Agar Aku Bisa Memelukmu

Sudah dua tahun rupanya. Aku terus melaju menyusuri jalan dengan mobilku. Baru saja aku sampai di tanah airku tercinta ini. Hmm…udaranya masih sama, segar. Pikirku.
Butuh waktu 2 jam agar aku tiba di tempat tujuan. Ku putar mp3 player mobilku sambil terkenang masa-masa ketika latihan taekwondo bersama dengan teman-temanku, tepatnya adik-adik juniorku, karena pada waktu itu aku lah yang tertua dalam team. Tidak tua kali lah,,,Cuma beda 1 tahun dari beberapa orang diantara mereka.
Oh, sudah di Tebing Tinggi rupanya. Aku memperhatikan sekeliling dari dalam mobil. Tugu adipura kota ini masih mewah berdiri tepat di tengah persimpangan. Aku akan selalu ingat tempat ini. Ini adalah patokan ketika aku dalam perjalanan pulang kampung kalau belum nampak tugu ini maka secara otomatis pikiranku masih berada di Medan. Dan satu hal lagi, sabeum kecilku yang manis juga berasal dari kota lemang ini.
Yuppp aku sampai…
Ku langkahkan kakiku dengan semangat dan senyum yang mungkin sudah terlalu lebar jika dilihat. Aku sangat senang. Aku terlalu senang tepatnya. Aku langsung ke sini tanpa pulang ke rumah dulu, sepatu boots masih terpasang lengkap dengan cout hitamku. Dahsyat ! Nampak sekali aku baru turun dari pesawat, pikirku. Tapi aku terlalu rindu dengan tempat ini, tempat latihanku, dojangku, teman-temanku, dan sabeum kecilku yang manis.
Kak Nina…!!!
Wah,,, mereka terlalu histeris memanggilku yang masih berdiri di depan gerbang sekret samapai aku kaget dan tak bergerak untuk beberapa waktu lamanya.
Hai,,, !!! aku tidak mau kalah dengan teriakan mereka. Mereka mencoba mendekatiku tapi ada satu orang yang langsung memelukku yaitu temanku Yui dan yang satu lagi hanya tersenyum menampakkan gingsulnya dari belakang mereka yang mengkerumuniku. Sangat manis. Pikirku.
Ku dekap temanku, dan ku peluk mereka semua. Hahaha,,,aku terharu dan air mataku jatuh. Kakak rindu sama kalian semua…!!! aku berteriak kencang.
Ku dekati sabeum kecilku yang cuma tersenyum tadi. Kupeluk dan semua orang sontak kaget. Kakak rindu,,,hm,,kakak rindu Hakim. Ku cubit pipinya. Ya, dia menganggapku sebagai kakaknya seperti permintaannya sebelumnya bahwasanya dia ingin aku menjadi kakaknya. Jadi tidak ada masalah kalau aku memeluknya. Tetapi yang tau cuma aku dan adikku ini makanya semua terdiam menyaksikan kami. Hakim juga membalas pelukanku.
Kak Nina darimana? Terus mau kemana? Cantik amat. Tanya salah seorang diantara mereka. Kakak meu ke tempat ini, kenapa? Ku jawab sekenaku. Kakak mau latihan sama kami lagi? Tanyanya lagi. Tidak lah, kakak cuma sebentar di medan, besok pagi kakak mau pulang kampung. Kakak baru dari bandara sebenarnya, lihat nih pakaian kakak apa kalian tidak merasa aneh melihatnya? Kakak bahkan belum mandi selama 14 jam. Aku mencoba membuat lelucon dengan menceritakan kondisiku yang sebenarnya. Toh mereka tidak terlalu menanggapinya juga pikirku. Suami kakak mana? Tanya Hakim tiba-tiba. Suami? Kakak belum menikah. Makanya kakak memeluk kalian semuanya tadi. Kakak terlalu rindu jadinya kakak terlalu bernafsu untuk memeluk kamian semua. Waaah..bahaya kak Nina ini. Tanggapnya lagi. Bahaya apanya? Kan cuma memeluk doang adikku… sambil kucubit pipinya lagi karena duduknya sangat dekat tepat di depanku. Ya iya, bahaya, bagaimana kalau kakak rindu sama pacar kakak, mungkin cerita akan bersambung ke generasi berikutnya. Hakim memperjelas sambil terkekeh-kekeh diikuti sama yang lainnya. Manis sekali dia, gingsulnya jadi kelihatan dan matanya yang sipit menjadi segaris. Untungnya kakak belum punya pacar. Jawabku singkat.
Karena kedatanganku latihan mereka terhenti samapai jam latihan selesai.
Ayo yang mau pulang bareng sama kakak, kakak antar langsung sampai depan rumah. Aku ajak mereka. Dan,,,peminatnya sangat banyak ternyata. Mereka bahkan tidak berhenti bertanya dan berbicara. Mereka benar-benar senang dengan kedatanganku. Itu yang kutangkap dari kejadian itu.
