Jodoh Tak Kemana 5

Berteman dengan seorang idol?

Hayo,,, kalian mungkin harus punya wajah seperti aku. Kenapa aku bilang seperti itu. Percakapan kami tadi itu masih ingat kan? 

“aku mempercayai mu, aku bisa lihat dari wajah dan matamu ”

Kalimat itu adalah penutup dari pertemuan singkat kami di bus hijau. Itu dia yang menggunakankannya padaku. Aku hanya berterima kasih dan kami berpisah karena arah tujuan kami berbeda. 

“suatu saat kita jumpa lagi, jangan segan untuk bicara pada ku, kamu bisa percaya pada ku ” dia akhirnya berbicara, itu yang di ucapkannya sebelum berpisah tadi. 

“bye bye cingu ya.. “lanjutnya lagi

“bye bye, jaga kesehatan mu, aku menantikan karya-karya kalian” aku melambaikan tanganku dan dia agak berlari. 

Dia menganggap aku sebagai temannya.

Aku masih terus berjalan. Waktu lima belas menit bisa membuatku bertemu teman baru yang sangat berharga. 

OK, fine. Di sekitar sini banyak menjual alat-alat musik dan toko elektronik. Aku memasuki satu persatu tetapi tidak berapa lama aku langsung keluar, bukan karena tidak ada yang ingin aku beli, hanya saja pemilik atau penjaganya tidak asik. Sederhana banget ya alasannya. Aku mau bertemu orangnya atau alat musik yang dijualnya. Hahaha… Namanya juga pelancong yak… Kagak ape-ape la… Begitu gaya Ust. Yusuf Mansyur kalau lagi ceramah. 

Sorry melarat lagi ceritanya. 

Aku makan dulu, aku memilih untuk makan cheesecake sama hot chocolate saja, karena akan melanjutkan jalan-jalan lagi.

Aku pernah bilang kan kalau wanita Korea itu bak boneka berjalan. Jangankan wajahnya, kuku mereka juga. Ya Allah… Cantik banget mak eeeee.. Nail art nya itu loh… Aku cuma bisa pakai inai, susah kalau pakai kutek mah.

Sebenarnya mereka sangat sopan pakaiannya, bukan seperti yang dilihat di TV, drama atau acara musik gitu. Kebanyakan wanitanya pakaiannya longgar kok, jeans juga panjang. Ini realitanya. 

Aku melanjutkan perjalanan ku yang sudah aku tetapkan arahnya. Aku mencari gitar. Aku sengaja mau beli di sini, aku sudah pernah cari di Medan tetapi tidak dapat seperti yang aku inginkan. 

Aku melewati beberapa toko kemudian menghentikan langkah ku tepat di depan toko yang sebenarnya modern banget tetapi terkesan antik. Aku masuk ke dalam, yeokshi… Penjaganya biasa aja, gak langsung tergopoh menghampiri aku, tidak langsung menanya apa yang aku ingin beli. Asik kan,, iya lah,,, gini baru. Pikirku. 

Aku tidak merasa terbebani harus membeli sesuatu di sini. Aku mengangguk ke arahnya yang sedang menyapu pelan. Anggukan ku dibalas kemudian memberi isyarat kepada ku untuk melanjutkan apa yang ingin ku lihat di tokonya.

Tidak berapa lama, dia menanyakan hal serupa dengan teman baru ku yang aku dapat di bus tadi. 

“nona dari mana? ” begitu tanyanya. 

“aku dari Indonesia ” aku jawab dengan bahasa Korea yang membuatnya agak kaget dan tersenyum. 

“aku senang anda bisa berbahasa Korea, aku agak kesulitan jika harus berbahasa Inggris.” jawabnya dengan sedikit menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal itu. 

“jika anda ingin tahu sesuatu, dengan senang hati akan saya bantu sebisa saya ”

“terimakasih, sebenarnya saya….” aku menceritakan apa yang ada di kepala ku hingga terjadi obrolan ringan diantara kami. 

Sebenarnya pengunjungnya bukan aku saja, ada beberapa pasangan juga. Aku bilang sekali lagi dia itu asik banget, tamu yang lainnya juga diperlakukan sama seperti aku hingga terbentuk satu kelompok yang isinya orang asing semua. Keren kan…. 

Mereka duluan pergi setelah menemukan apa yang mereka cari. 

