Beri Aku Kesempatan

Leader-Sunggyu-Infinite-kpop-leaders-27598454-500-494

tumblr_lee9ykdbvL1qfkqafo1_400
Baby just can’t let you go…ku putar mp3 INFINITE
di hp ku sambil melangkah dan ku tarikkan tas ku yang terletak di
atas meja makan. Sering kali ku pasang lagu itu, seperti ada magnet di setiap alunan nadanya,,atau mungkin liriknya. Entahlah, yang penting enak di dengar, gumam ku sendiri.
Dengan semangat pagi aku berangkat ke kampus yang tidak jauh dari rumah kos ku. Ah,hari ini sedang ujian mid semester, cuaca pagi ini terasa sangat tenang dan hening. Mudah-mudahan ini hari yang baik dan aku bisa menjawab semua soal-soal dengan betul. Aku berharap dalam hati. Bukannya aku tidak belajar tetapi rasa gugup tetap masih ada walaupun sudah berpuluh kali ujian. Hahaha,,,dalam hati aku merasa lucu sendiri.
BUGGG !!! oh my god ! aku ditabrak dan orang yang menabrakku pergi begitu saja tanpa minta maaf atau paling tidak menoleh saja. Ishhh…aku kesal jika sudah mulai begini. Tapi ini harus dimaklumi karena hari ini ujian. Yup sekarang sedang ujian dan semua orang tampak terburu-terburu. Why??? Aku bisa koq berjalan santai, kenapa harus buru-buru toh hari masih menunjukkan pukul 07.05. masih banyak waktu. Begitu pikir ku.
BUGG!!! OH MY GOD !! hey,,hati-hati dong, aku berteriak kesal tapi tak sampai jadi pusat perhatian. Ku gigit bibir bawahku sakin kesalnya karena tas ku terlepas dibuatnya. TaPP!! “maaf, ini tas mu,,” katanya yang seketika mengambilkan task u yang terjatuh tadi. Aku tarik dan aku diam saja. Terlalu kesal rasanya,,,bunyi mp3 ku pun sampai tak kedengaran lagi ditelinga ku. “kamu jurusan sastra Jepang kan? Aku jurusan sastra juga tapi sastra China ^_^ “ begitu katanya tiba-tiba yang membuat rasa kesalku langsung pudar. “apa kita saling kenal?” aku tanya sekenaku saja. “tidak, kita tidak saling kenal, tapi aku tau kalau kita satu fakultas” katanya “oh!” gumamku singkat. “maaf yang barusan, mari cepat nanti terlambat ujian” katanya lagi yang langsung menyadarkanku dari lamunan. Dia ramah. Itu yang bisa kubilang saat ini. “namaku Kevin” dia mengenalkan namanya sambil kami berjalan. Tuhkan dia ramah dan bersahabat,,hihi…
Tidak kutahu lagi sudah berapa lama aku mengenal kevin hingga sekarang dia menjadi pacarku. “Nana, masih lama belanjanya…? aku lapar nih, cepat sedikit dong. Ck !” pintanya dengan muka kesal dan tanpa melihat ke arahku. “iya, bentar ya, satuuuu lagi ^_^ “ aku memasang muka ramah padanya. “emangnya apa lagi sih…”Kevin tambah kesal. “nah ini dia udah dapat..ayok kita makan Vin ^_^” kembali ku pasang wajah imut dan mengambil barang yang sebetulnya bukan barang itu yang ku inginkan. “makannya pelan-pelan dong Kevin, awas keselek..”aku mengkhawatirkannya yang makan tanpa jeda. Dan dia tidak berkata satu patah kata pun.
