Durhaka kah Aku? 

Puncaknya siang itu jam 11.40 wibb, minggu 21 Agustus 2016.

Semula aku menyetrika seragam sekolah adik -adikku dan seragam mengajar ayahku. Ibu bertanya kenapa tidak ada panggilan dari gudang ikan tempat aku dan adik perempuanku kerja partime, kemudian ibu tiba-tiba ngomong bahwa si Asiong menelpon. Tadi ibu tidak sengaja me missed call nya. Begitu kata ibu melanjutkan.

Kami sontak terkejut, tidak terkecuali temanku yang kebetulan ada di rumah kami pada saat itu. Awalnya aku bicara agak pelan, tapi setelah ibuku bilang kalau dia melakukannya karena kasihan pada temanku (yang lain) karena tidak ada kerjanya selain kerja di gudang itu aku jadi agak emosi dan tanpa kusadari hal itu membuat ibu menjadi sedih hingga menangis. Aku bilang pada ibu untuk tidak ikut campur dengan urusan kerjaan kami, ngapain mengurusi anak orang lain, biarkan kenapa, itukan masalah kami dengan kerjaan kami, ibu tidak mesti ikut campur. Begitu aku menyahuti perkataan ibu pada waktu itu. 

Ibu menagis hingga kejadian-kejadian lama yang telah lewat diungkitnya kembali. Aku bahkan sudah hapal bagaimana perjalanan hidupnya. Tetapi aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatinya. Aku hapal betul bagaimana masa kecilnya karena ibu sering bercerita, aku hapal apa saja hal yang telah dilaluinya hingga sekarang waktu ia menangis. Aku tahu semuanya yang dikatakannya. 

Aku memang lain dari saudara-saudaraku yang lain. Aku keras kepala, pelawan, dan paling kejam wajahnya juga aku. Aku menyadari hal itu. Berlarut-larut kami dalam perdebatan yang sepertinya tidak akan habis jika salah satu dari kami tidak ada yang mau mengalah.

Satu hal yang membuat aku terdiam adalah ketika dia bilang bahwa dia sebenarnya bercanda tentang telepon tadi. Aku sudah terlanjur marah dan untuk meminta maaf saat itu juga sangat sulit bagiku. Aku belum bisa menerima ucapannya. Ibu bercandanya berlebihan, aku kelepasan bicara karena aku merasa malu di umur yang sudah cukup dewasa ini ibu masih ikut turun tangan padahal itu adalah hal yang biasa. Begitulah pikirku sehingga aku tidak bisa meminta maaf padanya saat itu juga. 

Perdebatan masih berlangsung hingga merambah ke hal-hal lainnya. Bagaimana tidak, aku selama ini diam dan mendengar saja, aku tidak pernah mengupat atas apa-apa yang telah aku lakukan dan aku beri. Aku tidak pernah bercerita pada orang lain bagaimana keadaanku selama ini. Aku tidak pernah memperlihatkan bagaimana sakitnya aku, dan aku masih salah. 

Aku masih menjawab atas setiap kata -kata yang diucapkan oleh ibu, aku tidak tahan mendengarnya lagi setelah sekian lama aku pendam sendirian. Aku tidak bermaksud untuk mengungkit masa lalu dan apa -apa yang telah aku berikan. Akan tetapi, alur pembicaran ibuku sudah menyebar entah kemana-mana hingga aku khilaf mendengarnya. 

Ternyata ibu selama ini bicara pada tetangga bahwa ia menggunakan uangku dalam jumlah yang banyak, dan ia berencana untuk membayarnya kembali nanti. Ibu bilang padaku bahwa kami tidak pernah ikhlas membantunya dan memberinya uang. Kemudian aku jawab bahwa dimana pun ibu tanya pada setiap anak, maka anak mana yang tidak ingin membelanjakan dan menyimpan uangnya sendiri,,, tapi aku tahu kondisi kami saat ini, dan aku rela melakukan apa pun itu untuk membantunya. Ibu tetap saja melanjutkan omongannya sendirian tanpa menoleh sedikit pun ke arah ku. 

Ingin aku berteriak sekeras – kerasnya pada ibu tapi apa daya aku sangat menyayanginya dan rela apa pun untuknya hanya saja aku tidak tahan lagi dengan segala ucapannya saat ini. 

