Aku Ingin Pergi

Pagi ini aku kembali menatap langit yang sama. Berharap pada langit untuk mendengarkan ceritaku.

Tidak muluk-muluk, aku hanya ingin langit menampung semua keluh-kesah ku. Karena langit tidak akan pernah penuh.

Langit yang sama yang kutemui di luar jendela rumah ku. Engkau membawa kedamaian, lapisan awan yang tipis memperindah penampilan mu. Aku selalu berharap bisa seindah dirimu, bisa setinggi dirimu.

Setidaknya aku ingin punya sayap supaya bisa menikmati ketinggianmu.

Langit, aku tidak sanggup berjalan di bumi, angin nya terlalu kencang, bumi bertabur duri sehingga kakiku sering terluka. Aku meringis karenanya.

Bumi aku ingin terbang, tetapi Sang Pencipta tidak mengizinkan. Dia menegaskan aku punya tangan dan kaki. Aku tidak sanggup Dia bilang sanggup. Aku tidak sehat Dia bilang aku sehat.

Langit, aku ingin pergi. Pergi jauh sebelum fajar menyingsing, jauh sejauh mata memandang.

Tetapi tahukah engkau langit, setiap kali aku melangkah ternyata aku masih di bumi.

Sejauh-jauhnya pandanganku ternyata masih tampak batas lautan.

Langit, warnamu masih saja sama tetapi matahari sudah terlalu panas.

Aku ingin pergi ke tempat yang bukan seperi bumi. Supaya kakiku tidak berdarah, supaya aku tidak terhuyung -huyung oleh angin.

Langit, masihkah engkau mendengar cerita ku, atau engkau sedang mendengar cerita orang lain.

Engkau selalu diam saat aku menghampirimu.

Langit, aku benar-benar ingin pergi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s