Cerita Tarawih

Assalamu’alaykum,,,

Gak terasa ya puasa sudah lewat seminggu, tapi baru dua hari Nana sholat tarawih di masjid besar dekat rumah. Puasa sih lancar, cuman karena sakit kerumut selama seminggu membuat kepala Nana terasa sangat pusing walaupun cuma mau menoleh ke samping atau hanya sekadar menunduk, persendian Nama ngilu sangat dan gak sanggup berdiri lama-lama. 

Nah sekali kan tarawih malah dapat kejadian yang aneh. Ini entah Nana nya yang salah dengar atau apa, kalau Nana dengar imamnya sudah bilang “witir” gitu ya kan, dan semuanya langsung bangun dari sajadah karena mendengar kata witir itu tadi, terutama anak-anak yang juga gak kalah semangat karena kalau sudah masuk witir maka sholat akan berakhir. Eh ternyata bukan pemirsa. Ternyata belum saatnya witir, masih ada dua rakaat lagi tarawih baru masuk witir setelah do’a. 

Karena kejadian itu kami pun pandang-pandangan dari kanan sampe yang kiri juga, karena heran. Dan yang iyanya kemarin juga pernah begitu. Positif aja lah,,, mungkin imamnya keenakan baca ayatnya kali ya,, atau mungkin sholatnta terasa singkat. Padahal sholat tarawih di tempat Nana itu sebanyak dua puluh tiga rakaat yang terdiri atas tarawih ditambah witir. 

Walaupun paling banyak rakaatnya dibanding masjid yang lain, masjid besar ini tetap menjadi favorit lho… Masjid nya putih, kubahnya warna hijau, terus pagar besinya berwarna emas. Ada kaligrafi tiap sisi dinding atasnya, tidak pakai AC, cuma kipas angin besar di ke empat sisinya. But WAW… Oh iya, namanya Masjid An-Nur. Kami biasa menyebutnya “Masjid Raya”, “raya” sendiri berarti “besar” dalam bahasa kami sehari-hari, bahasa Melayu Pesisir. Begitu kalau dibilang orang Medan. Keren dah pokoknya. Kalau kalian di sini Nana bisa pastikan kalian akan terus merindukan untuk datang ke masjid raya, dan kalau sudah di masjid rasanya itu lho…sayang banget harus pulang ke rumah. Seperti ada magnetnya.

Wassalamu’alaykum…