***

Berbulan-bulan telah berlalu, keadaan di rumah baik-baik saja dan tidak ada masalah. Jika kamu hadir di tengah-tengah kami saat ini kamu akan berkata bahwa masalah yang kemarin telah kelar dan sekarang sedang menjalani hari-hari yang rukun. Begitulah kami yang lalu telah berlalu dan hanya menjadi kenagan saja di masa lalu. 

Hari ini ibu pulang agak siang. Aku bertanya ibu darimana, apa ibu sudah makan. Ibu bilang kalau dia baru pulang dari bank dan sudah makan tadi. Ibu menyodorkan amplop coklat kepada ku yang ternyata berisi sejumlah uang. Ibu langsung berkata bahwa ini adalah uang untuk mengganti uangku dulu yang pernah terpakai. Aku terdiam kaku di depan ibu. Apa maksud ibu memberikan uang ini pada ku. 

Aku terpikir dengan kata-kata ibu beberapa bulan yang lalu bahwa ia akan mengganti uang gajiku. Aku masih terdiam, apa yang harus aku lakukan dengan uang ini, bagaimana aku harus bersikap pada ibu. Jujur aku kecewa pada ibu. Aku kan sudah bilang kalau aku rela dan ikhlas sekarang apa pun ceritanya. Tapi ibu mengungkit kembali cerita yang seharusnya sudah dilupakan itu. 

Aku tidak tahu harus bagaimana, ibu tetap memaksa ku untuk menerima uang ini dan aku pun menurutinya. Malamnya aku sudah siap dengan barang-barang ku. Besok subuh-subuh sekali aku pergi. Itulah rencanaku. 

Aku letakkan surat di atas kaca hias ibu yang intinya aku sangat menyeyanginya dan yang lainnya. Terlebih kepada ibu sebagai seorang teman berbagi dan juga selalu dapat diandalkan sebagai seorang ibu. 

Aku pergi. Ibu membalikkan uangku berarti ibu ingin mengakhiri semuanya dengan ku. Berarti ibu sudah tidak punya hutang lagi padaku. Begitulah fikirku. 

Aku pergi tanpa ku tahu apakah ibu selama ini menderita karena ku, apakah ibu tidak sayang pada ku. Durhakakah aku seperti ini pada ibu. Semoga hari-hari kalian tentram tanpa aku. 

Mohon ampuni aku bila aku durhaka, Ibu. 

Ku akhiri surat ku. 

Aku Hanya Perlu Diam Kan.

Mereka menatapku dalam. Aku merasakan adanya kebencian yang sangat di mata mereka. Tatapan yang tajam menusuk hingga ke sembilu hatiku. Aku merasakannya. Sebegitu bencinya kah mereka padaku.

Aku sering mendengar pembicaraan mereka yang mengatakan kalau aku aneh. Aku tidak mengganggu mereka, atau pun membicarakan hal-hal yang tidak baik tentang mereka. Yang kutahu karena satu kali aku tidak terlibat dengan mereka aku langsung menjadi bahan perbincangan. Bukankah mereka yang sebenarnya aneh.

Hari ini aku agak terlambat pulang ke rumah, aku akan mananam bunga di pekarangan dan mengambil tanah pembakaran yang telah lama menimbun. Kemarin aku baru saja menghilangkan bibit tanaman yang aku dapat dari temanku. Aku sangat kecewa dan menyesalinya. Bagaimana bisa aku seceroboh itu. Kemudian aku akan memangkas tanaman pagar yang sudah tumbuh tidak beraturan. Aku melangkah lagi dengan mantap.

Aku sudah melakukan semua hal yang yang mereka inginkan, terlebih lagi ibuku.

Hati-hati ya, jangan serakah, fikirkan baik-baik,,,semua itu yang sering ibu bilang padaku. Dan setiap kali aku mendengarnya seolah-olah aku telah melakukan kesalahan yang fatal. Ibu hanya bicara sepertinya  itu padaku, tidak dengan saudara-saudaraku. Sesekali aku ingin pergi dari rumah dan menjauhi mereka. Namun, aku mempertimbangkan beberapa hal yang tidak bisa diputuskan begitu saja jadi aku diam saja dan ikut tertawa ketika mereka tertawa.

Perkiraanku meleset. Aku tidak bisa menanam bunga hari ini, aku juga tidak bisa mengambil tanah pembakaran seperti yang aku rencanakan tadi sebab hujan turun dengan derasnya. Hujan membuat kami berkumpul seperti tidak terjadi apa apa. Semua tampak normal dan ini sangat menyenangkan.

