Jodoh Tak Kemana 4

Ini sudah hari ke empat, hari ini aku putuskan untuk lebih banyak di rumah karena angin di luar bisa dikatakan lebih kencang dari kemarin -kemarin, kalau pun aku ingin berjalan mungkin cuma jalan di sekitar penginapan aja.

Drrrt drrrt… Drrrt drrrt…

Aku mencari hp ku yang bergetar. Ternyata di bawah bantal ku sendiri. Begitu aku angkat langsung kedengaran jerit seseorang di seberang sana. Nami…. Nami ya seperti itu. Temanku berteriak memanggil namaku si seberang sana. Aku sedikit menjauhkan Ponsel yang ku pegang dari telinga ku, sangat berisik dan terlalu kuat. Aku hanya bisa kekeh mendengar teriakannya. Temanku Desy menelepon untuk pertama kalinya setelah aku beberapa hari di Korea. Desy menghujaniku dengan bertubi – tubi pertanyaan. Mulai dari kabar hingga ia menanyakan oppa -oppa Korea itu beneran tampan seperti di drama atau tidak.

Kurang kerjaan memang kalau hanya untuk mengukur ketampanan seseorang dibandingkan orang lain. Hahaha… Sebenarnya aku tidak berharap ada yang menelepon ku, bahkan ketika aku dalam pesawat aku telah membuat catatan bahwa aku tidak akan menelepon siapa pun orang yang ku kenal. Alasannya bukan karena aku tidak ingin berbagi pengalaman ku, hanya saja aku ingin di saat aku di luar dari tempat tinggalku maka aku betul-betul ingin meresapi suasana aslinya tempat yang aku kunjungi, aku ingin berbaur dengan lingkungan baru ku. Aku ingin lebih mengenalnya lebih dalam lagi hingga aku merasa kalau aku bukan sedang jalan-jalan biasa. Ya seperti itu, aku benar-benar ingin terlibat dengan lingkungan baru ku. Cuma itu saja, nyatanya itu sangat sulit. Aku hampir saja lupa bahwa aku mempunyai seorang teman yang rela habis pulsa dan kuotanya demi mendengar suara temannya yang tidak begitu peduli dengannya. Tidak ku pungkiri juga bahwa aku sebenarnya juga rindu kedua orang tua ku dan teman ku. Aku pikir aku akan baik-baik saja hanya untuk beberapa hari.

Aku membuka agenda ku hari ini. Tidak sesuai harapan, aku ingin ke Nami Island, yup nama salah satu pulau yang ada di Korea ini sama dengan namaku “Nami”. Sangat disayangkan cuaca tidak mendukung untuk menyeberang ke sana. Padahal aku ingin bernostalgia dengan ingatan ku sendiri. Dulu tahun dua ribu delapan adalah tahun dimana aku pertama kali menonton yang namanya drama Korea, judulnya Winter Sonata. Tetapi pada saat itu aku belum tahu kalau yang aku tonton adalah drama Korea, baru di tahun dua ribu sepuluh aku tahu bahwa itu adalah drama Korea, itu pun karena aku kuliah di Medan waktu itu. Itu sebabnya aku sangat ingin pergi ke sana. Hahaha… Apa aku berlebihan! Tidak dong ya. 

Ok fix, aku sudah siap dengan tas ransel kecil ku, lagi-lagi tas kecil yang isinya cuma muat satu buku, HP, dan dompet tentunya. 

Aku tidak ada tujuan yang pasti hari ini, aku hanya melangkah sesuka hati tidak jauh sangat lah… 

Banyak turis di sini. Di udara dingin begini mereka tetap memakai hotpants tetapi atasannya jaket tebal. Ah, aneh tampak di mata ku. Aku tidak berhenti menatap setiap orang yang berselisih dengan ku, ini semua gara-gara pertanyaan temanku si Desy tadi, wanita Korea memang mulus banget, putih dan bening lagi. Terus porsi mukanya itu lho perfek banget, seperti diukir gitu. Tetapi kalau prianya biasa aja sih,, cuma ada yang menonjol dari wajah mereka. Pria di sini banyak memakai eye liner, hihi… Apa mereka semua idol ya, atau aktor sampai segitunya. 

