Suami Dari Abangku Part. 5

Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Alya selama di perjalanan. Begitu sampai di rumah Alya langsung menuju kamarnya.

Melihat tingkah adiknya itu kak Mira menghampiri Alya ke kamarnya. 

“ada apa sayang, coba istighfar dulu” kata kak Mira yang diikuti Alya. 

Alya menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan. Bahkan Alya juga memberi tahu kak Mira bahwa Abi adalah orang yang muncul di pikirannya kemarin. 

Kak Mira tersenyum. 

Kemudian pergi meninggalkan Alya, ya,, Alya butuh waktu untuk menerima kenyataannya. 

Kalau kita memang ditakdirkan tidak berjodoh, mengapa kita dipertemukan kembali. 

Alya menulis di buku kecilnya yang sering ia bawa.

Seketika ia teringat kata-kata bang Juan yang mau menjodohkannya. Apa mungkin orang yang dijodohkan itu adalah Abi. Ah, mana mungkin. Abi pasti udah punya kekasih. Tapi kenapa alasan bang Juan kemarin mengada-ada pake bilang SPSS segala. Au ah gelap. Yang pastinya bang Juan membuat aku malu di depan Abi. Walau sebenarnya aku memang belum laku. Astagfirullah… 

***

Drrt drrt… 

Hp Alya ada notif line yang masuk. Begitu Alya tambahkan sebagai teman langsung masuk pesan baru. Nama kontaknya “Abi”

Abi> Assalamu’alaykum Alya, ini Abi. Maaf yang kemarin Abi gak ada maksud membuat Alya menangis. 

Alya> Waalaykumsalam, udah la Abi, Abi gak salah kok. Alya aja yang terlalu sensitif. 

Abi> kapan kita bisa ketemu lagi ?

Di lain pihak Abi menatap layar HP nya, Alya hanya me_read, tidak ada balasan dari Alya. 

***

“cie cie,,, yang ngambek udah baikan, mata kok keluar gitu dek” bang Juan masih saja mencagili Alya, sedangkan Alya memasang muka masam kepada abangnya yang usil itu. 

“udah Juan, kasian adikmu digituin terus.” Mama menasehati Juan. 

“iya nih, abang” Alya memanyunkan bibirnya, kak Mira yang melihat itu ikut tertawa. 

“Sayang, ambilkan piring satu lagi” perintah Juan pada istrinya. 

Mira tidak bertanya piring itu untuk apa, ia hanya mengambilkannya saja. 

“Assalamu’alaykum,, ” suara tamu di luar. 

“waalaykumsalam… Masuk Bi” jawab Juan lantang. 

Semuanya kaget dibuatnya, kecuali Juan karena ia yang berencana. 

Abi langsung masuk. Kemudian menyalami Mama, bang Juan dan kak Mira sedangkan Alya menunduk,

“Al… ” sapa Abi 

“iya. Bi.” jawab Alya. Belum habis kenangan semalam dan sekarang mulai lagi episode baru. Rengek batin Alya. 

“kita langsung makan ya, Juan yang mengundang Abi buat makan siang di rumah kita. Karena ini hari jumat, kantor cepat tutup dan…kantor Abi sangat dekat dari sini” Juan menjelaskan.

“Mama senang kok Nak, Mama gak kepikiran sejauh itu.” kata Mama yang kemudian melanjutkan “jangan sungkan ya nak Abi, anggap aja rumah sendiri” 

“Subhanallah,,,ini wajahnya Abi, kakak sering liat Abi kalau beli makanan di dekat situ,,,” wajah kak Mira sumringah. 

“Abi ingat kok sama Kakak, bukannya kakak ada anak kecil ya, dimana dia gak?” Abi menyahuti omongan Mira. 

“iya, ada. Anak kakak tidur Bi di kamar,,,” 

“nanti aja ya dilanjutkan, kita makan dulu.” Alya bersuara. 

Abi, terlihat senang di wajahnya. 