Kevin langsung pergi setelah mengantarku pulang. Ku hempaskan tubuhku begitu saja ke tempat tidurku. Ku renungi foto yang menjadi wallpaper ku, tampak indah dan…hix hix hix,,,aku menangis, menangis,,,entah apa yang aku tangisi tepatnya. Aku hanya menangis.. senyumnya,,matanya,, begitu aku menatapi fotoku dan Kevin. Mengapa begitu menyesakkan dan hix hix,,,aku merindukanmu. Merindukan kamu yang ramah dan bersahabat. Mataku menerawang ke luar jendela melewati gorden putih tipis yang terbuat dari kain siffon yang aku buat sendiri. Melayang pandanganku pada awan nan jauh di atas sana. Banyak bertebaran dengan latar langit biru laut yang damai. Kembali aku putar mp3ku, sengaja ku putar langu nge-beat agar tidak terbawa suasana, pikirku.
***
“Kevin, kamu dimana? pulang yok, udah hampir larut malam nih..”terpaksa ku telpon Kevin karena dia menghilang dari samapingku. Dalam kondisi ramai begini bagaimana mungkin aku bisa menemukannya, pikirku. Hm,,kami sedang di acara ulang tahun temannya Kevin, tepatnya di ruangan megah yang aku tidak tahu ruangan apa sebenarnya ini. Sangat ramai karena tidak hanya muda-mudi saja yang yang datang para orang dewasa aka orang tua pun berdatangan. Tampaknya ini acara ulang tahunnya anak pejabat. Ya begitulah tampakku. “kamu pulang duluan saja, aku masih ngobrol dengan teman-temanku” jawabnya diseberang sana.”Kevin aku..” belum sempat aku membalas ucapannya eh telepon ku udah dimatikannya. Hm…ku telpon aja lagi, pikirku. “kan aku sudah bilang kamu pulang duluan saja, naek taksi sendiri kan bisa..aku masih sama teman-teman nih…” cerocos Kevin melalui telpon. “Vin, aku gak berani, kita pulang ya…”aku meminta Kevin lagi. “jangan manja deh, aku panggilin taksi, trus kamu pulang duluan kalau mau pulang.” Tutup Kevin langsung. Kevin koq seperti itu sich..pikirku. aku terus berjalan diantara keramaian mencoba menemukan sosok Kevin. Benar dia sedang bersama teman-temannya dan seorang gadis di sampingnya. Wanita yang cantik dan bergaya. Oh no, wanita itu menoleh ke arah ku, sepertinya dia ngomong sesuatu.
Kevin mendekati ku, “ayok aku antar ke bawah, trus kamu pulang. Gak perlu takut.”Kevin menarik tanganku begitu saja tanpa menanyakan apa-apa kepadaku. Aku hanya bisa menuruti karena pegangan tanggannya cukup kuat bagiku. Ada apa dengan mu Kevin…”Vin, kamu kenapa?, apa ada masalah?” aku bertanya karena wajahnya datar ketika mengantarku menghampiri taksi yang sudah dipanggil Kevin tadi. “—“ Kevin tak menjawab pertanyaanku dan langsung membukakan pintu taksi untuk ku. “Kevin, jangan pulang terlalu larut ya, i love you Vin..”aku mencoba menyadarkannya dari diamnya. “hm…”jawab Kevin singkat.
***
Drrrrt drrrrrttt…aku tersadar dari lamunan panjangku setelah hp ku bergetar. Oh, sms masuk.
“Nana, apa kau baik-baik saja?” sms Kevin.
Hm! Ada apa dengan anak ini, membuatku galau saja.
“ya, aku baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba…?” Tanya ku penasaran.
Sudah samapai hamper satu jam aku menunggu balasannya. Tampaknya tidak akan dibalas. Gumamku. Beginilah Kevin yang sekarang. Agak samar-samar kurasakan keberadaannya yang mulai menjauh dariku. Apa aku ada salah, atau sikap ku sendiri yang membuatnya tidak nyaman. Kevin, siapa kamu sebenarnya? Yang mana dirimu yang sebenarnya? Atau aku yang telah salah sangka padamu? Atau aku yang terlalu manja seperti yang sering kamu ucapkan kepadaku. Kevin aku merindukanmu.
