Untukmu

Petunjuk: dengarkan lagu Jean Baptiste Maunier & Clemence – Concerto Pour Deux Voix, kemudian bacalah tulisan ini. Semoga anda bisa menikmatinya.

Terlalu sering mengingatmu membuatku berfikir apakah kamu juga demikian terhadapku. Aku tidak tahu ini termasuk kategori apa. Rindu beratkah? Atau hanya hasrat sesaat yang kutahu sebenarnya adalah jebakan perasaan yang salah. Aku hanya mengingatmu dan mengingatmu. Membayangkan wajah dan suaramu. Kamu manusia yang sholeh, beriman, dan pintar. Entah ada yang lain selain dari yang kusebutkan barusan aku tidak tahu, karena kita tidak dekat. Itu hanya penilaian dariku.

Wajahmu bercahaya. Pernah sekali kudengar dengan jelas seorang teman kita bertanya padamu bagaimana caranya agar tidak meninggalkan sholat, dan kamu menjawab dengan mengatakan agar menganggap ibadah sholat itu sebagai makanan kita. Tetapi tahukah kamu pada waktu itu aku belum bisa menerima jawabanmu yang singkat itu. Bagaimana mungkin ? sholat ya sholat, makan ya makan.

Tetapi sejak dari situ aku terus berusaha untuk menemukan jawaban yang tepat agar aku juga bisa sepertimu, dan terus berusaha. Aku dengan kekurangan ku masih terus berharap adanya kamu di sisi ku. Bahkan ketika kamu menuliskan sesuatu di sosmed aku langsung membayangkan seandainya itu untukku. Ya seperti itulah. Apakah ini terlalu dalam? Entahlah…

Pernah sekali kamu mengajak aku untuk pulang bareng dan kamu menawarkan boncengan sepeda motormu. Aku menolaknya dengan alasan aku lebih suka jalan. Itu adalah alasan terkonyol yang pernah kuucapkan. Kamu terus mengajak dan aku yang keras kepala tetap menolak ajakanmu. Tahukah kamu itu adalah penyesalan terbesarku karena setelah itu dan seterusnya hingga saat tulisan ini aku publish kamu tidak pernah lagi mengajakku nebeng. Penyesalan memang datang terlambat.

Tahukah kamu, kamu adalah inspirasi ku untuk mengetahui banyak hal lagi, hingga aku seperti orang gila yang kehilangan arah untuk melabeli diriku agar aku setara denganmu. Begitulah perasaanku agar aku layak menjadi temanmu paling tidak. Dan itu adalah pikiran terkonyolku. Karena apa? Karena hingga sampai saat tulisan ini aku publish kita bahkan tidak berteman layaknya sahabat.

Sebenarnya aku sangat ingin dekat denganmu karena kamu orang yang baik dan tidak pelit (ilmu). Itulah yang aku tahu. Sayangnya aku terlalu minder sehingga aku sering curi-curi pandang denganmu. Mungkin kamu tidak tahu atau tidak menyadarinya. Karena aku selalu mengambil tempat yang jauh darimu.

Dan sekarang kita sudah tidak berjumpa lagi. Aku tahu tempat kerjamu, aku juga tahu bagaimana kondisimu saat terakhir kemarin aku melihatmu menangis. Mungkin kamu tidak menyadarinya. Hanya saja, aku yang selalu memikirkanmu ini terkadang menyesali perbuatanku ini. Ya Allah ini dalah dosa, memikirkan yang bukan muhrimku. Ya seperti itu.

Kamu orang yang baik dan kelak akan mendapatkan yang baik pula. Kamu mungkin sudah mempunyai seseorang yang akan melengkapimu. Yaitu orang yang sama baiknya denganmu, dan pastinya sangat jauh lebih baik jika dibandingkan denganku. Aku mendo’akan kebaikan dan kesehatan untukmu.

Setiap kali aku teringat denganmu aku sekuat hatiku menghentikannya dengan mengingat Tuhanku yaitu Allah SWT. Maafkan aku. Dan terimakasih karena membawaku ke tahap ini. Aku benar mensyukuri hal yang pernah ku dengar dahulu dari mulutmu langsung. Aku mendo’akan kebaikan dan kesehatan untukmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s