“enak Buk, berasa masakan Mama Abi” mata Abi berkaca-kaca. 

Aku mendengarnya ikut sedih, Mama Abi meninggal di tahun 2014 waktu kami babak terakhir kuliah. Aku melihat Abi menangis untuk pertama kalinya waktu itu. Dan sekarang aku melihatnya lagi menangis di depanku. Aku tidak tahan melihatnya. Aku ingin merangkulnya.

Mama meletakkan sendok makannya kemudian mengelus belakang Abi, Abi meneteskan air mata ke piring makan yang terletak di depannya. 

“Kalau Abi gak keberatan Abi boleh panggil Ibu dengan sebutan Mama, dan Ibu juga berharap Abi jadi anak Ibu” kata-kata mama malah membuatku ikut menangis.

Aku lihat Abi hanya bisa mengangguk dengan air mata yang terus mengalir. Aku faham sekali apa yang Abi rasakan, juga mengerti bagaimana rasanya menelan makanan ketika sedang menangis. 

***

Pulang dari sholat Jumat dengan bang Juan, aku lihat wajah Abi semakin cerah. Astaghfirullah,,, aku langsung sadar dari perhatianku.

“Mama,,, Abi langsung pulang ya, nanti Abi kabari Mama lagi” Abi pamit. 

Eits,,, tunggu dulu. Barusan Abi memanggil Mamaku pakai Mama juga kan. Oh No… Apa lagi ini. 

Setelah pamit Abi langsung meluncur pulang ke rumahnya. 

“tau gak yang, tadi kami pas pulang dari masjid Abi bilang mau jadi anaknya Mama” bang juan bicara sangat pelan, tapi tetap kedengaran di telinga ku. 

Ya sudahlah, kalau dia jadi anak Mama, berarti kami memang tidak jodoh untuk jadi pasangan, tapi jodoh jadi saudara. Aku pasrah

***

Aku pulang agak sore dari berjalan seharian, sampai sholat juhur pun aku di mall. Begitu sampai rumah adzan ashar pun berkumandang. 

Rame kayaknya. 

Alya melangkah ke dalam setelah mengucapkan salam. 

“ini dia anaknya, pas kan dugaan abang.” bang Juan berkelah. 

Rame bener, ada apa ini ya. Belum sempat aku bertanya langsung ada yang mengenalkan dirinya. 

“kami keluarga Abi, saya ayahnya Abi. Dan yg ini sepupu dan saudara-saudaranya.” Papanya Abi mengenalkan diri. 

Aku menyalami mereka satu per satu sambil memperkenalkan diriku. 

“kedatangan kami ke sini ingin melamar adik Alya, untuk berkenan menjadi istri adik saya Abi” abangnya pula bicara yang membuat ku berasa tidak menginjak tanah. 

“Alya, Al… Jangan bengong” Kak Mira membuyarkan lamunanku. 

“eh, iya iya,, “aku menjawab. 

“apanya yang iya Al.” kata bang Juan. 

“gak tau bang, emangnya tadi abang itu nanya apa? ” aku berbisik di telinga bang Juan. 

Kemudian bang Juan bersuara agak kencang “gimana Al, Abi dan keluarganya melamar kamu tuh, mau gak” 

Bang Juan membuatku malu. “yaha,, pipinya merah lagi” kata Bang Juan kuat-kuat.

“mau ya Al,, Abi udah menunggu kamu hampir sepuluh tahun ini” ucapan Abi membuat semuanya melongo termasuk aku sendiri.

“hebat kamu bang, sepuluh tahun lho… Udah kurikulum baru tuh. Ckckck” sepupu Abi yang perempuan angkat bicara.

Aku tidak menyangka kalau Abi juga menunggu ku, bukan aku saja yang menunggu mu Abi. 

Aku meneteskan air mata,

“cengeng” kata bang Juan. “Alya diam aja Pak, Abi. Itu tandanya Alya setuju.”

Tanpa kata aku hanya mengangguk. Ada sesuatu yang tertahan di dadaku.

