Aku Hanya Perlu Diam Kan.

Mereka menatapku dalam. Aku merasakan adanya kebencian yang sangat di mata mereka. Tatapan yang tajam menusuk hingga ke sembilu hatiku. Aku merasakannya. Sebegitu bencinya kah mereka padaku.

Aku sering mendengar pembicaraan mereka yang mengatakan kalau aku aneh. Aku tidak mengganggu mereka, atau pun membicarakan hal-hal yang tidak baik tentang mereka. Yang kutahu karena satu kali aku tidak terlibat dengan mereka aku langsung menjadi bahan perbincangan. Bukankah mereka yang sebenarnya aneh.

Hari ini aku agak terlambat pulang ke rumah, aku akan mananam bunga di pekarangan dan mengambil tanah pembakaran yang telah lama menimbun. Kemarin aku baru saja menghilangkan bibit tanaman yang aku dapat dari temanku. Aku sangat kecewa dan menyesalinya. Bagaimana bisa aku seceroboh itu. Kemudian aku akan memangkas tanaman pagar yang sudah tumbuh tidak beraturan. Aku melangkah lagi dengan mantap.

Aku sudah melakukan semua hal yang yang mereka inginkan, terlebih lagi ibuku.

Hati-hati ya, jangan serakah, fikirkan baik-baik,,,semua itu yang sering ibu bilang padaku. Dan setiap kali aku mendengarnya seolah-olah aku telah melakukan kesalahan yang fatal. Ibu hanya bicara sepertinya  itu padaku, tidak dengan saudara-saudaraku. Sesekali aku ingin pergi dari rumah dan menjauhi mereka. Namun, aku mempertimbangkan beberapa hal yang tidak bisa diputuskan begitu saja jadi aku diam saja dan ikut tertawa ketika mereka tertawa.

Perkiraanku meleset. Aku tidak bisa menanam bunga hari ini, aku juga tidak bisa mengambil tanah pembakaran seperti yang aku rencanakan tadi sebab hujan turun dengan derasnya. Hujan membuat kami berkumpul seperti tidak terjadi apa apa. Semua tampak normal dan ini sangat menyenangkan.

Pernah sekali ibu memberi tahu bahwa aku tidak perlu dekat dengan seseorang di luar sana. Aku bingung bagaimana bisa dia juga ingin mencampuri urusan pribadi ku. Memikirkannya pun aku tidak pernah dan ia sudah memulai perang dengan batinku. Berar rasanya menerima keadaan yang seperti sekarang, aku baru saja memulai. Tetapi bagaimana bisa seperti itu.

Aku pikir ada alasannya.

Satu hal yang membuat aku menerima keputusannya adalah keberadaannya di dekatku malah membuatnya menderita dan sakit yang tiada hentinya padahal aku harusnya melindunginya. Aku putuskan aku yang akan menjauh karena dia selalu baik – baik saja atas apa yang telah terjadi padanya.

Tapi aku pastikan aku akan kambali ketila aku sudah bisa melindungimu. Aku pergi tidak akan lama,,

Aku tidak membenci kalian aku hanya tidak mengerti dengan anggapan kalian yang selalu mengatakan aku aneh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s