Suami Dari Abangku Part. 5

Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Alya selama di perjalanan. Begitu sampai di rumah Alya langsung menuju kamarnya.

Melihat tingkah adiknya itu kak Mira menghampiri Alya ke kamarnya. 

“ada apa sayang, coba istighfar dulu” kata kak Mira yang diikuti Alya. 

Alya menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan. Bahkan Alya juga memberi tahu kak Mira bahwa Abi adalah orang yang muncul di pikirannya kemarin. 

Kak Mira tersenyum. 

Kemudian pergi meninggalkan Alya, ya,, Alya butuh waktu untuk menerima kenyataannya. 

Kalau kita memang ditakdirkan tidak berjodoh, mengapa kita dipertemukan kembali. 

Alya menulis di buku kecilnya yang sering ia bawa.

Seketika ia teringat kata-kata bang Juan yang mau menjodohkannya. Apa mungkin orang yang dijodohkan itu adalah Abi. Ah, mana mungkin. Abi pasti udah punya kekasih. Tapi kenapa alasan bang Juan kemarin mengada-ada pake bilang SPSS segala. Au ah gelap. Yang pastinya bang Juan membuat aku malu di depan Abi. Walau sebenarnya aku memang belum laku. Astagfirullah… 

***

Drrt drrt… 

Hp Alya ada notif line yang masuk. Begitu Alya tambahkan sebagai teman langsung masuk pesan baru. Nama kontaknya “Abi”

Abi> Assalamu’alaykum Alya, ini Abi. Maaf yang kemarin Abi gak ada maksud membuat Alya menangis. 

Alya> Waalaykumsalam, udah la Abi, Abi gak salah kok. Alya aja yang terlalu sensitif. 

Abi> kapan kita bisa ketemu lagi ?

Di lain pihak Abi menatap layar HP nya, Alya hanya me_read, tidak ada balasan dari Alya. 

***

“cie cie,,, yang ngambek udah baikan, mata kok keluar gitu dek” bang Juan masih saja mencagili Alya, sedangkan Alya memasang muka masam kepada abangnya yang usil itu. 

“udah Juan, kasian adikmu digituin terus.” Mama menasehati Juan. 

“iya nih, abang” Alya memanyunkan bibirnya, kak Mira yang melihat itu ikut tertawa. 

“Sayang, ambilkan piring satu lagi” perintah Juan pada istrinya. 

Mira tidak bertanya piring itu untuk apa, ia hanya mengambilkannya saja. 

“Assalamu’alaykum,, ” suara tamu di luar. 

“waalaykumsalam… Masuk Bi” jawab Juan lantang. 

Semuanya kaget dibuatnya, kecuali Juan karena ia yang berencana. 

Abi langsung masuk. Kemudian menyalami Mama, bang Juan dan kak Mira sedangkan Alya menunduk,

“Al… ” sapa Abi 

“iya. Bi.” jawab Alya. Belum habis kenangan semalam dan sekarang mulai lagi episode baru. Rengek batin Alya. 

“kita langsung makan ya, Juan yang mengundang Abi buat makan siang di rumah kita. Karena ini hari jumat, kantor cepat tutup dan…kantor Abi sangat dekat dari sini” Juan menjelaskan.

“Mama senang kok Nak, Mama gak kepikiran sejauh itu.” kata Mama yang kemudian melanjutkan “jangan sungkan ya nak Abi, anggap aja rumah sendiri” 

“Subhanallah,,,ini wajahnya Abi, kakak sering liat Abi kalau beli makanan di dekat situ,,,” wajah kak Mira sumringah. 

“Abi ingat kok sama Kakak, bukannya kakak ada anak kecil ya, dimana dia gak?” Abi menyahuti omongan Mira. 

“iya, ada. Anak kakak tidur Bi di kamar,,,” 

“nanti aja ya dilanjutkan, kita makan dulu.” Alya bersuara. 

Abi, terlihat senang di wajahnya. 

“enak Buk, berasa masakan Mama Abi” mata Abi berkaca-kaca. 

Aku mendengarnya ikut sedih, Mama Abi meninggal di tahun 2014 waktu kami babak terakhir kuliah. Aku melihat Abi menangis untuk pertama kalinya waktu itu. Dan sekarang aku melihatnya lagi menangis di depanku. Aku tidak tahan melihatnya. Aku ingin merangkulnya.

