Cinta Dalam Diam (New Vers)

Ku letakkan semua berkas yang sedang ku kerjakan. Sekarang adalah jam istirahat jadi mari tinggalkan pekerjaanmu untuk sementara waktu. Gumamku dalam hati. Aku melangkah riang, senyum-senyum sendiri. Aku melangkah ke kantor rekanku yang tepat di sebelah kantorku sambil membawa kue tart yang kubuat tadi pagi.
Sepertinya bukan waktu yang tepat. Aku terhenti di depan pintunya karena ada seorang wanita di ruangannya. Ku manyunkan bibirku, kayaknya gak jadi deh,,,pikirku. Aku pun kembali ke kantor meletakkan kue tadi dan bergegas keluar lagi mengambil wudhu untuk sholat juhur.Sembari berjalan melewati kantornya mataku melirik ke dalam. Wanita itu masih di sini.
Istirahat 1 jam cukup untukku berbasa-basi dengan rekan-rekan yang lain. Dan 1 jamnya lagi kugunakan untuk menyantap makan siang dan kue yang ku bawa tadi. Baru saja 2 potong kumakan tiba-tiba ada yang masuk ke ruanganku. Iqbal ada apa? Udah sholat? Tanyaku salting. Dia diam saja dan merebahkan badannya di sofa ruanganku. Aku kaget, tidak biasanya dia seperti ini, jadi aku agak menjauh darinya sedikit. Kenapa menjauh? Kamu takut sama aku? Tenyanya seperti mengerti gelagatku. Hehe,,tidak biasanya kamu seperti ini. Jelas ku.
Itu kue untuk ku kan? Kenapa dimakan? Katanya sambil menunjuk kue tart tadi. Aku terkesiap mendengat pertanyaannya. Bagaimana dia bisa tau kalau ini untuknya. Apa yang harus ku jawab. Oh GOD…
Eh, ini bukan untukmu. Aku memang sengaja bawa kue untuk kumakan sendiri. Jawabku bohong. Hmmm,,,cantik kotaknya ya, ku kira itu untuk ku. Kamu tidak mau berbagi denganku? Aku kan sedang di ruanganmu, katanya.
oh! Bentuknya sudah tidak memungkinkan lagi untuk di bagi-bagi. Gimana dong? Aku perjelas padanya karena bentuknya sudah tidak seperti pertama tadi yang masih utuh dan cantik. Sini bagi aku sendok kecil itu. Pintanya. Spontan ku berikan sendok kecil yang ada ditangan ku. Kalau pun ini untuk ku juga tidak apa-apa, yaaa,,,ini kue ulang tahun terjelek yang pernah kuterima dari penggemarku. Katanya yang membuatku membisu sejenak.
Aku tau Iqbal ulang tahun hari ini, oleh karena itu aku membuat kue tart kesukaanku. Sorry, ini kue kesukaanku karena aku tidak tahu dia suka kue apa. Pikiranku melayang.
Kamu ulang tahun hari ini? Sayang sekali aku tidak punya kado untukmu. Kataku pura-pura tidak mengetahui hari lahirnya. Ya,,,hebatnya dirimu. Kita sudah berteman sejak masuk kuliah dan kamu tidak tahu kapan tanggal lahirku. Kalau begitu cepat buat pengingat di hp mu bahwa aku “Iqbal” berulang tahun hari ini. Tandasnya sambil melahap kue.
He? Memang siapa lu benar? Aku bahkan tidak ingat kapan ulang tahun presiden kita. Kataku sambil bercanda. Lagian kita tidak berteman saat kuliah, kita hanya satu kelas dan Cuma say hai saja. Iqbal geleng-geleng kepala mendengar pernyataanku.
Sekarang kondisinya sudah beda, kita tidak sekelas lagi tetapi satu kantor di perusahaan yang sama. Jadi kita harus dekat. Katanya. Tadi kamu ngapain di depan pintu ku, kenapa tidak masuk saja? Katanya lagi dan meletakkan sendok karena kuenya sudah habis dimakan sama Iqbal. Hehehe…iya kita harus dekat, tadi aku hanya lewat dan tidak sengaja melihat ke dalam kantormu. Aku tidak menguping pembicaraan kalian kok. Tadi aku benar-benar cuma lewat. Aku mencoba meyakinkannya. Aku tidak begitu yakin dia akan percaya dengan perkataanku tadi, setidaknya aku punya alasan, pikirku.
