Manhattan

Semua mata tertuju padaku atau ini hanya persaanku saja. Mereka membicarakanku. Apakah karena apa yang ku kenakan saat ini. Bukankah ini hal yang wajar. Aku rasa aku baik-baik saja, tetapi tatapan mereka…
Siang ini sangat terik, kalau tidak salah dengar sekitar 37oC begitu yang ku dengar dari tv yang di hidupkan oleh mamaku. Sangat gerah dan gersang, membuatku membayangkan bermacam-macam hal. Ku rasa aku tidak sanggup jika seharian di neraka dengan panas seperti ini selama 24 jam. Karena sekarang saja aku sudah hampir mengutuki hari ini. Pikirku, sepertinya akan turun hujan sebentar lagi atau dua hari lagi. Begitu batin ku menenangkan.
Aku keluar lagi untuk membeli kebutuhan dapur ke pasar. Aku pergi bukan karena keinginanku, melainkan karena disuruh sama mama. Mata-mata itu kembali melirikku, perlahan-lahan semua mata tertuju hanya kepadaku. Atau hanya perasaanku saja. Apa yang salah dengan semua ini. Continue reading “Manhattan”

Advertisements

Besama Kelompok Tani Melati

Tepat pada tanggal 1 Juli 2015 aku bekerja sebagai asisten penyuluh untuk wilayah Labuhan Batu, tepatnya di desa Nahodaris. Parahnya, aku lahir dan besar di kampung ini tidak pernah tahu adanya desa itu. keterlaluan bukan, mendengarnya pun sebelumnya belum pernah.
Sebelumnya aku mau bilang bahwa aku tidak punya pengalaman sama sekali bagaimana cara kerja penyuluh pertanian secara nyata walau pun aku lulusan dari Fakultas Pertanian. Cukup ribet awalnya, karena dari tanggal 1 sampai tanggal 6 kemarin wilayah ku belum tetap alias mereba. Tidak ada yang bisa kuhubungi, teman sekampung pun mendadak sombong. Entah apa salah diri ini Tuhan…begitulah aku mengeluh sedikit. Baru tanggal 7 semalam aku jumpa PPL dan ketua poktan tempatku ditugaskan.
Sebenarnya aku grogi dan ketakutan. Trauma bimbingan skripsi beberapa bulan yang lalu masih membekas di ingatanku. Bagaimana kalau mereka sangar? Bagaimana kalau mereka tidak mau membantuku? Bagaimana kalau? Kalau? Dan kalau? Sebegitu parahnya efek dari bimbingan skripsi sama dosen pembimbing dan dosen penguji. Bahkan aku sempat berfikir “bagaimana kalau aku pulang saja dan tidur”. Aku berniat memutar balik seepeda motorku untuk pulang ke rumah. Apakah aku sudah menyebutkan kalau waktu mau bimbingan skripsi dulu aku punya pepatah sendiri “sekali mau melangkah maju, rasanya sepuluh kali mau mundur”?. Ya, begitulah perasaanku kemarin.
Jarak yang ku tempuh dari rumah ke lokasi adalah 25 km. Anda bayangkan sendiri saya cewek yang belum genap 24 tahun naik sepeda motor sendirian menempuh jarak segitu jauh, dan jalan yang ditempuh adalah jalan kebun, no aspal. Belum lagi kondisi sedang puasa, debu masya Allah,,, terik matahari lagi. Tapi begitu sampai di lahan/ lapangan semua seolah-olah terbayar dengan pemandangan bentangan langit cerah yang luas banget, angin sepoi-sepoi sampai kerudung berkibar-kibar. Hahaha…
Beberapa kali bolak-balik rumah-lapangan membuat kulitku yang udah gelap kian menjadi bertambah gelap. Aku sempat mengambil beberapa foto bersama para mereka. Untuk pertama kalinya aku diantar oleh ayahku, kemudian kedua kalinya tepatnya tanggal 7 kemarin aku diantar oleh adikku.
Semoga program ini berlanjut, aku senang semua senang. Berikut foto-foto yang aku sebutkan sebelumnya.

Untukmu

Petunjuk: dengarkan lagu Jean Baptiste Maunier & Clemence – Concerto Pour Deux Voix, kemudian bacalah tulisan ini. Semoga anda bisa menikmatinya.

Terlalu sering mengingatmu membuatku berfikir apakah kamu juga demikian terhadapku. Aku tidak tahu ini termasuk kategori apa. Rindu beratkah? Atau hanya hasrat sesaat yang kutahu sebenarnya adalah jebakan perasaan yang salah. Aku hanya mengingatmu dan mengingatmu. Membayangkan wajah dan suaramu. Kamu manusia yang sholeh, beriman, dan pintar. Entah ada yang lain selain dari yang kusebutkan barusan aku tidak tahu, karena kita tidak dekat. Itu hanya penilaian dariku.

Wajahmu bercahaya. Pernah sekali kudengar dengan jelas seorang teman kita bertanya padamu bagaimana caranya agar tidak meninggalkan sholat, dan kamu menjawab dengan mengatakan agar menganggap ibadah sholat itu sebagai makanan kita. Tetapi tahukah kamu pada waktu itu aku belum bisa menerima jawabanmu yang singkat itu. Bagaimana mungkin ? sholat ya sholat, makan ya makan.

Tetapi sejak dari situ aku Continue reading “Untukmu”