Allah,,, astagfirullah… 

***

Sebulan berumah tangga aku belum terbiasa dengan Abi, hingga suatu cerita membuatku tidak lagi kaku. 

“Abi, Alya mau ngomong… ” aku menatap Abi tepat di matanya. 

“iya Al, ngomong aja.” Abi menjawab seadanya. 

“sebenarnya Alya juga menunggu Abi selama hampir sepuluh tahun ini. Alya lihat Abi tidak pernah senyum sama Alya, kita juga gak pernah komunikasi, Abi serius ingin melanjutkan pernikahan ini? Jangan dipaksakan Bi, sebelum kita melangkah lebih jauh dan…” Alya menghentikan omongannya. 

Abi membiarkan Alya menyudahi omongannya. 

“dan sebelum kita punya anak Bi” Alya tertunduk. 

“maafkan Abi Alya, Abi takut tidak bisa menguasai hati ini, Abi takut tidak bisa menjaga Alya, banyak yang Abi takutkan. Abi tidak main-main dengan pernikahan ini Alya. Abi gak pernah pacaran hanya untuk memantaskan diri untuk Alya, karena Abi tau bahwa Alya juga gak pernah pacaran. Sederhana memang. Tapi Abi sangat suka dengan sikap Alya yang begitu. Di saat Abi gak bisa menjadi tameng buat Alya, tapi Alya mampu bertahan sendiri. Bukan berarti Abi ingin membiarkan Alya sendiri, tapi Abi takut terlalu mencintai makhlukNya dibanding Sang Pencipta.” Abi menyudahi omongannya. 

Alya yang mendengarnya tidak mampu menahan sesak di dadanya. Alya menangis terisak. 

“maafkan Alya atas keraguan ini Bi…” ucap Alya singkat. 

“iya gak apa-apa,,, sayang Abi untuk Alya makin bertambah nih kayaknya, Abi kok merasa beruntung banget ya Al,,,” Abi mencandain Alya. 

Cengeng Alya kembali kumat. Abi terkekeh kemudian menarik Alya ke dalam pelukannya. 

“Abi pikir Alya itu orang yang strong eh,, gampang mewek juga, udah ah,, tambah kuat nih Abi meluknya.” becanda Abi. 

Selesai. 

Advertisements

Move up 

Maafkan aku yang tidak bisa berlemah lembut seperti lainnya. 

Maafkan aku jika menurutmu sifatku tak semanis senyumku atau tak secantik wajahku. 

Aku sudah memutus urat malu ku mengatakan semuanya padamu, kamu tentu tak menduga akan seperti itu. 

Aku hanya tidak sanggup menahannya lebih lama lagi, sedangkan kamu menganggap aib perasaanmu sendiri. 

Setidaknya aku bisa lebih lega, setidaknya aku tidak akan sakit sendiri lagi atas rasa ini. 

Aku memilih berteman denganmu ketimbang menjauh. Membiarkan rasa ini mengalir mengikuti arus waktu yang bisa saja berubah, entah kapan. 

Mencoba melupakan itu sangat sulit nyatanya. Karena engkau masih saja di depanku berlalu. 

Suami Dari Abangku Part. 4

Mana sih orangnya, lama banget. Batin Alya mulai menggerutu. Pasalnya sudah hampir satu jam mereka menunggu. 
Mau menanya bang Juan, Alya jelas gak mau. Paling juga di suruh bersabar. 

“Assalamu’alaykum,,, bang Juan” sapa seseorang yang membuat Alya terpaku karena mengenali suaranya. Alya langsung mendongakkan kepalanya, dan jelas itu orangnya. Orang yang kemarin sering muncul tiba-tiba di pikiran Alya. 

Bukannya menjawab salam malah Alya langsung memanggil “Abi! ”

Gak habis pikir, Alya mengalihkan pandangannya ke arah bang Juan. 

“waalaykumsalam Abi, duduk” kata bang Juan santai. 

