Suami Dari Abangku Part. 5

Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Alya selama di perjalanan. Begitu sampai di rumah Alya langsung menuju kamarnya.

Melihat tingkah adiknya itu kak Mira menghampiri Alya ke kamarnya. 

“ada apa sayang, coba istighfar dulu” kata kak Mira yang diikuti Alya. 

Alya menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan. Bahkan Alya juga memberi tahu kak Mira bahwa Abi adalah orang yang muncul di pikirannya kemarin. 

Kak Mira tersenyum. 

Kemudian pergi meninggalkan Alya, ya,, Alya butuh waktu untuk menerima kenyataannya. 

Kalau kita memang ditakdirkan tidak berjodoh, mengapa kita dipertemukan kembali. 

Alya menulis di buku kecilnya yang sering ia bawa.

Seketika ia teringat kata-kata bang Juan yang mau menjodohkannya. Apa mungkin orang yang dijodohkan itu adalah Abi. Ah, mana mungkin. Abi pasti udah punya kekasih. Tapi kenapa alasan bang Juan kemarin mengada-ada pake bilang SPSS segala. Au ah gelap. Yang pastinya bang Juan membuat aku malu di depan Abi. Walau sebenarnya aku memang belum laku. Astagfirullah… 

***

Drrt drrt… 

Hp Alya ada notif line yang masuk. Begitu Alya tambahkan sebagai teman langsung masuk pesan baru. Nama kontaknya “Abi”

Abi> Assalamu’alaykum Alya, ini Abi. Maaf yang kemarin Abi gak ada maksud membuat Alya menangis. 

Alya> Waalaykumsalam, udah la Abi, Abi gak salah kok. Alya aja yang terlalu sensitif. 

Abi> kapan kita bisa ketemu lagi ?

Di lain pihak Abi menatap layar HP nya, Alya hanya me_read, tidak ada balasan dari Alya. 

***

“cie cie,,, yang ngambek udah baikan, mata kok keluar gitu dek” bang Juan masih saja mencagili Alya, sedangkan Alya memasang muka masam kepada abangnya yang usil itu. 

“udah Juan, kasian adikmu digituin terus.” Mama menasehati Juan. 

“iya nih, abang” Alya memanyunkan bibirnya, kak Mira yang melihat itu ikut tertawa. 

“Sayang, ambilkan piring satu lagi” perintah Juan pada istrinya. 

Mira tidak bertanya piring itu untuk apa, ia hanya mengambilkannya saja. 

“Assalamu’alaykum,, ” suara tamu di luar. 

“waalaykumsalam… Masuk Bi” jawab Juan lantang. 

Semuanya kaget dibuatnya, kecuali Juan karena ia yang berencana. 

Abi langsung masuk. Kemudian menyalami Mama, bang Juan dan kak Mira sedangkan Alya menunduk,

“Al… ” sapa Abi 

“iya. Bi.” jawab Alya. Belum habis kenangan semalam dan sekarang mulai lagi episode baru. Rengek batin Alya. 

“kita langsung makan ya, Juan yang mengundang Abi buat makan siang di rumah kita. Karena ini hari jumat, kantor cepat tutup dan…kantor Abi sangat dekat dari sini” Juan menjelaskan.

“Mama senang kok Nak, Mama gak kepikiran sejauh itu.” kata Mama yang kemudian melanjutkan “jangan sungkan ya nak Abi, anggap aja rumah sendiri” 

“Subhanallah,,,ini wajahnya Abi, kakak sering liat Abi kalau beli makanan di dekat situ,,,” wajah kak Mira sumringah. 

“Abi ingat kok sama Kakak, bukannya kakak ada anak kecil ya, dimana dia gak?” Abi menyahuti omongan Mira. 

“iya, ada. Anak kakak tidur Bi di kamar,,,” 

“nanti aja ya dilanjutkan, kita makan dulu.” Alya bersuara. 

Abi, terlihat senang di wajahnya. 

“enak Buk, berasa masakan Mama Abi” mata Abi berkaca-kaca. 

Aku mendengarnya ikut sedih, Mama Abi meninggal di tahun 2014 waktu kami babak terakhir kuliah. Aku melihat Abi menangis untuk pertama kalinya waktu itu. Dan sekarang aku melihatnya lagi menangis di depanku. Aku tidak tahan melihatnya. Aku ingin merangkulnya.

Mama meletakkan sendok makannya kemudian mengelus belakang Abi, Abi meneteskan air mata ke piring makan yang terletak di depannya. 

“Kalau Abi gak keberatan Abi boleh panggil Ibu dengan sebutan Mama, dan Ibu juga berharap Abi jadi anak Ibu” kata-kata mama malah membuatku ikut menangis.

Aku lihat Abi hanya bisa mengangguk dengan air mata yang terus mengalir. Aku faham sekali apa yang Abi rasakan, juga mengerti bagaimana rasanya menelan makanan ketika sedang menangis. 

***

Pulang dari sholat Jumat dengan bang Juan, aku lihat wajah Abi semakin cerah. Astaghfirullah,,, aku langsung sadar dari perhatianku.