“nona, sebenarnya aku bekerja di sini sudah lebih dari sepuluh tahun” katanya memulai pembicaraan, kemudian melanjutkan “dulu aku di PHK, toko ini pemiliknya mempunyai sebuah agensi, tetapi tidak ada yang tahu kalau aku tidak memberi tahu ”

“hmmm,,, betah kerja di sini? “aku menanyakannya lagi. 

“nona, tidak ingin tahu siapa pemiliknya?” dia malah nanya balik. 

“tidaklah, untuk apa. Aku hanya ingin tahu, apa yang membuat anda tahan bekerja di sini? Aku sangat penasaran.” aku mengulang pertanyaan ku. 

“itu karena pemiliknya yang sangat baik, sopan dan sangat menghargai orang lain seperti saya ini. 

“tidak ada paksaan, tidak ada membedakan, dia juga yang melatih saya bagaimana bersikap dengan orang baru. Nama saya adalah… ” begitu dia melanjutkan.

Aku banyak mendengarkannya, dan kami saling tukar pikiran. 

Ctak!! 

Pintu toko terbuka sedikit. 

“itu keponakan dari pemilik toko ini ” jelas paman penjaga toko. 

Aku hanya bisa berkata WaW… 

Nikmat Tuhan mu yang manakah lagi yang akan kau dustakan. 

Itu yang terfikir di otakku. 

Aku tahu kalau aku tidak bisa berkedip, hanya tubuhku yang berputar mengikuti kemana arahnya. Aku jelas-jelas melihatnya dari jarak yang sangat dekat menyapa paman itu. 

“nona, anda sangat beruntung bisa melihat salah satu pemilik toko ini.” kata si paman 

“nona,, nona,, anda baik-baik saja? Nona,,, “si Paman menepuk bahu ku yang membuat aku sadar dari lamunan ku. 

“eh iya Paman…aku baik-baik saja. Mimpi apa aku semalam Paman? ” si Paman berhasil aku buat bingung dengan bahasa Indonesia ku yang jelas dia tidak mengerti. 

“hahaha,, saya yakin sekali anda mengenal tuan tadi, karena dia idol” kata Paman lagi. 

Gak usah dijelaskan aku sudah tahu semuanya, bahkan tiap tahun aku mengucapkan selamat hari lahir untuknya di SNS ku.

Aku melihatnya dengan sangat jelas, dia berjalan ke arah aku dan Paman. 

“ada yang bisa kami bantu nona? ” dia bersuara, giginya yang rapi terlihat sempurna. 

Si Paman, menaikkan alisnya dan dengan segera aku kembali menguasai diriku. 

“senang bertemu lagi nona ” katanya 

“iya, itu anda kemarin yang di toko kaset kan yang..yang.. Topi. Jaket. Hitam ” ketahuan sekali aku gugupnya. 

Dia hanya tersenyum.

“kenapa tidak berteriak seperti yang lainnya? ” pertanyaan itu lagi, tadi di bus pernyataan dari idol cewek bahwa ia senang karena aku tidak histeris dan sekarang pertanyaan pula. 

“tidak perlu, aku tidak ingin sakit tenggorokan hanya karena melihat kalian. ” jawaban ku membuatnya dan Paman tercengang. 

Nikmat Tuhan mu yang manakah lagi yang kamu dustakan.

Itu saja yang ada di pikiran ku saat ini. 

Lagi-lagi kami bertukar kontak dan nomor HP sampai SNS, bahkan dengan Paman. 

“jangan bingung Paman, kami sudah bertemu kemarin di toko kaset” kata nya pada Paman karena heran dengan obrolan kami. 

“itu hari pertama saya di Korea Paman ” aku menjelaskan. 

Ooo… Hm… 

Si Paman cuman bergumam 

“aku habis pulang latihan, langsung menuju toko kaset yang dekat taman sungai, Paman” katanya lagi menjelaskan 

“apa kamu tidak histeris? Seingat saya, tuan muda bercerita bahwa wanita…maksud saya anda tepat berada di depan tuan muda waktu itu?” tanya Si Paman

“saya tidak ingin mengacaukan toko kaset itu dengan suara saya, tetapi setelah dia keluar sepertinya Orang-orang menyadari hal itu dan bersuara… “aku menjelaskan. 

Aku mendengar mereka berbicara tetapi aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. 

Kami tertawa, Paman membawakan minuman botol untuk kami bertiga dan pembicaraan masih berlanjut. 

Aku menceritakan kedatangan ku di Korea adalah untuk mengisi cuti tahunan ku. Aku juga menceritakan keinginan ku untuk membeli gitar yang bentuknya mirip dengan gitar si Juniel penyanyi solo wanita Korea. Semua aku ceritakan hingga tentang teman baru ku yang aku temukan di bus tadi.