Pernah sekali ibu memberi tahu bahwa aku tidak perlu dekat dengan seseorang di luar sana. Aku bingung bagaimana bisa dia juga ingin mencampuri urusan pribadi ku. Memikirkannya pun aku tidak pernah dan ia sudah memulai perang dengan batinku. Berar rasanya menerima keadaan yang seperti sekarang, aku baru saja memulai. Tetapi bagaimana bisa seperti itu.

Aku pikir ada alasannya.

Satu hal yang membuat aku menerima keputusannya adalah keberadaannya di dekatku malah membuatnya menderita dan sakit yang tiada hentinya padahal aku harusnya melindunginya. Aku putuskan aku yang akan menjauh karena dia selalu baik – baik saja atas apa yang telah terjadi padanya.

Tapi aku pastikan aku akan kambali ketila aku sudah bisa melindungimu. Aku pergi tidak akan lama,,

Aku tidak membenci kalian aku hanya tidak mengerti dengan anggapan kalian yang selalu mengatakan aku aneh.

Kudapati Diriku Dalam Renungan

Pun sekarang tiada guna ku kenang lagi, tahun demi tahun sudah berlalu dan kini ku dapati diriku duduk termenung di depan pintu menjelang maghrib. Tidak seberapa lama adzan pun berkumandang.

Air mata ku mangalir perlahan. Terkenang masa – masa yang telah lalu betapa bahagianya aku dengan saudaraku satu – satunya dan kedua orangtua ku. Aku masih ingat ketika aku di gendong ayah di bahunya sambil ku tutup wajah ku karena aku tidak ingin dilihat orang lain. Aku masih ingat ayah selalu menguncir rambutku bahkan setiap habis mandi. Ayah selalu bercerita padaku, entah itu dongeng atau pun petuah masa lalu, cerita nenek moyang katanya.

Senja ini hening udara terasa sangat bersih. Aku ingat ibu selalu membuat makanan, rasanya selalu sesuai dengan lidah ku. Ibu suka memasak, dalam seminggu hampir tiap hari ibu membuat cemilan. Kolak, apem, naga sari, godok – godok,  lepat pulut, ah,,, aku tidak ingat semuanya. Oh iya ada lagi, bubur putri mandi, ongol-ongol, buah malaka, keripik pisang, pisang rebus, bahulu sampai tapai. Semuanya tidak bisa aku sebutkan satu persatu.

Aku masih ingat abang selalu membelikan baju baru untuk ku kalau dia punya uang banyak. Abang selalu melindungiku sekaligus mengajariku bagaimana mengenali orang sekitar. Abang selalu bilang bahwa setiap orang adalah orang baik pada awalnya nya, hanya saja tetap harus waspada.

Aku juga masih ingat kehidupan kami yang dulu. Tidak berada tapi indah dan bahagia. Aku sering pindah sekolah karena orang tua kerjanya beladang. Ladang kami sangat jauh dari kampung halaman. Sehingga harus pindah setiap kali menjelang panen. Aku tidak menyesalinya karena dimana pun aku berada selalu ada teman teman yang baik. Aku tidak menyesalinya karena bagaimana pun aku bisa membaca, menghitung, menulis dan mengaji.

Aku bersyukur ketika aku mengingat semua hal yang telah ku lalui ketika kecil dulu.

Aku tersadar dari lamunanku, air mataku perlahan mengalir. Mengingat kenyataan bertahun – tahun telah berlalu. Entah bagaimana ini semua secara tiba-tiba rasanya dan kini aku sudah berkeluarga dan menempati rumah sendiri. Rumah yang besar dengan banyak anak. Aku bahagia ketika aku melihat anak-anakku sekaligus aku beesedih karenanya. Entahlah.

Aku ingat bagaimana aku di besarkan dengan sangat baik oleh kedua orangtua ku dan aku terapkan pula untuk mendidik anak-anak ku. Tetapi mengapa aku masih menangis?  Adakah yang belum selesai di sini, apa yang belum ada di kehidupan ku ini.

Sesaat aku kembali menangis mengingat masa masa itu. Penuh tawa, tidak pernah banyak tapi semua kedapatan. Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana dulu waktu itu.

Kini ku dapati diriku dalam renungan. Anakku yang paling besar sudah 24 tahun usianya. Sudah bekerja demikian juga dengan adiknya juga sudah bekerja.

Dalam senja yang hening ini aku bertanya apa yang membuat ku masih menangis dalam lamunan?