Mama meletakkan sendok makannya kemudian mengelus belakang Abi, Abi meneteskan air mata ke piring makan yang terletak di depannya. 

“Kalau Abi gak keberatan Abi boleh panggil Ibu dengan sebutan Mama, dan Ibu juga berharap Abi jadi anak Ibu” kata-kata mama malah membuatku ikut menangis.

Aku lihat Abi hanya bisa mengangguk dengan air mata yang terus mengalir. Aku faham sekali apa yang Abi rasakan, juga mengerti bagaimana rasanya menelan makanan ketika sedang menangis. 

***

Pulang dari sholat Jumat dengan bang Juan, aku lihat wajah Abi semakin cerah. Astaghfirullah,,, aku langsung sadar dari perhatianku.

“Mama,,, Abi langsung pulang ya, nanti Abi kabari Mama lagi” Abi pamit. 

Eits,,, tunggu dulu. Barusan Abi memanggil Mamaku pakai Mama juga kan. Oh No… Apa lagi ini. 

Setelah pamit Abi langsung meluncur pulang ke rumahnya. 

“tau gak yang, tadi kami pas pulang dari masjid Abi bilang mau jadi anaknya Mama” bang juan bicara sangat pelan, tapi tetap kedengaran di telinga ku. 

Ya sudahlah, kalau dia jadi anak Mama, berarti kami memang tidak jodoh untuk jadi pasangan, tapi jodoh jadi saudara. Aku pasrah

***

Aku pulang agak sore dari berjalan seharian, sampai sholat juhur pun aku di mall. Begitu sampai rumah adzan ashar pun berkumandang. 

Rame kayaknya. 

Alya melangkah ke dalam setelah mengucapkan salam. 

“ini dia anaknya, pas kan dugaan abang.” bang Juan berkelah. 

Rame bener, ada apa ini ya. Belum sempat aku bertanya langsung ada yang mengenalkan dirinya. 

“kami keluarga Abi, saya ayahnya Abi. Dan yg ini sepupu dan saudara-saudaranya.” Papanya Abi mengenalkan diri. 

Aku menyalami mereka satu per satu sambil memperkenalkan diriku. 

“kedatangan kami ke sini ingin melamar adik Alya, untuk berkenan menjadi istri adik saya Abi” abangnya pula bicara yang membuat ku berasa tidak menginjak tanah. 

“Alya, Al… Jangan bengong” Kak Mira membuyarkan lamunanku. 

“eh, iya iya,, “aku menjawab. 

“apanya yang iya Al.” kata bang Juan. 

“gak tau bang, emangnya tadi abang itu nanya apa? ” aku berbisik di telinga bang Juan. 

Kemudian bang Juan bersuara agak kencang “gimana Al, Abi dan keluarganya melamar kamu tuh, mau gak” 

Bang Juan membuatku malu. “yaha,, pipinya merah lagi” kata Bang Juan kuat-kuat.

“mau ya Al,, Abi udah menunggu kamu hampir sepuluh tahun ini” ucapan Abi membuat semuanya melongo termasuk aku sendiri.

“hebat kamu bang, sepuluh tahun lho… Udah kurikulum baru tuh. Ckckck” sepupu Abi yang perempuan angkat bicara.

Aku tidak menyangka kalau Abi juga menunggu ku, bukan aku saja yang menunggu mu Abi. 

Aku meneteskan air mata,

“cengeng” kata bang Juan. “Alya diam aja Pak, Abi. Itu tandanya Alya setuju.”

Tanpa kata aku hanya mengangguk. Ada sesuatu yang tertahan di dadaku.

Allah,,, astagfirullah… 

***

Sebulan berumah tangga aku belum terbiasa dengan Abi, hingga suatu cerita membuatku tidak lagi kaku. 

“Abi, Alya mau ngomong… ” aku menatap Abi tepat di matanya. 

“iya Al, ngomong aja.” Abi menjawab seadanya. 

