Terlambat 

Ketika ku bertanya mengapa seperti ini, mengapa harus begini. 

Aku memang tidak pernah berserah padaMu, 

Aku terlalu sombong,

Aku hanya percaya dengan apa yang aku lihat tanpa ku sadari penglihatan ini adalah pemberian Mu. 

Aku tidak pernah bersedekah, 

Yang orang lain lihat mungkin hal yang mulia, tetapi aku menyadari apa yang aku lakukan. 

Aku tidak pernah mendengar sekeliling ku selama ini.

Seharian hanya mengutuki yang berbicara, tanpa ku sadari sebelumnya bahwa aku lah penyebab keributan. 

Aku tidak pernah tersenyum kepada siapa pun padahal ku tahu bagaimana mereka melembutkan pandangan mereka kepada ku. 

Karena ku pikir mereka ada maunya saja, tidak ku sadari bahwa aku lah yang selalu menyebabkan mereka repot.

Sakit rasanya saat ini. 

Saat dimana aku menyadari bahwa semua telah berlalu. 

Pelarian yang Sia – sia

Dalam pelarian ku sadari

Engkau sengaja 

Dalam pelarian ku sadari

Engkau tidak menginginkanku 

Dalam pelarian ku sadari 

Engkau telah melupakan ku

Dalam pelarian ku sadari 

Tidak ada aku di dunia mu

Dalam pelarian yang panjang ini

Mengapa baru ku sadari 

Baru ku sadari setelah lewat separuh dunia ku lalui

Baru ku sadari aku berlari engkau anggap sia-sia.

Aku Hanya Harus Berlari kan 

Banyak hal begitu mudah bagimu 

Mengapa bagiku itu terasa sangat sulit 

Engkau melangkah dengan mudahnya

Mengayunkan kaki mu yang jenjang semakin membuatku sangat sulit untuk selalu berada di dekatmu

Aku mengasihani diriku sendiri

Aku merasa sendirian

Aku terus mengejar mu hingga dadaku menyempit dengan deru nafas yang putus – putus 

Tetap saja jarakmu begitu jauh di depan ku. 

Aneh,, 

Aku masih terus mengejarmu

Ada harapan yang besar untuk Sang Kuasa 

Kiranya Ia memberi keajaiban

Aku terus mengejarmu hingga ku tidak sadar ke arah mana engkau melangkah 

Aku hanya harus terus berlari 

Penantian 

Seseorang yang aku kenal 

Seseorang yang aku beri hati ku untuknya 

Seseorang yang aku selalu ada untuknya 

Aku sudah berharap terlalu jauh 

Berharap lebih

Aku hanya membuat lubang di hatiku 

Semakin aku mencoba menutupnya semakin besar lubang nya. 

Aku masih saja menunggumu

Melewatkan siulan angin yang berlalu 

Ku lihat dua pasang kaki melewatiku

Menoleh pilu ke arah ku. 

Apa mereka tahu dengan keadaan ku 

Aku tidak menginginkan tatapan mereka yang seperti itu untukku 

Aku hanya menginginkan sebuah kabar dari mu

Burung saja terbang ada temannya 

Mengapa aku yang di sini hanya… 

Aku akan menunggu

Terus menunggu 

Walau setelah kamu pergi dariku. 

Ketika Dalam Gelap 

Hati ini semakin gelap.

Di malam tanpa setitik cahaya menambah tebalnya gelap yang menutupi hati. 

Semakin suram aku rasa.

Aku ingin mendengar suaramu karena aku tidak dapat melihat mu dalam kegelapan. 

Mendengar mu walau bukan memanggil nama ku.

Itu yang aku rasa sejak kamu pergi.

Hanya dalam terang aku dapat melihat belakang mu. 

Berharap dalam remang agar ku dapati bayangmu. 

Rindu Ini Terlalu Berat

Malam ini aku masih seperti malam kemarin. 

Rembulan tidak lagi utuh di atas sana. 

Perlahan ia menipis membentuk sabit yang indah hingga akhirnya habis ditelan gelap. 

Hilangnya rembulan masih ter gantikan dengan kehadiran butiran bintang 

Dan langit tetap dalam keindahan nya. 

Tahukah engkau bagiku itu semua sama saja karena kamu tidak di sini. 

Dan malam masih sama seperti malam – malam kemarin. 

Aku hanya bisa terus bertanya, kapan bait-bait puisi ku berisi cerita kebahagiaan,

Aku masih bertanya kapan bait – bait puisi ku berisi cerita cinta dan semangat yang terus tumbuh seiring bersamamu. 

Orang – orang juga bosan mendengar keluh – kesah yang tidak ada habisnya ini. 

Aku pun mencoba menghindar karena ini. 

Rindu ini terlalu berat.