“Abi pikir Abi yang kecepatan, eh bang Juan dan Alya udah duluan” abi berkata santai. 

“lho, kita nungguin kamu udah hampir satu jam tau.”sela Alya. 

“hahaha,,, janjiannya memang jam segini kali Alya, abang segaja cepatin karena kamu dandannya lama… Kayak mau melamar kerja.”  agak diam sejenak bang Juan melanjutkan “Abi masih ingat kan sama Alya? Adik abang satu-satunya ”

Ku perhatikan Abi hanya mengangguk dengan wajah datar. 

Alya gak menyangka ini ulah abangnya sendiri. 

“Alya, apa kabar? Lama ya gak ketemu.” Abi menanya dengan nada datar. 

“alhamdulillah baik.” Alya menjawab seadanya. 

“Oh iya bang, kita…”

Bang Juan sama Abi ngomong berdua dan Alya merasa sedang menonton acara debat. Lain halnya di hati Alya, jantungnya gak berhenti dag dig dug. Apa maksud bang Juan mempertemukan kami? Apa bang Juan tau isi hati ku. Tapi Abi kan gak ada rasa sama aku. 

Alya menerawang ke ingatannya di waktu zaman kuliah. 

Abi bukan teman dekat atau teman baikku. Abi dan aku gak pernah terlibat percakapan apa pun bahkan yang kecil pun tidak. Abi selalu dekatnya sama teman dekatku. Tetapi bagaimana pun Abi di antara kami, aku dan Abi gak pernah saling kontak.

Menyesakkan di dada, orang yang aku sukai sepenuh hati tapi gak pernah melirik sedikit pun ke arah ku. Sekian tahun kuliah maka segitulah aku menahan gejolak perasaan ku padanya. Terakhir Abi hilang dari hatiku karena aku menyerah dengan keadaan. Lulus kuliah aku pun mengubur dalam-dalam perasaan ku. Dan sekarang kami dipertemukan lagi, dimulai dari kemarin dalam doa ku Abi terlintas hingga sekarang ia ada di depanku. Dadaku kembali sesak, aku menahan nafasku agar tidak keluar air mataku. Aku mengibas-ngibaskan tangan ku ke wajah. 

“Alya, kenapa wajahmu merah, kepanasan ya? ” pertanyaan bang Juan membuat ku malu. Haduh, ini wajah gak bisa kompromi apa, memerah seenaknya saja. Aku menggeleng menanggapi pertanyaan bang Juan. 

Mau kemana ku taruh mukaku ini. Aku menunduk malu. 

“Alya, ngomong napa, jangan liatin Abi terus” kata bang Juan mengagetkan ku. Perasaan aku tidak memperhatikan Abi, ini akal-akalan bang Juan membuat aku blushing. 

“Alya tidak liatin Abi kok bang, Alya itu nonton acara debat live. Seru” ucap Alya membuat Abi menoleh kepadanya. 

Alya tertunduk, 

“ya elah, pake muka merah lagi” canda bang Juan. 

“Bi, kamu mau kan jadi suami adek Abang? Walau udah berumur tapi masih tetap awet kok” bang Juan terkekeh dengan apa yang diucapkannya. 

“apaan sih bang, Al… ” 

“Alya gak suka sama Abi bang Juan,,” Abi memotong ucapan Alya yang membuat Alya melongo. 

“kalian ini” Alya berdiri mau meninggalkan abangnya dan Abi yang masih duduk menatapnya heran. 

Air mata Alya akhirnya keluar. 

Dengan tatapan yang entah seperti apa Alya meninggalkan mereka. 

Abi mau mengejar Alya tapi ditahan Juan. “udah,, biarin aja. Gak kemana-mana kok dia” 

***

Abang kok tega gitu sih, Alya malu. Apa bang Juan gak tau. Abi juga, kok ngomongnya gitu pula, Abi memang gak peka. Hampir sepuluh tahun aku menahan ini semua semenjak awal kuliah.