“lusa sibuk gak? Kita jalan yuk. Sudah lama rasanya. Dandan yang biasa aja, aku gak mau jadi pusat perhatian cowok-cowok lain di luar sana” begitu smsnya tepat satu jam setelah aku menunggu balasan smsku.
“gak sibuk, iya aku akan dandan seperti biasanya. Don’t worry ^_^” betapa aku gembira membalasnya. Rasanya airmataku tadi langsung kering seketika dan berganti dengan senyum yang tak bisa lekang. Pikirku.
“seperti biasa habis kuliah ya,,
miss you.
Kevin”
Begitu akhir sms Kevin yang membuatku sangat senang.
Aku pikir, kayaknya barusan tadi kami jumpa. Makan bareng di luar dan… ya, Kevin kau membuatku galau dengan sikapmu. Aku tutup hp ku dan membayangkan apa lagi yang akan terjadi lusa bertemu dengannya. Aku tidak ingin seperti biasanya, Kevin berubah menjadi jutek yang bukan main dan membuat aku merasa benar-benar tidak nyaman sebenarnya. Tapi ketika dia lembut lagi, aku pikir aku harus bertahan. Begitulah menurutku, manusia punya sifat baharu. Kuulangi kata-kata yang pernah diucapkan ibuku dulu untuk mennguatkan diriku sendiri.
***
Entak apa yang salah lagi. Aku sudah menuruti kata-katanya. Aku menangis lagi dibuatnya.
“kamu ada niat gak sich untuk jalan dengan ku hari ini?” ketus Kevin kepadaku yang membuatku terkejut.
“niat dong Vin, koq nanyanya seperti itu…?” ku bertanya-tanya dibuatnya.
“dandan dikit kek, atau pake baju yang cantik dikit kek. Gini polos kali, jadi ngilangin mood ku aja dech…”keluhnya.
Aku dandan koq Vin, aku pake boots, kaos dan jeans.,cukup keren dan tidak norak alias mencolok malah. “aku saltum ya Vin?” tanyaku dengan polos sambil menatap Kevin.
“hah,,udahlah, aku lapar ayo kita makan” pintanya langsung.
“kita gak jadi nge-date Vin? Kita makan dimana?”
“udah,kita makan aja habis itu pulang” katanya. “aku akan antar kamu pulang, aku masih ada urusan” sambungnya.
Aku terdiam kalau Kevin udah ngomong seperti itu.
Di mobil kami hanya saling diam, sesekali aku lihat wajah Kevin yang konsenstrasi menyetir. “Vin, kamu kenapa? Maaf sebelumnya, aku merasa kamu berubah belakangan ini? Kamu ada masalah ya?” aku mulai bertanya. “aku tidak apa-apa dan aku tidak ada masalah. Kamu kali yang bermasalah” balasnya ketus. “apa aku membuatmu kesal ya dengan kostum ku hari ini?” tanyaku penasaran. “kamu tuh ya, cerewet, bawel, banyak tanya lagi. Aku lagi nyetir ini. Bisa gak kita bahas lain kali.” Suara Kevin tiba-tiba meninggi. “koq ngomongnya gitu sich Vin, kasar tau gak..”aku jawab sekenaku. “oh, KASAR. Kemu tuh ya. Aku tuh capek tau gak sich. Nana, aku benar-benar capek dan kamu bilang aku kasar, trus apa lagi” bantah Kevin. Oh God kurasa pertengkaran akan terjadi untuk ke dua kalinya ni dalam sejarah perjalanan cintaku dengan Kevin. “kenapa diam aja. Hm? Sudahlah Nana, aku tidak mau ribut denganmu” sambungnya. “aku juga tidak ingin ribut lagi denganmu untuk kesekian kalinya.” Karena sakin kesalnya kuladeni juga pernyataan yang keluar dari mulut Kevin. “bisa gak sich diam saja atau…” kata Kevin berteriak dan mendadak menginjak rem mobilnya. Hampir aja kepala ku terbentur karena ulanya. “atau apa? Kevin, kamu tuh kenapa sich, aku menuruti semua perkataanmu hari ini. Dan kurasa tidak ada yang salah dengan ku hari ini. Kamu nya aja yang selalu sensi, entah apa sebabnya dan semuanya serba tiba-tiba” aku tak tahan juga hingga air mataku mengalir. “udahlah Nana”kata Kevin.