Oh… tanggapnya singkat. Aku mau keluar cari angin dulu. Makasi ya cakenya, enak kok walau pun bentuknya ehm ehm… katanya berlalu dan melangkahkan kakinya keluar dari ruanganku. Aku hanya tersenyum.
Jalanan sangat macat jika hari senin dan aku terjebak di dalamnya. Padahal aku berangkat dari rumah sekitar tengah tujuh karena kantor tidak tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Oh my GoD !! parah banget Medan sekarang. Beda banget dengan kondidi pertama aku ke sini.
Aku melepas penatku sebentar baru kemudian melihat berkas-berkas kerjaku. Tak beberapa lama ada seseorang yang lewat di depan ruangan ku. Sepertinya wanita yang kemarin. Sebenarnya dia sering sekali datang ke tempatku bekerja dan dia akan muncul di saat-saat jam istirahat. Aku pernah melihatnya di rumah Iqbal sekitar setahun yang lalu. Apa mereka ada hubungan khusus ya, kalau pun ada ya sudahlah, aku pasrah dalam hati. Dan kembali merapikan meja kerjaku. Aku sangat menyenangi pekerjaanku sebagai back office di Bank Syariah ini, ini sudah lebih dari cukup, aku mensyukuri keadaan ku, jadi aku tidak terlalu ambil pusing dengan keadaan yang ada. Tetapi hatiku tidak bisa membantah bahwa aku rada cemburu. Cemburu tidak jelas. Karena setahu aku Iqbal belum menikah dan belum pernah ku dengar dia punya kekasih, tetapi mungkin sekarang saatnya dia menjalin hubungan. Pikiran ku melayang-layang dan arggghhhh…
Ok. Stop it Nana. Jangan berprasangka yang bukan-bukan. Jodoh ditangan tuhan. Timpalku dalam hati. Aku menyukai Iqbal sejak pertama jumpa kuliah. Bisa anda bayangkan betapa beratnya mempunyai perasaan seperti ini.
Nana, makan yok. Iqbal tiba-tiba muncul di ambang pintu dan aku terkesiap melihatnya karena ada wanita itu di sampingnya. Oh God, wanita itu tersenyum. Ayok, aku sok cuek dengan keadaan yang sebenarnya tidak enak banget ini. Tapi aku harus santai jangan menimbulkan kecurigaan, toh kami adalah rekan satu kantor. Aku menguatkan pikiranku. Syukurnya kami tidak hanya makan bertiga, ada rekan-rekan yang lain juga, so aku bisa lebih rilex.
Aku tetap bertanya-tanya siapa wanita yang manis dan anggun yang ada di sampingnya tersebut. Rekan-rekan yang lain sepertinya sudah kenal. Iqbal lebih dulu diterima di perusahaan ini dibanding aku, jadi mereka sudah terbiasa dengan keberadaan wanita berjilbab besar itu. Cantik kali dia. Timpal ku dalam hati.
Di sela-sela jam istirahat ku sempatkan jalan-jalan ke halaman belakang kantor. Ada berbagai macam bunga hingga tanaman obat-obatan bahkan pohon mangga, jambu dan rambutan juga ada. Benar-benar kantor yang menjaga karyawan dan lingkungannya. Pikirku sekali-kali melayangkan pandangan ke langit biru yang cerah.
Nana. Melamun ya? Atau merindukanku. Kata Iqbal yang tidak kusadari sejak kapan ia ada. Terkadang Iqbal sangat ke Pd an menurutku. Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku hanya berpaling dan melempar senyum kepadanya.
Hei, kamu selalu ada dimana aku ada ya kayaknya. Mungkin kamu yang merindukan ku kali…kataku bercanda. Ku lihat Iqbal mulai mendekat. Tepat di sampingku Iqbal membisikkan “datang ke rumah ku besok jam 9 pagi ya, jangan lupa sholat dulu.” Katanya. Ada acara apa? Tanyaku penasaran. Kemenakan ku besok sunatan, jawabnya santai. Ha! Sunatan kenapa mesti berbisik? Membuat bulu kudukku merinding saja. Kataku sambil tertawa. Merinding? Kok bisa? Iqbal bertanya, tampak dimukanya rasa penasaran kenapa aku bisa berkata begitu.