“aku punya teman baru, dia junior anda dalam satu agensi, sekarang kami berteman. ” aku memberi tahu dia dan paman. 

“oh ya, mungkin paman juga kenal” paman ikut menimpali setelah meneguk minumannya. 

“paman pasti kenal, dia sendiri yang merekomendasikan aku untuk datang ke toko ini, tetapi ia tidak bercerita siapa pemilik toko ini ” aku menjelaskan lagi pada mereka. 

“dia mempercayaimu, kalau begitu aku juga mempercayaimu.” “paman juga ” mereka bergantian berbicara. 

“aku sudah sangat lama di sini, nanti pengunjung yang lain terganggu. Aku pamit dulu ” aku pamit untuk pulang. 

“besok datanglah lagi ya ” paman meminta ku. 

“maaf paman, besok jam sepuluh pagi aku sudah harus berangkat dari penginapan karena jadwal pesawat ku jam satu siang.” aku menjelaskan “terimakasih banyak, kedatangan pertama ku di Korea sangat berkesan, saya akan menghubungi kalian besok lagi” aku meneruskan, ku lihat wajah paman agak kecewa dengan peryataan ku barusan. 

“kenapa tidak dari awal kamu langsung ke sini Nami, Paman sangat senang bertemu dengan nona Nami.” kata paman. 

“saya juga paman” aku jawab. 

“tuan muda, tolong antarkan nona Nami ke halte bus, dan beritahu rutenya.” perintah paman. 

“iya paman, kami pergi dulu.” kami pamit pada paman. 

“hati-hati nona Nami” kata paman lagi, kali ini ia melambaikan tangan ke arah kami. 

“jangan sungkan ya untuk berbicara dengan ku, panggil aku oppa karena aku lebih tua dari mu.” kata oppa pada ku. 

“kalau sudah sampai di penginapan langsung kabari oppa atau paman ya.” perintah oppa lagi. 

“iya oppa, aku mengerti. Salam buat junior oppa ya. Juga salam buat member oppa, jaga kesehatan, aku menantikan karya-karya oppa.” aku pamitan pada oppa kemudian langsung masuk ke dalam bus.

Aku lihat oppa melambai-lambaikan tangannya hingga aku lihat ia menghilang di tikungan jalan. 

Oh iya, haltenya sepi kalau masih jam empat sore, jadinya oppa tidak memakai penyamaran seperti waktu di toko kaset kemarin. 

Ini hari berkesan banget. Aku langsung menuliskannya ke dalam diary ku. Tak lupa pula aku mengabari paman, oppa dan teman baru ku bahwa aku telah sampai di penginapan. 

Baru saja terkirim sms ku, si teman baru langsung menelepon. Kami masih sempat ngobrongobrol panjang, aku menceritakan keberuntungan ku bertemu idol di toko kaset yang juga ternyata adalah keponakan dari agensi mereka sendiri. 

Untuk teman baru ku, aku sangat berterimakasih karena direkomendasikan ke toko alat musik yang sangat spesial banget. Ini perjalanan pertama yang waw dan wah la pokoknya. Terimakasih banyak banyak. 😄

Jodoh Tak Kemana 4

Ini sudah hari ke empat, hari ini aku putuskan untuk lebih banyak di rumah karena angin di luar bisa dikatakan lebih kencang dari kemarin -kemarin, kalau pun aku ingin berjalan mungkin cuma jalan di sekitar penginapan aja.

Drrrt drrrt… Drrrt drrrt…

Aku mencari hp ku yang bergetar. Ternyata di bawah bantal ku sendiri. Begitu aku angkat langsung kedengaran jerit seseorang di seberang sana. Nami…. Nami ya seperti itu. Temanku berteriak memanggil namaku si seberang sana. Aku sedikit menjauhkan Ponsel yang ku pegang dari telinga ku, sangat berisik dan terlalu kuat. Aku hanya bisa kekeh mendengar teriakannya. Temanku Desy menelepon untuk pertama kalinya setelah aku beberapa hari di Korea. Desy menghujaniku dengan bertubi – tubi pertanyaan. Mulai dari kabar hingga ia menanyakan oppa -oppa Korea itu beneran tampan seperti di drama atau tidak.

