Terlalu Rindu

Pagi itu dengan semangat yang tinggi aku melangkahkan kaki. Berharap bertemu denganmu. Aku kenakan pakaianku yang sesuai dengan yang kamu sarankan yaitu baju yang longgar dan panjang dengan warna biru pastel. Aku pun hanya memoles sedikit riasan di wajah ku karena aku tahu kamu tidak menyukai yang makeup tebal. Di depan pintu aku mengenakan sepatu hak tinggi yang baru aku beli.

Seperti hendak berlari aku melangkah, ini adalah hari dimana kita berjanji untuk bertemu. Ku usahakan agar aku terlambat sedukit agar tidak ketahuan betapa terlalu rindunya aku pada mu.

Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan ku, aku yakin sekali kalau sekarang wajah ku pasti sumringah terus.

Tetapi semuanya sia-sia. Aku kembali dengan menunduk, siang ini sangat panas dan terik. Ditambah lagi kamu baru saja bilang bahwa kamu sedang otw ke bandara. Tepatnya kamu akan segera berangkat ke Jogja. Aku ingin berteriak kencang tetapi ini di pemberhentian bus. Aku katakan bahwa aku gembira mendengar keberangkatan mu, aku bilang bahwa aku lebih senang mendengar kabar baik itu daripada kita harus berjumpa, tapi bisakah kamu mendengar suara ku yang sebenarnya? Aku…

Aku benci dengan diriku sekarang. Aku membenci diriku yang terlalu besar angan untuk bertemu denganmu. Aku benci diriku yang selalu menurutkan perasaanku. Aku benci diriku yang tidak tahu diri ini. Siapa aku bagimu? Aku harus nya menanyakan dulu padamu.

Tetapi aku terlalu merindukanmu hingga aku lupa bagaimana seharusnya aku. 

Advertisements

Masa Kecil Part-2

Ini dimasa-aku belum masuk sekolah dasar.

Berati ini kembali kemasa yang lebih lalu lagi ya. Aku tidak bisa menuliskannya menjadi alur maju. Begitu aku teringat langsung aku tuliskan. Karena keseringan kalau aku menunggu untuk berurutan dan tampak sempurna malah gak akan jadi terlaksana. Jadi selamat menikmati ceritaku yang alurnya maju-mundur ini.

Jarak kelahiranku dengan adikku cuma 1 tahun, sehingga kami besarnya sama. Malah besaran dia mungkin karena adikku laki-laki. Adikku cakep banget. Dia visual laki-laki di keluarga kami. Dia mirip Ibuk ku, wajahnya kebarat-baratan persis seperti Ibuku. Yang aku tahu kakekku (ayah dari Ibu) adalah keturunan belanda. Rambutnya merah, kulitnya putih dan matanya coklat muda. Ok. Stop.

Karena kami sebaya, kami sering bersama. Walau aku tinggal bersama nenek dan kakekku, aku cukup sering ke rumah orang tuaku. Aku tidak punya teman bermain sebaya dilingkunganku makanya aku bermain sama adikku. Kami sering tukaran baju. Hahaha,,,

Sebelumnya sudah aku bilangkan kalau aku ini pesolek banget, hobby dandan dan suka baju yang baru-baru, tetapi urusan bagaimana model dan potongan bajunya aku tidak pernah permasalahkan yang penting baru. Udah. Jadi nenekku yang punya kendali memilih baju yang bagaimana untukku. Jadi bajuku hampir semuanya baju kembang. Tahu lah ya…

Parahnya aku sering pakai baju kembang (karena cuma itu yang ada) dan adikku pastinya baju kaos dan celana pendek. Begitu aku sampai di rumah ortu ku langsung kami tukaran baju, adikku suka banget memakai baju kembang ku dan aku sangat suka memakai celana pendek adikku. Juga…adikku sering memintaku untuk melepas sepatu ku, ya itu karena dia suka banget. Jadinya kami juga tukaran sepatu. Dia pakai semua punyaku dan aku memakai semua punya adikku. Setelah itu kami pun jalan-jalan keliling perumahan. 

Adikku PD banget dengan penampilannya, aku sesekali melirik ke arah orang -orang yang mengejek kami. Ada juga yang aku ajak berantem karena mengejek adik ku. Tapi adik ku tidak mempermasalahkannya. Waktu itu aku tidak tahu mengapa orang -orang meledek kami. Yang ku tahu adik ku sangat menyukai baju ku.

Pernah juga waktu itu adik ku memakai gaun ku yang berwarna otak udang juga memakai sepatu hak tinggi ku yang berwarna merah. Kami tertawa bersama sambil bermain di bawah pohon kelapa di samping rumah ibu, ketika adik ku berlari sambil mengelilingi pohon kelapa dia jatuh terus hak tinggi ku patah sebelah rumit nya. Hahaha… Bukannya takut kena marah kami malah ketawa. Aku suruh adik ku mematahkan yang sebelahnya lagi. 

Ini cerita di masa aku belum bersekolah,,,nenek ku sering membuat bubur putri mandi untuk kami. Warnanya putih, hijau dan merah. Indah banget waktu itu.