“Mama,,, Abi langsung pulang ya, nanti Abi kabari Mama lagi” Abi pamit. 

Eits,,, tunggu dulu. Barusan Abi memanggil Mamaku pakai Mama juga kan. Oh No… Apa lagi ini. 

Setelah pamit Abi langsung meluncur pulang ke rumahnya. 

“tau gak yang, tadi kami pas pulang dari masjid Abi bilang mau jadi anaknya Mama” bang juan bicara sangat pelan, tapi tetap kedengaran di telinga ku. 

Ya sudahlah, kalau dia jadi anak Mama, berarti kami memang tidak jodoh untuk jadi pasangan, tapi jodoh jadi saudara. Aku pasrah

***

Aku pulang agak sore dari berjalan seharian, sampai sholat juhur pun aku di mall. Begitu sampai rumah adzan ashar pun berkumandang. 

Rame kayaknya. 

Alya melangkah ke dalam setelah mengucapkan salam. 

“ini dia anaknya, pas kan dugaan abang.” bang Juan berkelah. 

Rame bener, ada apa ini ya. Belum sempat aku bertanya langsung ada yang mengenalkan dirinya. 

“kami keluarga Abi, saya ayahnya Abi. Dan yg ini sepupu dan saudara-saudaranya.” Papanya Abi mengenalkan diri. 

Aku menyalami mereka satu per satu sambil memperkenalkan diriku. 

“kedatangan kami ke sini ingin melamar adik Alya, untuk berkenan menjadi istri adik saya Abi” abangnya pula bicara yang membuat ku berasa tidak menginjak tanah. 

“Alya, Al… Jangan bengong” Kak Mira membuyarkan lamunanku. 

“eh, iya iya,, “aku menjawab. 

“apanya yang iya Al.” kata bang Juan. 

“gak tau bang, emangnya tadi abang itu nanya apa? ” aku berbisik di telinga bang Juan. 

Kemudian bang Juan bersuara agak kencang “gimana Al, Abi dan keluarganya melamar kamu tuh, mau gak” 

Bang Juan membuatku malu. “yaha,, pipinya merah lagi” kata Bang Juan kuat-kuat.

“mau ya Al,, Abi udah menunggu kamu hampir sepuluh tahun ini” ucapan Abi membuat semuanya melongo termasuk aku sendiri.

“hebat kamu bang, sepuluh tahun lho… Udah kurikulum baru tuh. Ckckck” sepupu Abi yang perempuan angkat bicara.

Aku tidak menyangka kalau Abi juga menunggu ku, bukan aku saja yang menunggu mu Abi. 

Aku meneteskan air mata,

“cengeng” kata bang Juan. “Alya diam aja Pak, Abi. Itu tandanya Alya setuju.”

Tanpa kata aku hanya mengangguk. Ada sesuatu yang tertahan di dadaku.

Allah,,, astagfirullah… 

***

Sebulan berumah tangga aku belum terbiasa dengan Abi, hingga suatu cerita membuatku tidak lagi kaku. 

“Abi, Alya mau ngomong… ” aku menatap Abi tepat di matanya. 

“iya Al, ngomong aja.” Abi menjawab seadanya. 

“sebenarnya Alya juga menunggu Abi selama hampir sepuluh tahun ini. Alya lihat Abi tidak pernah senyum sama Alya, kita juga gak pernah komunikasi, Abi serius ingin melanjutkan pernikahan ini? Jangan dipaksakan Bi, sebelum kita melangkah lebih jauh dan…” Alya menghentikan omongannya. 

Abi membiarkan Alya menyudahi omongannya. 

“dan sebelum kita punya anak Bi” Alya tertunduk. 

“maafkan Abi Alya, Abi takut tidak bisa menguasai hati ini, Abi takut tidak bisa menjaga Alya, banyak yang Abi takutkan. Abi tidak main-main dengan pernikahan ini Alya. Abi gak pernah pacaran hanya untuk memantaskan diri untuk Alya, karena Abi tau bahwa Alya juga gak pernah pacaran. Sederhana memang. Tapi Abi sangat suka dengan sikap Alya yang begitu. Di saat Abi gak bisa menjadi tameng buat Alya, tapi Alya mampu bertahan sendiri. Bukan berarti Abi ingin membiarkan Alya sendiri, tapi Abi takut terlalu mencintai makhlukNya dibanding Sang Pencipta.” Abi menyudahi omongannya. 

Alya yang mendengarnya tidak mampu menahan sesak di dadanya. Alya menangis terisak. 

“maafkan Alya atas keraguan ini Bi…” ucap Alya singkat. 

“iya gak apa-apa,,, sayang Abi untuk Alya makin bertambah nih kayaknya, Abi kok merasa beruntung banget ya Al,,,” Abi mencandain Alya. 

Cengeng Alya kembali kumat. Abi terkekeh kemudian menarik Alya ke dalam pelukannya. 

“Abi pikir Alya itu orang yang strong eh,, gampang mewek juga, udah ah,, tambah kuat nih Abi meluknya.” becanda Abi. 

Selesai. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s