Alya meninggalkan mereka dan langsung menuju mobil. 

***

Abi merasa bersalah karena ngomong seperti itu. Tapi apa mau dikata, udah keluar duluan ucapannya, gak bisa ditarik lagi.

Seharusnya Aku gak boleh seketus itu sama Alya, tapi apa benar Alya menyukai ku. 

Abi, melangkah gontai menuju parkiran mobilnya. Kepalanya tertunduk memikirkan apa yang telah dilakukannya.

***

Suami Dari Abangku Part. 3

Tinggal seminggu di rumah abang gak membuat ku betah karena gak ngapa-ngapain, beda kalau di rumah sendiri ada usaha yang mesti dikontrol. Sebenarnya memang itu hobbi ku walau hanya sekedar mampir. Itu sebabnya aku pamit pulang dan bagaimana dengan Mama? Mama betah aja tuh. 

“Jadi gimana ini Ma, si Alya kita jodohkan aja ya” kak Mira tiba-tiba ngomong 

“ide bagus itu, iya Mama setuju deh pake banget ” kedengarannya Mama bersemangat ya kan 

“nanti aku bilang sama Aa ya Ma” si kakak juga gak kalah girang. Mereka mengabaikan wajahku.

***

Aku sudah kembali ke rutinitas ku yang biasa. 

Banyakin istighfar ya sayang dibanding mikir. 

Aku membaca SMS yang dikirimkan Kak Mira. Aku ingat kemarin kakak ku bilang akan menjodohkan aku, tetapi dengan siapa ya. Apa teman bang Juan atau Kak Mira. 

Sekarang aku malah gak fokus, padahal aku sedang membuat sketsa untuk model baru, ku ketuk-ketukkan pensil ku ke meja kerja sampai-sampai aku tidak mendengar ada yang mengetuk pintu ruanganku hingga orang tersebut terpaksa masuk begitu saja.

“maaf Bu, saya masuk saja ” katanya sopan sembari menyerahkan laporan mingguan. 

“oh, gak apa-apa, saya yang melamun tadi”

Oh Tuhan,,,

Aku agak tidak bersemangat hari ini, aku buka IG untuk sekadar melihat-lihat. 

Tap. 

Aku terhenti.

Orang ini, yang kemarin muncul dalam doa ku ketika berangkat ke rumah Abang. Sayang akunnya di privat, mau difollow ada rasa gengsi, gak difollow malah penasaran. Piye iki Gusti… Jerit bathin Alya. 

Astagfirullah, apa ini. Udah. Gak usah terlalu dipikirin. Dosa. Dosa. Gak MUHRIM. 

Alya bicara sendirian merutuki HP nya. 

Sesaat kemudian Alya menelepon seseorang. 

” Assalamu’alaykum, Ma.” Alya menghubungi mamanya 

“….”

“Alya rindu Mama, besok Alya ke sana ya,” Alya mengakhiri teleponnya. 

***

Alya menyusun piring makan membantu kak Mira, 

“kak, aku kok tiba-tiba teringat satu orang ya kak. Padahal udah lama banget gak ketemu apalagi kepikiran. Pokoknya tiba-tiba aja gitu ” Alya cerita di sela-sela kegiatannya menyusun piring di meja makan. 

“kamu kangen kali sama dia” kak Mira menjawab sekenanya. 

“ih gak la kak. Udah bertahun-tahun loh kak baru tiba-tiba ingat sekarang ” alya menjelaskan lagi. 

“makan dulu ya, Alya panggil abang sama Mama ya dek” perintah kak Mira yang langsung dituruti Alya. 

Di meja makan, 

“bener kamu keingat seseorang Al? ” tanya bang Juan 

Nih orang tau darimana ya,, pikir Alya.

“besok temenin abang ya, jumpa temen. Kamu kan jago SPSS” apa pula la alasan aku ini, receh banget kedengarannya. Menggerutu di hati Juan. 