Ingin Jadi Model

Keseringan manusia tidak tahu bagaimana porsinya dan kemampuannya. Manusia yang ku maksud di sini adalah diriku sendiri. Aku sering lupa bagaimana aku dan bagaimana kondisi sekitarku karena selalu asik dengan diriku sendiri. Karena aku adalah hak dan tanggung jawab atas diriku sendiri ya jadilah aku manusia yang bebas. Kalau tidak salah kalimat barusan ada di pelajaran PKn deh, tentang Hak dan Kewajiban kayaknya, haha.

Sudah ku bilang aku itu bebas. Bebas bagaimana maunya aku, sakin bebasnya aku punya keinginan untuk menjadi Model Profesional??? Ah gila memang, tampang pas-pasan, tinggi semekot alias semeter kotor, tampilan kucel, tidak bisa makeup sendiri, porsi badan macam ulat bulu yang gak ada langsing-langsingnya, bakat juga gak punya, ya ampun kalau didengar teman- temanku ini habis lah aku dapat ejekan. Tapi kalau hanya sekedar bermimpi saat ini gak ada yang salah toh juga gak ada yang bisa melarang aku. Jadi aku sangat menikmatinya dan berharap juga ini menjadi kenyataan. Perbandingan kemungkinannya 99% tidak terkabul dengan 1% kemungkinan terkabul.

Saat ini aku mulai belajar makeup seperti yang para model gunakan, bukan makeup kantor yang sehari2 aku gunakan. Itu langkah pertama ku. Aku juga sedang menabung untuk membeli sepatu hak tinggi, karena sepatu ku tinggi tumitnya rata- rata 3cm sampai 5cm.

Satu hal yang aku sangat sadari dari mimpiku ini adalah banyaknya harga yang harus aku keluarkan untuk tampil cantik dan semua itu butuh proses.

Jadi, apa mimpi kalian? Silakan tulisakan. 

Aku Rindu Kamu yang…

Aku rindu kamu yang selalu memarahiku

Aku rindu kamu yang selalu menegurku

Aku rindu kamu yang selalu memintaku untuk sabar.

Mungkin kamu tidak tahu,,,

Betapa kecewanya aku ketika kamu mulai menyerah terhadapku

Aku kecewa karena kamu hanya melihat kesalahanmu

Dan betapa kecewanya aku terhadapmu ketika ku tahu kamu tak lagi ada di sisiku.

Aku kecewa pada diriku sendiri

Masa Kecil part-1

Hanya karena sebuah lagu aku kembali ke masa lalu, masa – masa indah yang seperti diceritakan banyak orang. Sangat indah memang.

Ingatanku dimulai dari acara pernikahan Ibu  ku (tutur Ibu dari anak kakek aku yang lain). Aku paling senang dengan acara-acara seperti ini, aku suka pesta dan baju baru hahaha… Setiap ada pesta keluarga maka bagianku adalah menyiapkan bunga rampai, membuat hiasan ruang tamu dan pentas, karena aku masih kecil sekali waktu itu jadi dua itu saja yang bisa aku lakukan dan yang pastinya cuma itu yang mereka izinkan. Aku pun memakai gaun baru yang dibelikan nenek, sungguh aku senyum saja sepanjang hari, terus aku pakai parfum nenek ku yang wanginya itu aku sukaaaaaaa banget, parfumnya wangi melati. Kalau aku ingat-ingat kenapa dulu aku suka sekali wanginya, padahal sekarang kalau menghirup wangi melati langsung aku merinding hiiii, hahahaha,,,

Selain gaun baru nenek juga membelikan sepatu baru, trus ada kipas-kipas juga, gak perlu model terbaru yang penting barangnya baru. Hahaha,,,pokoknya aku merasa pesta itu adalah pestaku. Aku selalu siap dengan pewarna bibir warnanya pink, tapi satu hal yang aku tidak suka adalah orang menggerepe grepe rambutku. Rambutku tebal, hitam, lurus dan panjang. Aku pasti minta dikuncir saja sama nenek, aku tidak suka disasak kayak pengantin gitu.

Setelah siap bunga rampai sama hiasan pentas, nah…di hari H nya aku menjadi tukang kipas pengantin. Ini bagian yang paling aku suka, aku akan terus di samping pengantin, mengkipas mereka, kipasnya pelan-pelan banget, trus di poto. Hahaha…mengikuti pengantin dari belakang membagikan bunga rampai kepada para tamu dan annasyid, waw…apa gak capek ya?! Ya gak la,,kan aku senang.

Jadi kalau ada acara pesta saudara dekat atau pun pesta tetangga dekat rumah, ya seperti itulah aku. Oh iya satu lagi, kenapa nenenkku mengabulkan permintaanku yang minta baju baru sama sepatu baru? Itu karena nenekku cuma punya satu orang anak, yaitu ayahku. Ketika aku lahir, umur 4 bulan aku sudah tinggal sama nenek karena dia gak ada anak lagi. Lagian amak dan ayahku lebih sering di luar rumah karena mereka bekerja. Maka jadilah aku anak nenek hingga umur 8 tahun. Jadi dapat disimpulkan bahwa kebahagiaanku di setiap pesta hanya sampai usia 8 tahun di kelas dua SD, karena nenek berpulang ke rahmat Allah SWT.