Continue reading “Jodoh Tak Kemana 4”

Jodoh Tak Kemana 3

Aku memilih untuk duduk di sudut ruangan dekat dinding kaca yang pemandangannya langsung menghadap pasar, sehingga aku bisa melihat orang -orang lewat. Karena aku merasa sangat lelah untuk langsung berjalan lagi maka aku putuskan untuk istirahat sambil makan dan membaca buku yang barusan aku beli tadi. Aku memesan udon dan tteokbokki, pas banget kan jadi akan membutuhkan waktu yang banyak untuk menghabiskan kedua menu yang aku pesan. 

Seorang wanita seumuran ibu ku datang membawakan baki pesanan ku, lengkap dengan air putih dan pelengkap atau semacam garnishnya. Senyumnya sangat ramah, dia memakai penutup kepala yang diikatkan di belakang kepalanya, celemeknya berwarna pink motif bunga -bunga kecil. Sambil membungkuk ia mengucapkan selamat makan untukku. 

Hampir satu jam lebih aku hanya duduk dan mengunyah makananku. Aku kembali melirik arloji ku, ah sudah sore. Kemudian aku melihat ke arah jalanan yang mulai ramai lagi. Ada banyak anak sekolah yang melintas, ada beberapa orang dengan seragam kantor juga lewat. Aku kagum, sudah sore mereka (anak sekolah) masih sangat rapi dan sangat tertib. Terlintas di benakku betapa jaunya perbedaan yang aku saksikan sekarang dengan kenyataan anak sekolah di tempatku.

Wah,,, beneran aku ingin pindah warga negara rasanya. 

Aku selesai dengan makananku. Sebenarnya masih ada yang ingin aku beli lagi tetapi itu tidak mungkin sekarang. Aku pun memutuskan untuk pulang saja ke penginapan.

Setelah lelah berjalan seharian semalaman aku hanya mengenang kembali apa saja yang telah aku lakukan sepanjang hari ini, ahh menyenangkan sekali. Aku memutar memori ku lagi lagi dan lagi hingga aku teringat dengan peristiwa di toko kaset tadi.

Aku yang sangat dekat sekali tadi dengan pria stelan hitam, matanya… Maksud ku sorot tajam matanya yang sangat sipit yang kalau dipandang seperti sedang mengintimidasi. Ya seperti itu. Aku kenal betul orang itu, bukan kenal sich,,, hanya saja aku mengetahui banyak hal tentangnya di internet karena dia seorang idol, juga dia tadi wangi banget, wangi parfumnya lengket di jaket yang aku gunakan tadi, sayang banget kalau sampai tercuci. Hahaha sampai segitunya.

Kalau jodoh tidak akan kemana. Kututup mataku mengakhiri jalannya hayalanku. 

Jodoh Tak Kemana 2

Aku meninggalkan toko kaset dan kembali berjalan melewati beberapa toko hingga mata ku tertuju pada satu toko buku yang tepat di sebelah kanan ku. Tempatnya agak sepi, mode klasik. Begitu aku masuk ternyata bukan hanya buku yang dijual ada juga bunga. Ini toko komplit banget dan suasananya romantis banget. Di belakang ku ada dua pria yang masuk, yang satu pria tua dan yang satunya lagi sekitar dua puluhan, soalnya muda banget dari wajahnya dan juga penjaganya cuma satu orang, seorang wanita yang anggun banget mengenakan dres warna mint lembut. 

Continue reading “Jodoh Tak Kemana 2”

Jodoh Tak Kemana 1

Ini pagi yang cerah, cahaya matahari masuk dari sela – sela gorden putih yang menutupi jendela tempat aku sekarang yang masih terbaring malas. Aku mulai meregangkan otot-otot ku. Dalam sekejap aku sudah berada di kamar mandi. Ku hidupkan keran air hangat dan mulai membasuh muka ku.

Pagi ini aku sudah siap dengan apa – apa yang akan aku lalukan se harian. Aku sudah membuat daftar kegiatan ku jauh hari sebelum aku terbang ke Korea. Oh iya aku lupa bilang ya,, hm… Aku sekarang sedang di Korea. Aku mengambil cuti tahunan yang di berikan tempat aku bekerja. Aku bekerja di sebuah bank Syariah dan sudah dua tahun aku belum pernah menggunakan hak cuti seminggu yang diberikan kepada ku. Itu karena uang ku belum terkumpul cukup dan aku juga belum mau kemana – mana waktu itu. Sekarang tahun ke tiga aku bekerja dan Bapak Pimpinan kembali menawarkannya pada ku. Aku pikir inilah saatnya. 

Continue reading “Jodoh Tak Kemana 1”