“ih abang. Kan abang juga bisa kalau sekadar SPSS. Jangan ngasal deh ” 

Alya seperti mampu membaca pikiran  Juan, 

“gak bisa Al, abang gak bisa lama-lama, lah kamu kan gak ada kerjaan di sini. Bantu abang dikit ntar abang kasi fee ” bang Juan mencoba merayu. Tapi gak pande. Hahahaha 

“abang ini, aku bukan anak kecil lagi yang tiap habis kerja langsung dikasi upah” jawab Alya. “iya, besok Alya bantuin abang, gak usah pake fee segala, cukup semangkuk mie bakso sama jus martabe” Alya cengar-cengir.

BALADA TERUNG KUNING DI SEI PENGGANTUNGAN

Kemarin seminggu sebelum memasuki bulan Ramadhan, tempat kerja Nana mengadakan kegiatan sosial, ini pertama kalinya diadakan setelah tujuh tahun berjalan. Waw…ini rejeki namanya.
Yang Nana ingin ceritakan di sini bukan keiatan sosialnya, Nana Cuma mau memperlihatkan hasil jepretan Nana setelah kegiatan selesai.
Lagi-lagi Nana menggunakan kamera dari VIVO Y21 milik Nana sendiri, fokus, bayang dan blur nya itu loh keren banget untuk smartphone yang tergolong sangat murah harganya ini…kamera depannya juga jelas, sampai-sampai pori-pori wajah, komedo dan cacat muka bisa keliatan, jadinya harus edit deh. Kalau tidak mau repot edit mengedit ya pakai Face Beauty nya aja langsung hahaha…
Terung ini sengaja ditanam sebagai hiasan taman warga desa Sei Penggantungan Kec. Panai Hilir Kab. Labuhanbatu. Selain itu kelapa hibrida juga ada di tiap sudut taman depan rumah. Kebayang dong asrinya.
Tam tara,,,terung kuning ( Solanum insanum L.)

 

Menjadi Mitra Paytren 

Assalamu’alaykum,,, ketemu lagi dengan tulisan terbaru Nana. Hahaha,,, semoga masih ada yang bisa diambil dari sini ya.. 

Nana nanya dulu nih. Udah pada tau dengan yang namanya Paytren? Udah dong ya, kalau belum tau silakan baca di http://www.treni.co.id dan www.paytren.co id . Nah, Nana tuh baru tau tentang Paytren ini beberapa  bulan yang lalu. Taunya dari IG senior SMA Nana. Dia banyak sekali memposting tentang Paytren, cara-caranya dan manfaatnya.

Paytren ini sudah banyak mitranya. Awalnya karena penasaran dan tanya-tanya deh. Tanpa mikir panjang Nana langsung beli lisensinya dari senior Nana tadi. Kemudian setelah didaftar Nana gak langsung aktif lebih dari seminggu deh,, deposit minimalnya aja pun belum Nana gunakan. Oh iya, Nana menggunakan aplikasi Paytren itu sejak 25 April 2017 kok. 

Ada hal yang tidak bisa Nana terima sampai saat ini. Jadi kan begini, setelah seminggu Nana resmi jadi Mitra kemudian Nana langsung memposting apa aja tentang Paytren di FB, di kontak BBM juga di IG. Rupanya ada teman satu sekolah yang komen dan menanya kepada Nana, yang ternyata dia juga mitra Paytren dan sudah jalan dua tahun, ada juga teman yang sudah tau tentang Paytren bertahun-tahun yang lalu. Padahal nih ya, kami teman dekat lho ketika masih masa sekolah. Sangat disayangkan Nana tidak mengenal hal yang sangat baik ini dari mereka, malahan Nana taunya dari orang asing. Well gak apa-apa, tapi rasanya kesal kenapa mereka diam…? 

Timbul lah pikiran yang aneh dengan mereka. Apa mereka malu ya menjual lisensi, apa mereka gengsi, padahal kan menjual itu halal kok, yang dijual juga lisensi yang multi manfaat banget. Lagian ini MLM termudah yang sangat sangat sangat……  tidak merepotkan, Nana awalnya cuma buat gunain sendiri, tapi kalau ada yang mau didaftarkan sama Nana ya diterima dong dengan rasa syukur. 

