Terlalu Rindu

Pagi itu dengan semangat yang tinggi aku melangkahkan kaki. Berharap bertemu denganmu. Aku kenakan pakaianku yang sesuai dengan yang kamu sarankan yaitu baju yang longgar dan panjang dengan warna biru pastel. Aku pun hanya memoles sedikit riasan di wajah ku karena aku tahu kamu tidak menyukai yang makeup tebal. Di depan pintu aku mengenakan sepatu hak tinggi yang baru aku beli.

Seperti hendak berlari aku melangkah, ini adalah hari dimana kita berjanji untuk bertemu. Ku usahakan agar aku terlambat sedukit agar tidak ketahuan betapa terlalu rindunya aku pada mu.

Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan ku, aku yakin sekali kalau sekarang wajah ku pasti sumringah terus.

Tetapi semuanya sia-sia. Aku kembali dengan menunduk, siang ini sangat panas dan terik. Ditambah lagi kamu baru saja bilang bahwa kamu sedang otw ke bandara. Tepatnya kamu akan segera berangkat ke Jogja. Aku ingin berteriak kencang tetapi ini di pemberhentian bus. Aku katakan bahwa aku gembira mendengar keberangkatan mu, aku bilang bahwa aku lebih senang mendengar kabar baik itu daripada kita harus berjumpa, tapi bisakah kamu mendengar suara ku yang sebenarnya? Aku…

Aku benci dengan diriku sekarang. Aku membenci diriku yang terlalu besar angan untuk bertemu denganmu. Aku benci diriku yang selalu menurutkan perasaanku. Aku benci diriku yang tidak tahu diri ini. Siapa aku bagimu? Aku harus nya menanyakan dulu padamu.

Tetapi aku terlalu merindukanmu hingga aku lupa bagaimana seharusnya aku. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s