La iya, ku pikir kamu mau membilang bahwa di sini ada… ih tak jadi ah, seram. Kataku menutup pembicaraan. Aku berlalu meninggalkannya sendirian di taman, jam istirahat sebentar lagi akan berakhir. Hei, Nana, jangan lupa ya minggu besok jam 9 pagi di rumahku. Katanya sedikit berteriak.
Aku tetap melangkahkan kaki sambil tersenyum. Oh GoD, jantungku mungkin akan meledak jika lebih lama lagi berdua dengannya. Itu sebabnya aku pergi. Aku tidak kuat manahan emosi yang akan muncul di wajahku, dan akan membuatku salah tingkah.
Wa’alaykum salam,,,ini Nana kan? Ayak Iqbal menanyaiku setelah aku memberi salam, iya Pak saya Nana. Teman satu kantor Iqbal. Aku menjelaskan. Dari jauh Bapak sudah mengenali wajahmu. Ayo masuk, Iqbal dan lainnya ada di dalam. Aku meng-iyakan kemudian masuk. Aku melihat wanita itu lagi, dia mendekati ku dan memelukku lembut dan mempersilakan ku masuk. Terimakasih sudah datang. Katanya. Aku hanya mengguk dan kuberikan senyum termanisku padanya. Aku dirangkulnya seolah-olah sudah dekat dengan ku dan aku pun tidak keberatan karena dia benar-benar orang yang baik. Beruntung sekali Iqbal mendapatkan wanita seperti dia. Timpalku dalam hati.
Di hari-hari berikutnya aku jadi sering ke rumah Iqbal. Bukan karena inisiatifku sendiri, tetapi karena diundang dan aku datang tidak pernah sendirian melainkan dengan teman-teman satu kantor. Ini menyenangkan dan juga menyakitkan. Aku senang bisa melihat Iqbal seharian dan juga menderita karena menyaksikan wanita yang dekat dengannya. Sepertinya aku mempermainkan hatiku sendiri. Oh Allah,,,aku menadah dalam hati. Aku menyukainya sejak masuk kuliah dan sekarang sudah berkelang enam tahun sejak dari masa itu. aku merasa seperti wonder woman kadang-kadang karena mampu menahan perasaan yang dalam ini.
Air mataku tumpah dalam sujud terakhirku di pertiga malam ini. Aku hanya memohon kesehatan pada_Nya, tetapi tidak ku pungkiri bahwa aku juga sedang memikirkannya. Apa yang salah dengan hati dan jiwa ini Ya Allah, aku dosa jika terus membayangkan yang sudah jelas-jelas tidak akan menjadi milikku. Aku dosa Ya Allah. Aku meneteskan air mata di sejadah biruku.
Nana, what’s up. Sapa seseorang yang di belakangku. Eh Iqbal, baru tiba juga ya. Yok bareng. Ku ajak Iqbal masuk ke kentor. Iqbal mendahuluiku dan menghentikan langkahnya tepat di depanku. Matamu sembab, apa kamu habis menangis? Tanyanya. Hah! Mataku sembab ya? Aku kebanyakan makan semangka tadi malam, tetapi seharusnya sekarang sudah tidak bengkak lagi. Ckckck,,,kataku pada Iqbal. Oh…jawabnya singkat.
Nana, nanti aku antar pulang ya. Pinta Iqbal pada ku. Dan aku meng-iyakan saja agar tidak ketahuan kalau semalam aku menangis karena teringat dengannya.
Ma, aku tidak kuat, aku mau berhenti dari tempat kerjaku. Aku butuh suasana baru. Aku tidak sanggup jika terus melihat wajahnya. Aku benar-benar menyukainya sampai aku bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Aku mencurahkan isi hatiku kepada mamaku yang di seberang saja lewat hp. Tetapi pada intinya mama tidak mengizinkanku mengambil tindakan seperti itu. Katanya itu adalah tindakan yang bodoh dan mau sampai kapan aku harus terus menghindar. Yang terpenting adalah bersabar dan jangan lupa pada Sang Maha Kuasa.
Sudah tiga hari berlalu aku belum juga masuk kantor karena sakit. Mungkin karena terlalu banyak berfikir. Terlalu memikirkan Iqbal hingga seluruh hatiku penuh dengan segala seluk-beluk mengenai Iqbal.