Ini entah dimana, cuma tadi di persimpangan ada sekumpulan anak remaja menari di tengah jalan. Sumpah keren pakek banget. 

Aku memang bisa membaca tulisan hangul tetapi lebih banyak hal yang lebih menarik dibandingkan hanya untuk membaca huruf Korea pada saat ini. 

Aku berdiri di halte bus, aku akan jalan-jalan, busnya ada yang hijau dan biru. Aku menaiki yang hijau karena yang biru tidak berhenti di halte tempat aku berdiri sekarang. Sebenarnya lagi aku tidak tahu ini akan berhenti dimana, aku tidak takut tersesat karena aku bisa bertanya dalam bahasa Korea. Ah,,, beruntungnya diriku. Hahaha, sedikit tapi banyak gunanya. Itulah ilmu. 

Ehm …sorry,, lari ceritanya. 

Aku memilih untuk duduk di sudut paling belakang dan dekat dengan jendela. Belum sempat pintu bus tertutup naik penumpang terakhir. Cewek, jaket biru cerah, dan memakai masker langsung duduk di samping ku.

Aku tidak bisa melihat wajahnya, karena tertutup topi dan poninya yang panjang hampir menutupi hidungnya. Aku merasakan gerak-geriknya, dia mengeluarkan hp dari sakunya. Aku kaget saat dia menunjukkannya kepada ku. Tertulis di HP nya menanyakan aku datang dari mana dalam teks bahasa Inggris. Ini di luar dugaan, aku langsung mengetik jawabanku di HP ku sendiri. Kemudian dilanjutkannya lagi, pertanyaan yang sangat sederhana, dia menanya apa aku menyukai K-pop dan jika iya, apa nama grupnya. Hahaha,,, agak lucu tetapi ini seru, aku jawab dengan tulisan hangul tentang apa yang ditanyakannya tadi. Aku dapat melihat wajahnya yang terkejut, mungkin karena aku bisa berbahasa Korea, aku tersenyum padanya. Balik aku pula yang menanya sebenarnya dia mau kemana dan kenapa tidak bicara langsung. Sebenarnya kalau pun ia bicara belum tentu ada yang mengenalnya, karena wajahnya sangat tertutup. Dia hanya tersenyum, kemudian menyodorkan HP nya. Dia mau ke tempat latihan, dan takut ketahuan jika ia buka suara. “kamu sangat ramah, sebenarnya aku tahu nama girlgrup mu” lagi-lagi ia kaget dengan jawabanku. “darimana kamu tahu ” ketiknya lagi. Aku langsung mengetikkan nama grupnya di HP ku dan menunjukkan padanya. Dia mengangguk dan kedengaran “hihi “dari suaranya dibalik masker hitamnya itu. 

Tidak berhenti di situ, aku membuka video di HP ku yang sudah terpasang head set jadi tidak kedengaran. Aku buka salah satu video yang ada kemudian aku pause dan menunjuk seseorang, “ini kamu kan ” aku bilang seperti itu. Tampak di wajahnya kegembiraan, matanya bening berkaca-kaca, dia terlalu gembira sepertinya. Jangankan dia, aku yang duduk di sampingnya juga gak tahu mau bilang apa dan bagaimana gembiranya aku. Ini keberuntungan yang tidak ternilai, aku bertemu dengan idolku. Senangnya Ya Allah… 

“aku sangat senang, bertemu penggemar yang tidak berteriak ” begitu tulisnya. 

“kamu sangat ramah, mana mungkin aku berteriak, atau semua akan kacau” balasku lagi. 

Kami salaman dan kenalan lebih jauh lagi, berbagi Nomor HP dan SNS. Ini kebanggaan buat ku sebagai fans, maaf aku tidak bisa mempublishnya, aku sangat menghargai privasinya dan aku juga melihat bagaimana sulitnya berada di tempat umum sebagai seorang idol. Sangat ramah, karena dia yang mendahulukan untuk komunikasi denganku. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s