Suami Dari Abangku

Sore itu di bawah langit jingga yang keemasan, duduk sendiri di sebuah kursi panjang yang dilindungi pohon rindang. Aku menatap ke atas menerobos pandangan yang tiada batas. Aku menyesap aroma daun kering yang berguguran. Aku menatap langit tanpa jeda, aku mengabsen tiap awan yang beranjak. Di kursi ini lah aku merasa leluasa untuk mencurahkan semua isi hati ku yang kubuat dalam bentuk tulisan. Kadang ia berupa puisi, kadang juga berupa cerita yang pendek. 

Jauh di lubuk hati ku, aku masih terpikir kata-kata abang ku “wanita yang baik untuk lelaki yang baik”. Sudah cukup lama aku tau kata-kata itu, tetapi baru sekarang aku sadar sepenuhnya akan maknanya. 

Hah,,, aku mengehembuakan nafas berat ku ke atas, ya aku masih menatap langit yang mulai berubah warna lagi. Aku yang masih memiliki rasa ragu dengan dalam hati ku, tetap mengikuti apa yang diajarkan padaku, walau aku sudah tahu itu adalah kewajiban atas diriku. Mengenakan jilbab dan pakaian longgar. Aku tidak pernah merasa mantap dengan pilihan ku ini, tetap aku lakukan demi mendapatkan berkah dalam hidupku dan meraih ridhoNya. Pelan-pelan akan terbiasa, begitu pikirku. 

***

Aku sudah dua tahun resign dari tempat kerja ku sebelumnya, bukan karena perubahan ku ini, tetapi dikarenakan aku harus fokus menjalankan usaha yang sudah aku rintis sejak empat tahun yang lalu. Sebuah butik kecil yang sudah mempunyai cabang-cabang yang kecil juga. Pendapatan dari butik lebih besar dibandingkan dengan penghasilan aku per bulan ketika masih bekerja di luar. Setidaknya itu masih menjadi kekuatan ku sebagai seorang yang belum menikah. 

Aku belum menikah, padahal usiaku menginjak dua puluh sembilan tahun.

Orang lain berfikir mungkin aku pilih-pilih, tetapi asal kalian tahu, aku belum pernah pacaran sekali pun walaupun aku pernah menyukai beberapa orang dalam hidup ku. Juga sampai sekarang belum ada yang mencoba untuk menanya dan melamarku. Yang aku tahu orang-orang bilang udah mundur duluan karena status sosial ku yang berpendidikan juga sudah mapan. Padahal aku sudah menahan hasratku untuk tidak lanjut ke jenjang S2, jadi apa lagi salahku. Aku menjadi mengutuki diri dalam hati. Keinginan untuk berumah tangga bukan karena aku menjadi buah bibir ibu-ibu tetanggaku, ini murni keinginan ku untuk hidup yang sempurna, yaitu hidup berpasangan. Aku tidak punya kriteria seperti apa dan mesti bagaimana, yang aku inginkan seseorang yang penyayang dan bertanggung jawab. 

***

Ini rumah rame bener ya,, pikirku. 

“Assalamu’alaykum Alya,,,” sapa seseorang yang sangat ku kenal. 

“waalaykum salam,,,”aku menjawab salam dari kejauhan. “abang!,,kapan sampe? Kemenakan kecil aku mana Bang? ” aku melanjutkan setelah ku tau ternyata abang ku Juan yang datang. 

“baru aja,,,tuh masih di depan sama kakakmu. Mama mana? ” abang cuma nyosor langsung masuk mencari mama di dalam. 

Huh, abang selalu saja gitu, gak rindu sama aku, cuma mama dan mama. Padahal kan aku adik satu-satunya abang. 

“Alya,,, tante Alya,,, kami datang” suara kakak aku menyeruak memecah lamunanku. 

Itu dia yang selalu aku rindukan. Kakakku yang cerewet dan heboh, dan anaknya yang super imut.

“iya kakak…”aku berlari menghampiri kakak iparku yang edisinya terbatas.

Waduhhh kalau udah ada kakak di rumah senangnya hati ya Allah,,,  biasanya cuma ada aku dan mama, ayah sudah pergi menghadap Rabb sejak dua tahun yang lalu. Sedangkan abang setelah selesai kuliah langsung diterima kerja di luar sehingga sangat jarang pulang ke rumah, jadi bisa dibayangkan gimana sepinya rumah dan hati mama yang selalu rindu dengan abang. 

“kakak,, Alya rindu sama kakak la, capek gak kak di perjalanan.. “aku menggelendot di lengan kakak ku ini, kakak cuma senyum kemudian menggeleng. 

“kakak kalau perjalanannya ke rumah sini mah gak akan ada capek-capeknya. Selalu excited, lihat ni Al kakak bawa apaan..yang ni bawa untuk mama, trus plastik yang hitam tarok di kulkas ya,” kakakku menjelaskan panjang lebar beban oleh-olehnya, padahal aku lihat jelas sekali capeknya dia. Tidak ku lupa langsung ku raih kemenakan ku satu-satunya juga sekalian barang bawaan kakakku. 

***

Di ruang tengah kami berkumpul, kakak datang dari dapur membawa buah dan gorengan yang dibuatnya tadi sore. 

“Ma, jadi gimana nih si Alya yang masih betah melajang..apa gak ada yang datang? Setidaknya ada yang menanya gitu Ma? ” mulai lah si abang membuka topik sensitif bagiku. 

“gak tau Juan, Alya gak ada cerita sama Mama juga. Trus yang datang juga gak ada. Tau sendiri kan teman adikmu cewek semua” mama menjelaskan pada abang. 

“yahhh, kalah dong dibanding aku Ma, aku belum lagi lulus SMA udah banyak yang mau melamar dan datang ke rumah” kakak ikut dalam percakapan. “padahal cantik an Alya dibanding kakak, ” lanjutnya lagi. 

“hahaha,,, Alya terlalu judes makanya gak ada yang berani” bang Juan mengejek ke arahku. 

“Aa apaan sich, masa adeknya digituin. Nanti tambah drop loh Alya nya.” kakakku memang tau banget penderitaan ku. 

“gak apa-apa kak, udah biasa.” aku pasrah dengan pembicaraan mereka. 

“Ma, ke tempat kakak ya Ma. Rencananya kami seminggu di sini, Aa Juan gak bisa lama-lama libur.” aku mendengar kakak langsung bicara langsung pada intinya. 

“mau ya Ma, Juan selalu rindu sama Mama juga Alya” bang Juan bersuara. 

Hening…

“Kasihan adikmu Juan,,” mama menjawab singkat. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s