Itu yang menanamnya kakek sama nenek ku di dekat pondok.

Suasana seperti ini tuh tidak ada lagi sekarang. Hampir delapan puluh persen lahan sawah berubah menjadi kebun sawit, sisanya kebun karet dan kencur. Kampung aku di Sei Berombang, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu. Cari aja di google mudah – mudahan udah kelihatan di peta, hahaha…

Kalau di kampung seberang kayaknya masih ada deh areal persawahan. Soalnya banyak ibu-Ibu di kampung ku ambil upahan mengetam di sana dengan upah lima puluh ribu per hari per orang.

Sekarang Ayah sama Amak cuma berkebun kencur, dan yang menikmati pondoknya ya cuma mereka aja. Adik-adik ku kalau pun datang ya cuma kalau di suruh aja. Mereka tidak tertarik kayaknya.

Aaahhhh… indah banget la masa kecil ku.

Bekerja di Kampung itu…

Lahir di kampung, besar di kampung, sekolah di kampung, kuliah baru lah ke luar kampung alias masuk kampung orang. Kampung orang disini bukan lagi kondisinya kampung. Studi pun selesai balik lagi ke kampung.

Ketika aku bilang “kampung” maka tidak salah jika kalian membayangkan pohon kelapa yang masih banyak dan ada di tiap halaman rumah penduduk, segerombolan pohon pisang yang tumbuh tak beraturan, rumah penduduk yang asri, ibu-ibu yang kalau pas jam sepuluh pasti berkumpul di salah satu rumah mereka. Biasa lah acara live kasak kusuk atau cek en ricek.

Kalau sudah sekolah tinggi apa lagi yang lulusan PTN siap-siap kena kaji jika diantara kalian ada yang pulang kampung untuk bekerja di kampung. Tebalkan telinga, teguhkan hati dan pandai-pandailah mencari liang agar tidak tiap hari ketemu ibu-ibu seperti itu.

Di kampung itu lain gang nya lain pula cerita dan pelakonnya. Tidak memutus kemungkinan bukan ibu-ibu yang menjadi sumber panasnya tetapi bapak-bapak yang kurang kerjaan. Apakah semuanya begitu? Tidak, tentu tidak. Tetapi kamu akan menemukan hal semacam itu tiap hari ketika kamu berjalan menuju tempat kerja mu.

Di kampung itu pekerjaan yang paling banyak adalah pengajar atau guru. Sakin banyaknya maka guru-guru yang belum PNS itu harus rela menerima gaji dua ratus ribu per bulan.

Hal yang aneh menurut ku adalah pikiran kebanyakan orang kampung itu yang…entahlah.

Hal yang istimewa di kampung adalah “seragam”. Seragam mu menentukan masa depan mu di mata para ibu-ibu tadi atau bapak-bapak yang kurang kerjaan tadi. Ini sangat mempengaruhi mental seorang anak muda yang tinggi gengsi dan tidak kuat mental. Tidak demikian halnya dengan anak muda yang teguh hatinya.

Banyak yang bergelar sarjana di kampung ini yang berakhir tragis dan pasrah dengan keadaan. Rela melepas baju kebesarannya hanya karena omongan yang tidak penting.

Kaya pun kamu, kerjamu adalah toke pemborong, tapi karena kamu berijazah dan itu tidak sesuai jalurmu maka habis-habisan la kamu akan jadi bahan omongan.

Buat apa sekolah tinggi kalau akhirnya jadi pemborong jua, yg gak sekolah pun bisa…

Jauh-jauh sekolah ujung-ujungnya jd tukang becak…

Si Anu gak sekolah dia banyak jua nya hartanya. ..

Begitulah polemik hati anak muda yang anak kampung balik kampung.

Keseringannya sih mereka lebih memandang yang berseragam.

Ya. Seragam itu adalah tolak ukur kesuksesan dimata mereka.