Jodoh Tak Kemana 2

Aku meninggalkan toko kaset dan kembali berjalan melewati beberapa toko hingga mata ku tertuju pada satu toko buku yang tepat di sebelah kanan ku. Tempatnya agak sepi, mode klasik. Begitu aku masuk ternyata bukan hanya buku yang dijual ada juga bunga. Ini toko komplit banget dan suasananya romantis banget. Di belakang ku ada dua pria yang masuk, yang satu pria tua dan yang satunya lagi sekitar dua puluhan, soalnya muda banget dari wajahnya dan juga penjaganya cuma satu orang, seorang wanita yang anggun banget mengenakan dres warna mint lembut. 

Aku mengamati sekeliling dalam toko ini, nyaman banget. Bukunya tersusun rapi di rak kayu yang sengaja di buat apa adanya, ada juga aksesoris dari besi dan manik -manik yang dibiarkan terletak begitu saja dengan kalung bergantungan diantaranya. Aku mengabsen satu persatu tiap sudut ruangan itu. Dindingnya kaca dan ada beberapa tanaman di dalam pot yang sengaja dibiarkan besar di dalamnya, kemudian kembang mulai dari mawar, tulip dan banyak lagi yang aku tidak tahu namanya. Jenis bunganya sama saja seperti di Rantau tetapi tata letaknya yang membuat setiap benda di ruangan ini sangat manarik. Aku mengambil satu buah novel dengan judulnya bertuliskan hurup Hangul yang artinya seorang malaikat. Aku memilihnya secara acak, aku tidak tertarik untuk membaca sinopsisnya karena sampulnya saja sudah membuat aku tertarik. Semuanya unik dan indah, aku membuka tiap buku dan kamu mesti tahu bahwa ada saja yang menjadi hiasan di tiap lembarnya. Tiap bab dimulai dari kata -kata bijak, setidaknya tiap halamannya itu ada aja hiasannya. So sweet banget kan. Mungkin karena aku wanita aku paling cepat luluh dengan yang indah-indah seperti ini, apa lagi yang unik pakai hiasan. Sebenarnya aku ingin membeli setidaknya lima buah, karena aku teringat tas yang aku gunakan juga cukup dua atau tiga jadinya aku beli tiga. Kapan lagi aku ke sini dan mendapatkan buku selangka ini. Hahaha… Aku bilang langka karena tiap buku di sini cuma di cetak sebanyak sepuluh eksemplar dalam tiap satu judul. Aku sempat bercakap-cakap dengan penjaga toko ini dengan kemampuan bahasa Korea ku seadanya. Dia adalah anak dari pemilik toko dan buku -buku yang ada di sini asli karangannya sendiri.

Aku melirik jam tangan ku, rupanya sudah hampir jam satu siang. Aku tidak merasa lapar sama sekali. Bagaimana pun aku tetap harus makan siang, biar kuat sampai sore, begitu pikirku.

Seharian aku hanya jalan-jalan saja. Aku singgah di rumah makan yang ada label halalnya. Sangat sulit menemukan rumah makan seperti ini di Korea karena penduduk muslim nya minoritas. Aku memesan udon untuk makan siang ku dan kue beras untuk cemilanku sambil membuka sebuah buku yang aku beli tadi. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s