Tanpa Judul

Assalamu’alaykum,,, penghujung Agustus yang mendung.

Aku masih punya video yang ku ambil di pagi Agustus tanggal satu kemarin. Langitnya merah,,, bukan langitnya yang merah, tapi cahaya matahari nya yang merah jadi ya awannya merah, seolah – olah langitnya merah. Biasanya tahun-tahun yang lalu Agustus itu selalu panas, cerah tapi tidak gersang. Agustus itu berangin. Tidak banyak berbeda dengan Agustus tahun ini hanya saja hujan datang terkadang dan langsung penuh bak penampungan air kami. Hahahaha…

Paskibraka di kampung ku tahun ini sangat berbeda. Dimulai dari pelatihnya yang dari kepolisian ( biasanya yang baju loreng ). Awalnya aku hanya menduga kalau polisi yang menyeleksi pasti mencari fisik yang sempurna (hampir sempurna tanpa cacat) dan yang pastinya “cantik, tampan dan cakap”. DAN TERNYATA PAS. Dugaan ku BENAR,,hahaha…

Maaf aku tertawa lagi,,, polisi-polisi yang di kampung aku itu tampan semua dan itu kenyataan bahwa yang diseleksi untuk Pasukan Pengibar Bendera Pusaka pun sesuai kategori. Seleksi nya selama satu minggu dan itu tidak biasanya. Biasanya kalau yang loreng langsung memilih yang berbadan tegap, tampak kuat dan tinggi, karena muka bisa dipoles. Berbeda dengan seleksi ala kepolisian. Dimulai dari betis, tidak ada varises : (Med.) varicose veins, ukur tinggi dan berat badan. Bisa anda bayangkan yang lolos uji varises langsung ke tahap ukur tinggi dan berat badan cuma dikit, gak cukup walaupun untuk pasukan empat lima. Masuklah cara terakhir yaitu dari wajah. Hmmm… Yang cantik dan tampan langsung lolos tapi tetap ukur tinggi dan berat badan juga. Hasilnya acung jempol dua.

Karena latihannya di lapangan dekat kantor ku jadinya aku sering mendengar ceramah singkat tiap pagi dari pelatihnya, seperti ini “yang muslim jangan bolong solat subuhnya, sebelum solat madi dulu, biar cerah mukanya kalau pagi, begitu juga yang non muslim, mandi pas subuh, berdoa sama Tuhan. Kalian kan bisa bantu Mamak kalian nyiapin sarapan bangunin adik-adik bagi yang punya adik atau saudara kalian yang lain. Jangan pula minta dibangunin”. Bagian itu aku hapal betul karena setelah ucap salam Kakak pelatih pasti langsung ceramah kerohanian gitu. Dan nyatanya yang pingsan saat latihan cuma dua kali dalam tahun ini, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya ada aja tiap minggu yang pingsan. Tiap jam tujuh tiga puluh udah stand by mereka dalam barisan dan ceramah berlangsung, di satu jam itu Kakak pelatih tiap hari bertanya apakah masih ada yang belum sarapan. Jawabnya “ada” dan itu tiap pagi adanya. Hahahaha…sempat aku bertanya kemarin pada mereka kok tiap hari ada yang belum sarapan gitu, jawabannya cuma “sarapan sama Kakak pelatih itu lebih enak walau cuma sebotol aqua sama dua pisang goreng yang besar”. Kantor kecamatan tahun ini memang tiap pagi menyediakan sarapan untuk mereka, dan itu ditempah khusus untuk mereka yang latihan. Hari ini pisang, besok gadung besoknya ubi, seperti itu seterusnya bergantian.

Mereka tampak dimanjakan dan terkesan Paskib loyo, ibu-ibu sampe bapak-bapak di kampung tu ikut merasa gak yakin kalau melihat mereka latihan, tapi hasil di lapangan pas tanggal tujuh belas Agustus kemarin beda banget. Banget bedanya. Berkarisma banget, dan tepuk tangan dari kami yang ikut upacara atau sekedar melihat ikut tepuk tangan, ada yang menangis, ada yang manyapu dada dan bilang “alhamdulillah”, aku dengar jelas karena bapak itu tepat di samping ku. Beda banget tahun ini, bersoraknya itu kuat banget. Ada perasaan puas, haru, semangat. Pokoknya pulang dari lapangan dengan wajah sumringah. 

“Mantap. Mantap. Mantap!. Aku dengar lagi pas aku pulang dari lapangan.

Paskibraka tahun ini beda banget. Paskibraka tahun ini dikasi seragam lengkap kayak pasukan di istana negara dibandingkan tahun -tahun yang lalu hanya kemeja putih, selempang, peci, dan kaos kaki saja.

Sorenya pas penurunan bendera juga rame banget. Biasanya orang -orang udah malas kalau penurunan bendera, karena aku tiap tahun selalu menyakitkan acara penurunan walaupun sepi. Sederhana aja sih, karena tujuhbelasan itu cuma satu hari. Dah gitu aja. 

Ada lagi, marching bandnya juga lebih bersemangat dan memang berasal dari orang musik, jadi idup banget. 

Sekali lagi salut dengan Kakak pelatih yang tabah banget mendengarkan ejekan orang -orang.

Sore ini aku akan berangkat dinas ke Medan jadi ini penutupan Agustus bagiku yang paling berkesan. Aku gak tau bagaimana menuliskannya disini, mungkin kalian yang membaca juga mungkin bertanya di tulisan ini apanya yang berkesan. Demikian tulisan tanpa judul ini dibuat. Terima kasih… 

Assalamu’alaykum… 

Advertisements