Aku antar mereka satu persatu, mobil yang seharusnya berisi semuat-muatnya 8 orang menjadi 12 orang. Syukurnya tidak ada rajia malam-malam begini. Pikirku tenang. Tinggal satu orang lagi yang rumahnya sebetulnya yang paling dekat. Tetapi atas permintaannya untuk mengantarkan penumpang yang rumahnya sangat jauh dulu sehingga ia menjadi penumpang terakhir di mobilku.
Kak, senang kali lah lihat kak Nina lagi. Udah bertahun-tahun rasanya. Katanya manis dengan logat Medannya. Kakak pulang dari Paris kan? Enak di sana kak? Hakim menanyaiku sampai aku bingung mau bagaimana menjawab pertanyaannya yang sangat banyak. Iya, kakak baru pulang dari Paris. Ini oleh-oleh untukmu. Ku sodorkan kotak kecil berwarna hitam padanya. Bagus juga ideya untuk diantar yang terakhir, karena aku hanya menyiapkan oleh-oleh hanya untuk Yui dan adikku yang manis ini.
Kak ini jam untukku? Tanyanya setelah membuka kotak itu. Iya itu untukmu. Sangat pas untukmu menurut kakak. Keren. Aku memujinya sambil menatap sekilas tepat di matanya. Aku pakai langsung deh, makasi ya kak. Dia tersenyum. Aku pun tersenyum melihat tingkahnya. Aku kelahiran tahun 91 dan Hakim 93, sehingga aku menganggapnya betul-betul adikku yang manis. Namun, tidak kupingkiri kalau aku juga melihatnya sebagai seorang pria. Maksudku aku menyukainya. Itu sebabnya hanya dia laki-laki yang aku peluk di tempat latihan tadi. Yang lainnya hanya high five saja, kecuali para wanita-wanita tangguh yang ada di sana. Aku mengajaknya makan malam, ku sempatkan moment yang sempit ini untuk melepas rindu padanya. Selesai makan, malam sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Kami beranjak pulang.
Kak, maaf kalo aku menanyakan ini lagi. Pintanya. Apa itu Hakim? Aku penasaran. Betul kakak belum punya pacar? Carilah kak… katanya lucu di telingaku. Hm… kakak belum punya pacar. Carikanlah, pria yang kayak Hakim. Balasku. Sejenak dia terdiam dengan pernyatannku. Intan bagaimana kabarnya? Kulanjutkan sebelum dia sempat menjawab dari pernyatannku tadi. Intan berubah kak, dia tidak seperti dulu lagi, yang sumringah kalo malihat aku. Mungkin dia sudah punya pacar. Tapi kakakkan cantik, bagaimana mungkin… katanya lagi. Atau kita saja yang nikah kak. Pernyatannya membuatku terhenti berfikir dan menyetirkan mobilku ke pinggir. Aku menatap Hakim dalam. Hakim serius? Tampaknya tatapanku membuatnya agak takut. Kak, maaf kalau aku salah ucap, aku tidak bermaksud menyinggung kakak. Tapi jujur, aku merasa kehilangan sejak kakak tidak pernah lagi aku lihat. Tapi kakak mungkin tidak menyukaiku dan menganggapku sebagai adik kakak. Aku hanya menyampaikan isi hatiku yang sebenarnya sama kakak.
Sejenak kami terdiam bersama. Aku tidak bisa berfikir jernih karena dia jua menyukaiku. Berarti cintaku tidak bertepuk sebelah tangan dong. Pikirku.
Jadi kapan Hakim akan melamar kakak? Jawabanku membuatnya tersenyum. Aku melihat kebahagiaan di matanya. Kakak mau jadian sama aku? Sejak kapan kak? Oh Tuhan ku, dia betul masih anak-anak pikirku, rasa penasarannya sangat tinggi sekali. Mungkin orang dewasa tidak akan menanyakan hal yang seperti ini lagi, tetapi OK aku jawab saja sejujurnya. Pikirku. Kakak suka sama Hakim sejak pertama kali jumpa dengan Hakim. Serius kak? Selama itu? Kenapa kakak menanyakan kapan aku melamar kakak? Memangnya kakak sudah siap menjadi bagian dariku? Tanyanya lagi. Tuh kan dia sangat manis, adikku yang manis menyukaiku, pikirku. Hm,,serius. Sangat lama ya Hakim…hahaha… agar kakak bisa memluk Hakim tiap hari. Aku hanya menjawab sekenaku. Wajahku memanas ketika dia mendekapku dengan sangat cepat dan itu adalah pelukan yang dalam dan sangat dalam.
Oh God,,thanks for today…sepertinya aku tidak akan bisa tertidur setelah moment plus plus ini…

#ini hanya fiktif belaka, para tokoh dan kejadian tidak pernah ada. lokasi Sumatera Utara (Bandara Kuala Namu, Tebing Tinggi, dan Medan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s