Ini aplikasi ada menu sedekahnya, Nana gak perlu diam-diam dari orang lagi kalau mau bersedekah. Maklum lha,,,Nana itu aslinya pemalu, malu karena orang bisa saja dapat dosa hanya karena salah faham sama diri kita, dosa sama mereka jika mereka mengira kalau Nana ini ria dengan sedekahnya, ya gitulah,,, Nana bisa bicara seperti itu berdasarkan fakta. 

Nana menggunakan Paytren ini untuk pemakaian pribadi juga dikarenakan buat nawarin ke teman-teman ( orang lain) atau teman sendiri secara offline itu sering mendapat penolakan,  Jadi Nana manfaatin tuh semua media sosial Nana untuk mengenalkan Paytren, dan itu jauh lebih mudah. Nana tidak mengajak tetapi ada aja yang minta didaftarin supaya bisa pake itu Paytren. 

Gak payah merekrut. Kalau tidak merekrut orang juga gak apa-apa, karena harganya murah banget. Tetapi kalau mau mengembangkan bisnisnya ya silakan cari mitra, cuma 2 orang saja. Mudah kan…yang penting itu sabar dan tetap berusaha ya.. 😆

Semoga ini bermanfaat, dan wassalamu’alaykum ..

Suami Dari Abangku Part. 2

“kasihan adikmu Juan”.. Mama menjawab sekadarnya 

“aku boleh ikut kan kak? Boleh ya,,, udah lama juga gak keluar, kalo urusan diaini mah gampang itu… ” aku meminta pada kak Mira yaitu kakak iparku. 

“ya boleh dong sayang,” 

“jadi Mama mau kan, urusan disini semoga Allah ngasi jalan keluarnya. Sebenarnya kami berencana cuma seminggu disini.” bang Juan menyebutkan. 

“Mama sich ikut aja,,,”

Aku tau Mama itu selalu saja merindukan abangku yang satu ini, makanya ringan kali jawabannya. Hahahaha… Juga orang tua kak Mira sudah tidak ada, bertambah aja sayang Mama sama kak Mira. Aku lihat kak Mira memeluk Mama sambil tersenyum.

***

Di perjalanan aku banyak melamun, sering aku berfikir apa yang salah dengan diriku. Banyak temanku yang lebih mapan dari aku tapi mereka sudah berkeluarga,,

“Alya,, ”

“ha, iya kak,, ” aku dikejutkan panggilan kak Mira. 

“jangan banyak melamun, banyakin istighfar.. ”

“iya kak, makasih kak ” 

Kak Mira tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke arah putrinya yang tertidur tepat di pangkuannya. 

Sesaat bang Juan membelokkan mobil ke kanan,,

“kita solat dulu ya, udah adzan asar.. ” bang Juan menjelaskan. 

Tidak ketinggalan si kecil pun dibawa, duh tu anak lelap amat tidurnya. Bikin iri aja. 

Dalam doa, ku terkejut dengan bayangan yang tiba-tiba terlintas di benakku. Kenapa tiba-tiba dia muncul.

Aku segera menyelesaikan doa ku, aku amati mama, abang dan kakakku yang masih hanyut dalam doa. Hatiku menjadi gusar karena bayangan tadi. 

“ada apa Alya? ” tanya Mama yang menyadari lamunan ku. 

“oh, tidak Ma, Alya ngantuk Ma,” aku berkelah. 

“kalau ada apa-apa jangan dipendam dek, sakitnya tuh di sini” kak Mira bercanda sambil menunjuk lututnya. 

“haha,, kakak bisa aja deh. Gak ada apa-apa kok kak.. ”

Kami melanjutkan perjalanan. Sekitar lima jam lagi baru sampai di tempat bang Juan. Jauh boook.