Nana, aku datang ya. Bagaimana keadaanmu. Jika besok lusa kamu belum masuk juga aku akan terus menjengukmu. Iqbal mengirim sms kepadaku. Dia tidak datang sendirian, gumamku ketika melihat mereka memasuki pekerangan rumahku. Hei, mengapa kalian datang? Aku sedang tidak menerima tamu. Aku bercanda pada mereka. Kalau begitu kita pulang saja dan makan semua yang kita bawa itu. ternyata candaanku berbalas sehingga suasana terasa seperti tidak sedang menjenguk orang sakit. Aku bahagia. Bahagia melihat mereka dan melihat Iqbal. Mungkin mama benar, aku hanya perlu bersabar. Semuanya akan baik-baik saja.
Cerahnya hari ini. Aku sangat menyukai hari seperti ini. Aku jadi teringat sohib ku ketika kuliah, dia selalu bilang “sekarang cuma satu orang yang betul bahagia karena cuacanya cerah, sedangkan yang lainnya menderita karena hal seperti ini, hari ini panas sekali” hahaha,,,aku tersenyum sendiri. Kalian membuatku merasa seolah-olah aku senang di atas penderitaan orang lain. Pikirku dalam hati. Hari cerah ini membuatku semakin sehat dan sangat kuat. Entah sejak kapan aku merasa sangat sangat sangat tegar. Aku hanya baru sembuh dari demamku selama satu minggu belakangan. Apa karena aku terlalu lelah dengan semua masalah hati dan jiwaku sehingga aku harus sakit dulu baru bisa merasa setenang ini. Kejadian kemarin baru beberapa hari yang lalu tetapi rasanya sudah berbulan-bulan yang lalu. Jiwaku kembali. Ungkapku dalam hati.
Nana, nanti langsung pulang atau mau jalan dulu? Tanya Iqbal yang berdiri di pintu ruangan ku. Kenapa? Mau ngajak jalan-jalan? Ayok. Aku juga pengen jalan-jalan sebenarnya. Sumpek rasanya otakku. Aku menimpali ajakan Iqbal.
Di taman kami hanya duduk dan melihat ke kanan dan kiri, ada anak-anak yang bermain-main dengan orang tuanya. Ada keluarga yang piknik, macam deh pokoknya. Iqbal bercerita tentang masa kecilnya yang menyenangkan dengan ibu dan ayahnya.
Sekarang mama sudah tidak ada. Katanya tiba-tiba menyadarkan ku dari lamunan. Kamu rindu sama mama kamu? Aku menyakan yang sudah pasti kutahu jawabannya. Iqbal menundukkan kepalanya. Sekarang aku hanya bisa berkirim doa untuknya, belum sempat dia melihatku berkeluarga seperti mereka. Katanya sambil melihat ke arah keluarga yang piknik yang meriah dengan ke dua anak mereka.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataannya. Iqbal adalah orang yang tabah dan kuat, pikirku dalam hati. Iqbal pun tersenyum kepadaku.
Nana, apa kamu sudah punya pacar atau teman dekat laki-laki? Tanyanya yang membuatku agak membelalakkan mataku. Aku harus jawab jujur, itu yang kupikirkan. Teman sich banyak, tetapi yang khusus tidak ada. Yang khusus juga kebanyakan cewek. Ya,,,kamu pasti tahu lah,,mereka siapa,,aku jawab pertanyaannya dengan santai. Kalau sekarang ada yang ingin meminangmu dan menjadikanmu istri apa kamu mau? Tanyanya lagi. Kali ini pertanyaannya membuatku betul-betul sport jantung. Mungkinkah Iqbal mau menikah dengan wanita berjilbab yang anggun itu. pikiranku kembali kemasa-masa yang sudah lalu. Oh God, berakhirlah sudah penantianku terhadapnya. Aku pasrah dalam hati dan bersikap tegar di depan Iqbal.
