Bekerja di Kampung itu…

Lahir di kampung, besar di kampung, sekolah di kampung, kuliah baru lah ke luar kampung alias masuk kampung orang. Kampung orang disini bukan lagi kondisinya kampung. Studi pun selesai balik lagi ke kampung.

Ketika aku bilang “kampung” maka tidak salah jika kalian membayangkan pohon kelapa yang masih banyak dan ada di tiap halaman rumah penduduk, segerombolan pohon pisang yang tumbuh tak beraturan, rumah penduduk yang asri, ibu-ibu yang kalau pas jam sepuluh pasti berkumpul di salah satu rumah mereka. Biasa lah acara live kasak kusuk atau cek en ricek.

Kalau sudah sekolah tinggi apa lagi yang lulusan PTN siap-siap kena kaji jika diantara kalian ada yang pulang kampung untuk bekerja di kampung. Tebalkan telinga, teguhkan hati dan pandai-pandailah mencari liang agar tidak tiap hari ketemu ibu-ibu seperti itu.

Di kampung itu lain gang nya lain pula cerita dan pelakonnya. Tidak memutus kemungkinan bukan ibu-ibu yang menjadi sumber panasnya tetapi bapak-bapak yang kurang kerjaan. Apakah semuanya begitu? Tidak, tentu tidak. Tetapi kamu akan menemukan hal semacam itu tiap hari ketika kamu berjalan menuju tempat kerja mu.

Di kampung itu pekerjaan yang paling banyak adalah pengajar atau guru. Sakin banyaknya maka guru-guru yang belum PNS itu harus rela menerima gaji dua ratus ribu per bulan.

Hal yang aneh menurut ku adalah pikiran kebanyakan orang kampung itu yang…entahlah.

Hal yang istimewa di kampung adalah “seragam”. Seragam mu menentukan masa depan mu di mata para ibu-ibu tadi atau bapak-bapak yang kurang kerjaan tadi. Ini sangat mempengaruhi mental seorang anak muda yang tinggi gengsi dan tidak kuat mental. Tidak demikian halnya dengan anak muda yang teguh hatinya.

Banyak yang bergelar sarjana di kampung ini yang berakhir tragis dan pasrah dengan keadaan. Rela melepas baju kebesarannya hanya karena omongan yang tidak penting.

Kaya pun kamu, kerjamu adalah toke pemborong, tapi karena kamu berijazah dan itu tidak sesuai jalurmu maka habis-habisan la kamu akan jadi bahan omongan.

Buat apa sekolah tinggi kalau akhirnya jadi pemborong jua, yg gak sekolah pun bisa…

Jauh-jauh sekolah ujung-ujungnya jd tukang becak…

Si Anu gak sekolah dia banyak jua nya hartanya. ..

Begitulah polemik hati anak muda yang anak kampung balik kampung.

Keseringannya sih mereka lebih memandang yang berseragam.

Ya. Seragam itu adalah tolak ukur kesuksesan dimata mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s