Tidak Akan Pernah Diperhitungkan

Sekeras apa pun usahamu untuk memperjuangkannya, sebagus apa pun rencana yang telah kamu susun. Cukup terimalah apa yang menjadi hasil akhirnya. Kamu mungkin pernah mendengar istilah “semakin lama semakin cinta, semakin jauh maka semakin rindu”. Aku tidak pernah tahu bagaimana pandangan mereka terhadapku. Aku rasa mereka benar-benar tulus menerimaku yang seperti ini.

Sayangnya tidak seperti yang diharapkan. Mereka tetap tidak melirik ke arahku. Tidak pernah, itulah yang aku lihat selama ini. Ah,,,ya sudahlah. Tetaplah seperti ini, walau mereka begitu. Toh aku sudah memilih jalanku sendiri. Mereka tetap merindukan dan memuja – muja mu yang jauh di sana, sedangkan aku yang di sini tidak berarti apa-apa.

Salah Kira

Sekitar jam dua siang kemarin senin 6-feb-2016 aku ke koperasi desa yang jaraknya 30km dr rumah ku. Memang disengaja karena ada yang mesti aku tanyakan, gak bisa kalau gak langsung. Sampai di tempat aku lihat ada ibu-ibu yang mijit-mijit keningnya, sedang bingung kayaknya. Aku tidak ingin ikut campur dalam masalahnya tapi aku pengen tahu apa masalahnya. Pelan-pelan aku duduk mendekat sedikit, bisa dibilang kalau aku itu sedang “nguping”.

‘jadi Dek, belum bisa la aku ambil pinjaman sekarang? Ah, yang mananya yang betul, jangan la kau tipu aku. Jauh kali aku ke sini lo’ begitu yang ku dengar.

‘iya Bu, karena saldo investasi Ibu belum memenuhi syarat, setidaknya seratus tiga puluh ribu lagi la,,,dua ratus pun gaknya kenapa itu Bu’ kata mbak-mbak kasir yang disitu lembut sambil bercanda.

‘tapi kan udah cukupnya ku hitung, bulan pertama sekian ditambah ini terus ini, mana yang tidak cukup dek? ‘kata Ibu itu lagi sambil menunjuk-nunjuk buku rekeningnya.

Si Mbak ku lihat tersenyum. Sesaat ia mendengarkan Ibu itu kemudian bilang ‘Maaf ya Bu, saldo Ibu ini’ kata si Mbak sambil menunjukkannya sama si Ibu, kemudian melanjutkan ‘sedangkan syarat untuk mengajukan pinjaman adalah sekian, jadi masih kurang kan Bu’ gitu kata Si Mbak.

Aku faham dengan apa yang ditanyakan si Ibu,,faham banget pun. Karena Mamak ku juga pernah seperti itu. Hahaha,,,aku pikir banyak yang salah faham di sini. Tapi ya sudahlah, semua orang yang mau jadi nasabah sebelum bergabung sudah diberi kesempatan untuk bertanya selama tiga bulan penuh. Tapi apalah daya kalau sudah omak-omak kampung namanya “yang ponting copat cairnya” itulah ungkapannya.

Setelah urusan si Ibu selesai masuk antrian berikutnya. Si Ibu belum juga pergi, wajahnya masih tampak bingung. 

Yang aku tahu belakangan ternyata si Ibu sudah punya rencana mau bayar hutang. Si Ibu berani ngutang buat buka usaha mie nya dan menjanjikan akan melunasi hutangnya tepat tiga bulan setelah usahanya jalan dan itu bertepatan dengan hari ini. Si Ibu sudah merencanakan jauh-jauh hari mengenai ini dengan anggapan semua akan berjalan mulus sesuai rencana.

Allah Maha Besar atas segala hambaNya, rencana si Ibu tidak berjalan sesuai rencana dan tidak ada yang bisa disalahkan. Mamakku ku juga pernah mengalami ini, mengalami salah pengertian ini. Jelas-jelas saldo yang tertera di buku rekening memang menunjukkan angka yang pas,,,tetapi tidak sampai seperti si Ibu. Mamak berminat minjam karena belum pernah menggunakan uangnya tersebut sedangkan mamakku sudah mendapat bonus di dalamnya.

Si Ibu menyadari betapa kelirunya ia. Ia berkali-kali melihat buku tabungannya tersebut. Allah adalah sebaik-baik perencana. Jika saja si Ibu menyadari hal ini lebih dulu, maka gak perlu si Ibu buka usaha dengan modal awal hutang kalau akhirnya memang mesti ngutang juga ke koperasi. Atau si Ibu memang harus melalui hal itu agar ia lebih bersabar.

Terimakasih telah baca 😃