Liat orangnya dulu, seagama atau tidak, layak jadi pemimpin atau tidak, trus mau menghadap langsung ke orang tuaku atau tidak. Aku menjelaskan pasa Iqbal. Apa kamu menikah? Dengan siapa? Dengan wanita yang sering datang ke kantormu ya? Aku menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaanku. Dia kaget sepertinya. Beruntung sekali kamu Iqbal mendapatkan wanita seperti dia, mendekati sempurna dimataku. Kapan. Kapan kamu melamarnya? Jangan lupa sisakan undangan untukku. Aku akan mendoakan kalian dengan sangat sangat tulus. Kita kan teman dekat. Hihihi…aku bercakap-cakap sendirian panjang lebar tanpa memberi kesempatan kepada Iqbal, karena aku sangat tergoncang dengan pertanyaannya yang begitu. Oh Allah, haruskah aku sakit lagi supa mendapat kekuatan lagi. Tetapi Iqbal hanya terdiam dengan perkataanku tadi.
Hahaha,,,Iqbal tertawa. Lho, kok ketawa? Apanya yang lucu? Aku tidak paham dengan tertawanya Iqbal. Kamu itu betul lugu atau beul-betul bodoh sich? Wanita berjilbab anggun yang mana? Yang sering datang ke kantorku ketika jam makan siang atau jam istirahat itu? hm,,,dia kakak sepupuku, tandasnya. Aku terdiam pendengar penjelasannya. Belum sempat kau bicara Iqbal melanjutkan omongannya. Yang sunatan kemaren adalah anaknya. Dia istri abangku yang pertama, dan kantornya ada di seberang kantor kita. Paham sekarang. Kata-katanya membuatku terdiam. Sesekali aku menoleh ke arah Iqbal. Iqbal sepertinya tersenyum lebar. Apa karena ketidaktahuanku ya. Timpalku dalam hati.
Berarti tinggal satu langkah lagi supaya aku bisa memilikimu ya. Katanya lagi tiba-tiba yang membuatku bingung dan super bingung dibuatnya. Maksudmu apa satu langkah lagi Iqbal? Aku bertanya karena benar-benar tidak paham apa yang barusan dikatakannya. Lalu Iqbal melanjutkan. Aku seagama denganmu, Insya Allah aku pemimpin yang paten, yang belum cuma meminta izin kepada kedua orang tuamu untuk menikahimu.
Aku terdiam beberapa saat. Aku ingin kamu menjadi istriku, kamu mau Nana? Tanyanya lagi. Angin terasa sangat lembut menerpa wajahku. Aku mau menagis. Kamu tidak perlu ragu dengan keluargaku. Aku sudah menceritakan semuanya. Bahkan sebelum acara sunatan kemenakanku. Ayahku sudah mengenalimu dan keluargaku sudah setuju. Tinggal kamu yang belum ku tahu,, katanya lagi.
Oh Allah pantasan ayahnya begitu kemarin menyambutku, dan,,,dan wanita itu juga. Iqbal, aku benar-benar tidak tahu mau bersikap bagaimana. Aku,,. Apa yang harus aku jawab sekarang. Karena bisa kupastikan jawaban ku untuk hari ini dan seterusnya adalah sama saja. Aku menoleh ke arah Iqbal yang menatapku dalam, aku menunduk karena ditatap seperti itu. kamu hanya perlu menjawab “iya” atau “tidak”, katanya.
Sesaat hening kembali. Aku melihat tanah uang ku injak. Aku teringat pesan mama bahwa aku hanya harus bersabar.
Kumantapkan hatiku dan ku tegakkan kepalaku. Aku yakin Iqbal juga merasakan seperti yang kurasakan saat ini. Jantungku serasa mau meledak dan mengakhiri semuanya. Bismillah,,,ucapku dalam hati. Iya, aku mau. Kataku singkat sambil memicingkan mataku. What? Aku tidak mengerti kamu bilang apa? Kamu mau apa? Tanya Iqbal. Ih,,,Iqbal jangan bercanda, rengekku pada Iqbal yang di sampingku. Hahaha,,,iya iya,,sudah kuduga jawabanmu seperti itu, tidak seru, candanya lagi. Jadi kamu mau mendengar jawaban yang kedua ? Tanyaku agak serius. Jangan!! Karena aku juga mengharapakan kamu menjawab dengan kata yang pertama. Katanya sedikit berteriak. Cie,,yang mau dilamar,,cie cie,,, Iqbal bercanda lagi. Hahaha… Iqbal begitu orangnya. Candanya lagi.
Ma, i miss you so much… i can never thank you Ma. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s