Kudapati Diriku Dalam Renungan

Pun sekarang tiada guna ku kenang lagi, tahun demi tahun sudah berlalu dan kini ku dapati diriku duduk termenung di depan pintu menjelang maghrib. Tidak seberapa lama adzan pun berkumandang.

Air mata ku mangalir perlahan. Terkenang masa – masa yang telah lalu betapa bahagianya aku dengan saudaraku satu – satunya dan kedua orangtua ku. Aku masih ingat ketika aku di gendong ayah di bahunya sambil ku tutup wajah ku karena aku tidak ingin dilihat orang lain. Aku masih ingat ayah selalu menguncir rambutku bahkan setiap habis mandi. Ayah selalu bercerita padaku, entah itu dongeng atau pun petuah masa lalu, cerita nenek moyang katanya.

Senja ini hening udara terasa sangat bersih. Aku ingat ibu selalu membuat makanan, rasanya selalu sesuai dengan lidah ku. Ibu suka memasak, dalam seminggu hampir tiap hari ibu membuat cemilan. Kolak, apem, naga sari, godok – godok,  lepat pulut, ah,,, aku tidak ingat semuanya. Oh iya ada lagi, bubur putri mandi, ongol-ongol, buah malaka, keripik pisang, pisang rebus, bahulu sampai tapai. Semuanya tidak bisa aku sebutkan satu persatu.

Aku masih ingat abang selalu membelikan baju baru untuk ku kalau dia punya uang banyak. Abang selalu melindungiku sekaligus mengajariku bagaimana mengenali orang sekitar. Abang selalu bilang bahwa setiap orang adalah orang baik pada awalnya nya, hanya saja tetap harus waspada.

Aku juga masih ingat kehidupan kami yang dulu. Tidak berada tapi indah dan bahagia. Aku sering pindah sekolah karena orang tua kerjanya beladang. Ladang kami sangat jauh dari kampung halaman. Sehingga harus pindah setiap kali menjelang panen. Aku tidak menyesalinya karena dimana pun aku berada selalu ada teman teman yang baik. Aku tidak menyesalinya karena bagaimana pun aku bisa membaca, menghitung, menulis dan mengaji.

Aku bersyukur ketika aku mengingat semua hal yang telah ku lalui ketika kecil dulu.

Aku tersadar dari lamunanku, air mataku perlahan mengalir. Mengingat kenyataan bertahun – tahun telah berlalu. Entah bagaimana ini semua secara tiba-tiba rasanya dan kini aku sudah berkeluarga dan menempati rumah sendiri. Rumah yang besar dengan banyak anak. Aku bahagia ketika aku melihat anak-anakku sekaligus aku beesedih karenanya. Entahlah.

Aku ingat bagaimana aku di besarkan dengan sangat baik oleh kedua orangtua ku dan aku terapkan pula untuk mendidik anak-anak ku. Tetapi mengapa aku masih menangis?  Adakah yang belum selesai di sini, apa yang belum ada di kehidupan ku ini.

Sesaat aku kembali menangis mengingat masa masa itu. Penuh tawa, tidak pernah banyak tapi semua kedapatan. Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana dulu waktu itu.

Kini ku dapati diriku dalam renungan. Anakku yang paling besar sudah 24 tahun usianya. Sudah bekerja demikian juga dengan adiknya juga sudah bekerja.

Dalam senja yang hening ini aku bertanya apa yang membuat ku masih menangis dalam lamunan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s