Masa Kecil part-3

Ini masa dimana aku sudah masuk sekolah. Aku kecil selalu ikut kemana nenekku pergi, tiap acara wirid atau apa pun itu kalau diajak nenek. Karena kampung nenek ada di Teluk Putat, Sei Pelancang dan waktu itu belum ada kendaraan darat untuk kesana jadi harus berangkat jam delapan pagi dan sampainya jam empat sore dengan sekali singgah di pemberhentian. Nah kalau setiap pigi ke kampung nenek aku so pasti ikut walaupun itu hari masuk sekolah, jadilah aku tiap dalam sebulan ada absen ku.

Kalau udah pergi jauh nenek pasti bawa banyak makanan, yang buatan sendiri lah, yang dibeli di tangkahan (pelabuhan), termasuk telur rebus yang dijajakan di dalam bot pasti dibelikan tanpa diminta. Enaknya yang punya nenek. Itu kenangan hingga aku berusia delapan tahun dan nenek pun pergi untuk selamanya. Sebelum nenek pergi, ia sempat memperlihatkan penyakit yang disembunyikannya selama ini pada ku, ya aku yang pertama tahu tentang sakitnya. Sesak di dada saat menuliskan bagian ini.

Aku rindu nenek.

>>>

Oh ya ada momen dimana hujan adalah bagian hal yang paling aku suka selama ini. Aku dan teman-teman ku suka bermain hujam, tapi sebelum itu kami lari ke dapur mengambil plastik asoi buat dipasang di kaki dan dijadikan kayak sepatu gitu, saat angin mulai kencang berhembus disitu kami lari-larian. Kayak menunggu hujan turun.

Tapi begitu pun tetap aja kena marah karena kami lari-lari nya di pasar, apalagi kakek ku bweeeeh,,, matanya merah kalau menahan marah, kalo aku tetap ora peduli. Menurut aku pas banget la aku jalanin masa kecil seperti itu, karena musim hujan deras sama angin kencang itu ada di bulan tertentu, tidak seperti sekarang yang tidak menentu lagi.

Bermain di ladang tiap sabtu sama minggu. Oh iya, masa bercocok tanam di kampung ku itu cuma setahun sekali, lahannya tadah hujan breii. Ke ladang itu aman, pergi bersih pulang pun bersih, tidak ada pacat (lintah pengisap darah), yang ada itu kodok warnanya cantik-cantik, memburu sangkar burung yang ada telur atau anakannya (yang ini gak pernah dapat), burung yang tersangkut di jerat (adikku yang ahlinya nih, aku cuma nunjuk-nunjuk aja), suara elang gagak yang wah kuat banget, aku pernah menangis dibuatnya karena sakin kuatnya aku pikir dia bakalan turun dan mematuk aku. Hahaha… lah iya. Karena dari suaranya yang kuat maka bayangan yang ada dikepala ku waktu itu elangnya juga sebesar aku. Efeknya sampe sekarang aku kalau melihat elang masih sering merinding tapi gak takut kayak dulu lagi.

Ada lagi, makan bontot di pondok ladang, lauknya bakar ikan asin yang dibawa dari rumah, makan lalapan timun sama kacang panjang yang dipetik langsung. Itu yang menanamnya kakek sama nenek ku di dekat pondok.

Suasana seperti ini tuh tidak ada lagi sekarang. Hampir delapan puluh persen lahan sawah berubah menjadi kebun sawit, sisanya kebun karet dan kencur. Kampung aku di Sei Berombang, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu. Cari aja di google mudah – mudahan udah kelihatan di peta, hahaha…

Kalau di kampung seberang kayaknya masih ada deh areal persawahan. Soalnya banyak ibu-Ibu di kampung ku ambil upahan mengetam di sana dengan upah lima puluh ribu per hari per orang.

Sekarang Ayah sama Amak cuma berkebun kencur, dan yang menikmati pondoknya ya cuma mereka aja. Adik-adik ku kalau pun datang ya cuma kalau di suruh aja. Mereka tidak tertarik kayaknya.

Aaahhhh… indah banget la masa kecil ku.

Advertisements