Aku terus menangis, apa yang bisa aku perbuat, hati ku terlalu lemah untuk menahan hal semacam ini. “kita,,,udahan saja Nana…” kata Kevin “aku sudah terlalu capek dan,,,”sambung Kevin.
Bagaikan petir menyambar di tengah hari dan hujan tak juga turun. Aku tak sanggup mendongakkan kepala ku untuk melihat Kevin atas perkataannya barusan “dan apa..?” tanyaku menunduk. “aku bosan melihatmu yang dikit-dikit nangis. Diamlah, aku antar kamu pulang” katanya datar. Aku hanya menunduk “tolong buka pintu mobilmu” jawabku sekenaku. “kamu mau ngapain. Gak perlu, aku akan antar kamu…”. “Buka !!” teriakku sebelum Kevin menyelesaikan kata-katanya sambil menatap mata Kevin dalam-dalam. “Ok!” katanya singkat. “gak habis pikir aku Vin,,” ucapku pelan sambil menutupkan kembali pintu mobil Kevin.
Aku berdiri di tepi jalan sambil mencoba menghapus air mataku yang terus mengalir dan Kevin belum juga beranjak dengan mobilnya di depan ku. “Nana, ayo masuk, di sini sepi. Aku akan antar kamu” bujuknya yang pura-pura tidak kudengar. Aku stop taxi yang kebetulan lewat.
Setiba di rumah, kembali ku rebahkan tubuhku ke kasur yang selalu setia manampung keluh kesahku. Kututup mukaku dengan sprei putih berharap aku akan segera tenang dan tertidur lelap.
***
Sudah pagi. Gumamku dalam hati. Aku beranjak ke kamar mandi dan bayangan kejadian kemarin masih berkeliaran di otak ku. Hm…aku menghela nafas panjang dan mengukirkan sebuah senyum agar hari ini menjadi hari yang indah. Wajahnya masih terbayang, mata sipitnya yang khas, senyumnya yang indah juga marahnya semua menyatu menghampiri pikiranku.
Yang kemarin sudah selesai Nana. Ini hari baru mu. Jangan larut dalam sedihmu. Aku berusaha menguatkan diriku sendiri.
Drrrttt drrrttt.. hp ku bergetar terlalu pagi. pikirku
“apa kamu baik-baik saja? By: Kevin” sms Kevin masuk. Apa perlunya lagi, kita sudah selesai, kenapa harus menuliskan namanya, apa dia berfikir aku langsung menghapus nomornya. Ckckck,,,nappeun noma. Aku langsung hapus smsnya tanpa membalasnya.
***
Entah mulai kapan aku terbiasa tanpa Kevin mengisi hari-hari ku. Aku pedamulanya yang santai sekarang sangat sibuk dengan berbagai kegiatanku. Dan itu cukup membuatku hampir tidak sempat bermimpi karena sakin capeknya.
“Ok. Jam 2 sore kita ngumpul ya, aku masih ada kuliah ini” jawabku pelan kepada temanku di telepon, karena aku sedang berada di kelas dan dosen sedang menerangkan di depan. Baru aja aku tutup telpon ku langsung masuk lagi telpon dengan nomor yang tidak kuketahui dari siapa. Ku biarkan saja karena aku sedang kuliah.
Berulang kali hp ku bergetar, OMG, tiga panggilan dan sipenelepon pun menyerah. Hm,,,maaf ya aku sedang kuliah tadi. Kataku sendiri dengan hp ku. Hop,,bergetar lagi. Langsung aku angkat “hallo…” —- “hallo…”— hening, tak ada duasa di seberang sana dan hp pun ku simpan kembali ke dalam tas ku.
