Manhattan

Semua mata tertuju padaku atau ini hanya persaanku saja. Mereka membicarakanku. Apakah karena apa yang ku kenakan saat ini. Bukankah ini hal yang wajar. Aku rasa aku baik-baik saja, tetapi tatapan mereka…
Siang ini sangat terik, kalau tidak salah dengar sekitar 37oC begitu yang ku dengar dari tv yang di hidupkan oleh mamaku. Sangat gerah dan gersang, membuatku membayangkan bermacam-macam hal. Ku rasa aku tidak sanggup jika seharian di neraka dengan panas seperti ini selama 24 jam. Karena sekarang saja aku sudah hampir mengutuki hari ini. Pikirku, sepertinya akan turun hujan sebentar lagi atau dua hari lagi. Begitu batin ku menenangkan.
Aku keluar lagi untuk membeli kebutuhan dapur ke pasar. Aku pergi bukan karena keinginanku, melainkan karena disuruh sama mama. Mata-mata itu kembali melirikku, perlahan-lahan semua mata tertuju hanya kepadaku. Atau hanya perasaanku saja. Apa yang salah dengan semua ini.
Hampir setiap hari seperti itu. aku merasa dibuntuti, seperti diintimidasi oleh beberapa orang yang kebetulan berpapasan denganku di kompleks ini. Aku tidak ingin keluar rumah lagi jika hingga besok lusa seperti ini lagi.
Aku menemui mamaku yang tengah asyik menonton reality show “Eksis” kesukaannya. Dia bilang karena hostnya Hendra Herlambang. Kuurungkan niatku menanyakan hal ini padanya karena mama sangat menikmati nontonannya. Jadi kuputuskan untuk nanti malam saja sekalian ayahku juga sudah pulang dari kantor. Pikirku. Aku pun duduk di samping mama ikut menonton tayangan tersebut.
Aku terkejut dengan penjelasan dari kedua orang tuaku mengenai hal ini. Bagaimana mungkin aku tidak mengingat semuanya dan ketika sadar aku sudah berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.
Kami pernah tinggal di California sejak aku SD kelas 3 hingga SMA kelas 2. Setelah itu pulang ke Indonesia dikarenakan keadaanku. Aku yang dulu sangat bebas, selalu mengenakan pakaian yang kurang bakal, celana yang dingaja melorot dan super ketat. Pulang larut malam, pesta hampir tiap malam, hingga suatu hari aku jatuh sakit dan orang tuaku putus asa untuk mengobatkanku.
Jika ingin sembuh harus ada niat sendiri yang kuat dari orangnya. Begitulah kata seorang dokter yang sempat kudengar dibalik pintu kamarku kala itu kepada mama. Aku tidak tahu apa selanjutnya.
Kemudian mama bilang, aku berdoa dengan mata terpicing jika aku sembuh nanti aku kan mengenakan kerudung dan menutup auratku dan memperbaiki hidupku. Dan itu adalah saat-saat kritisnya hidupku. Begitu mamaku menceritakannya padaku. Aku hampir tidak percaya jika keaadaannya memang demikian. Tetapi pantas juga orang-orang memandangku dengan pandangan yang demikian. Sepertinya mereka juga tidak percaya dengan apa yang ada dihadapan mereka, sama seperti aku yang hampir tidak percaya dengan apa yang telah ku alami.
Note: “manhattan” hanya terpikir begitu saja. Mengatakannya membuatku langsung terpikir seoarang gadis yang tobat. Kurasa cukup demikian. See you later. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s