Hari-hari yang melelahkan dengan segudang aktivitas.
“Nana bagaimana kabarmu?”… hei, whats going on? Pikirku. Berkali-kali sms yang sama dari Kevin masuk ke hp ku dan tak satu pun aku gurbis. Udah berapa lama kami tidak ada kontak dan dia tiba-tiba meng-smsku. “nana, kita bisa ketemuan? Ada yang ingin aku beri tahu samamu, ku mohon,,”smsnya terakhir yang membuatku luluh dan akhirnya mau menemuinya.
Aku sengaja datang telat, parah malah telatnya lebih dari satu jam. Dan itu benar-benar kusengaja. Sebenarnya aku malas melangkahkan kakiku untuk menemuinya dan melihat mukanya lagi.
“kamu mau memberitahu apa?”tanyaku langsung ketika melihatnya…
Hening seketika, Kevin menyiapkan kursi untuk ku. Apa yang ingin dia sampaikan sampai aku harus duduk. Tanyaku dalam hati. Kevin belum juga bicara. “kalo tidak ada aku pergi. Aku masih ada urusan lain” aku angkat bicara untuk menyudahi keheningan. “tunggu. Nana,,,”Kevin menarik tanganku seketika. “aku,,aku,,”katanya terbata-bata. “apa? Kamu mau ngomong apa?” jawabku mencoba ramah.
“aku ingin kita balikan. Kita mulai lagi” katanya setelah terdiam sesaat. Tampak di wajahnya dia mengumpulkan keberanian yang penuh untuk mengucapkan hal itu. Aku sudah menduga kalau dia akan minta balikan. Tapi beberapa kali juga kusangkal dengan mengatakan tak mungkin bagi hatiku. Aku diam dan menatap matanya.
Hening seketika kembali. Minuman yang sudah dipesannya untuk ku dan dia sama sekali belum ada kami sentuh. Emosiku berkecamuk. Aku menatapnya dalam dan aku lihat Kevin tertunduk. “mulai dari awal lagi??? Dan akan mengalami hal yang sama lagi dong berarti ya?” jawabku ketus dengan wajah datar. “tawaran yang sangat tidak bisa ku terima” lanjutku. Bukannya aku menghendaki bersikap seperti ini, hanya saja yang telah berlalu masih sangat membekas dan rasanya itu baru kemarin. Semuanya masih jelas, bagimana perlakuan Kevin pada ku setiap kali bertemu dengannya. Aku seolah-olah tidak pernah ada benarnya, aku tidak ingin hitung-hitungan padamu Vin atas semua perlakuanmu. Aku yang terlalu menyayangimu sehingga terlalu sakit untuk menerima kenyataan yang ada.
Tik … what? Air matanya mengalir. Oh God, baru kali ini kulihat Kevin menangis dan itu membuatku bingung. Pertengkaran kami yang sebelum-sebelumnya Kevin tidak pernah seperti ini. Aku masih ingat semuanya, “kev. Kevin…” belum sempat kulanjutkan kevin memelukku dari belakang. Aku terkesiap melihat tingkahnya. “beri aku kesempatan,,,jangan menjauh dariku. Aku sungguh tidak kuat…” katanya sambil menangis sampai-sampai bahuku basah karena air matanya.
Oh God,,,apa yang harus ku perbuat. Aku diam membiarkannya mendekap pundakku dari belakang, kubiarkan kevin tetap di belakangku. Aku juga bahkan sangat merindukannya. Tanpa ku sadari air mataku pun jatuh, apa yang harus ku perbuat Tuhan…gumamku dalam hati.

#pembaca yeoreobun,,,silakan lanjutkan sendiri akhirnya ya, setiap masing-masing kalian mungkin memiliki kehendak yang berbeda untuk ending cerita ini. Annyeong…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s