“sebenarnya Alya juga menunggu Abi selama hampir sepuluh tahun ini. Alya lihat Abi tidak pernah senyum sama Alya, kita juga gak pernah komunikasi, Abi serius ingin melanjutkan pernikahan ini? Jangan dipaksakan Bi, sebelum kita melangkah lebih jauh dan…” Alya menghentikan omongannya. 

Abi membiarkan Alya menyudahi omongannya. 

“dan sebelum kita punya anak Bi” Alya tertunduk. 

“maafkan Abi Alya, Abi takut tidak bisa menguasai hati ini, Abi takut tidak bisa menjaga Alya, banyak yang Abi takutkan. Abi tidak main-main dengan pernikahan ini Alya. Abi gak pernah pacaran hanya untuk memantaskan diri untuk Alya, karena Abi tau bahwa Alya juga gak pernah pacaran. Sederhana memang. Tapi Abi sangat suka dengan sikap Alya yang begitu. Di saat Abi gak bisa menjadi tameng buat Alya, tapi Alya mampu bertahan sendiri. Bukan berarti Abi ingin membiarkan Alya sendiri, tapi Abi takut terlalu mencintai makhlukNya dibanding Sang Pencipta.” Abi menyudahi omongannya. 

Alya yang mendengarnya tidak mampu menahan sesak di dadanya. Alya menangis terisak. 

“maafkan Alya atas keraguan ini Bi…” ucap Alya singkat. 

“iya gak apa-apa,,, sayang Abi untuk Alya makin bertambah nih kayaknya, Abi kok merasa beruntung banget ya Al,,,” Abi mencandain Alya. 

Cengeng Alya kembali kumat. Abi terkekeh kemudian menarik Alya ke dalam pelukannya. 

“Abi pikir Alya itu orang yang strong eh,, gampang mewek juga, udah ah,, tambah kuat nih Abi meluknya.” becanda Abi. 

Selesai. 

Suami Dari Abangku Part. 4

Mana sih orangnya, lama banget. Batin Alya mulai menggerutu. Pasalnya sudah hampir satu jam mereka menunggu. 
Mau menanya bang Juan, Alya jelas gak mau. Paling juga di suruh bersabar. 

“Assalamu’alaykum,,, bang Juan” sapa seseorang yang membuat Alya terpaku karena mengenali suaranya. Alya langsung mendongakkan kepalanya, dan jelas itu orangnya. Orang yang kemarin sering muncul tiba-tiba di pikiran Alya. 

Bukannya menjawab salam malah Alya langsung memanggil “Abi! ”

Gak habis pikir, Alya mengalihkan pandangannya ke arah bang Juan. 

“waalaykumsalam Abi, duduk” kata bang Juan santai. 

“Abi pikir Abi yang kecepatan, eh bang Juan dan Alya udah duluan” abi berkata santai. 

“lho, kita nungguin kamu udah hampir satu jam tau.”sela Alya. 

“hahaha,,, janjiannya memang jam segini kali Alya, abang segaja cepatin karena kamu dandannya lama… Kayak mau melamar kerja.”  agak diam sejenak bang Juan melanjutkan “Abi masih ingat kan sama Alya? Adik abang satu-satunya ”

Ku perhatikan Abi hanya mengangguk dengan wajah datar. 

Alya gak menyangka ini ulah abangnya sendiri. 

“Alya, apa kabar? Lama ya gak ketemu.” Abi menanya dengan nada datar. 

“alhamdulillah baik.” Alya menjawab seadanya. 

“Oh iya bang, kita…”

Bang Juan sama Abi ngomong berdua dan Alya merasa sedang menonton acara debat. Lain halnya di hati Alya, jantungnya gak berhenti dag dig dug. Apa maksud bang Juan mempertemukan kami? Apa bang Juan tau isi hati ku. Tapi Abi kan gak ada rasa sama aku. 

Alya menerawang ke ingatannya di waktu zaman kuliah. 

Abi bukan teman dekat atau teman baikku. Abi dan aku gak pernah terlibat percakapan apa pun bahkan yang kecil pun tidak. Abi selalu dekatnya sama teman dekatku. Tetapi bagaimana pun Abi di antara kami, aku dan Abi gak pernah saling kontak.

Menyesakkan di dada, orang yang aku sukai sepenuh hati tapi gak pernah melirik sedikit pun ke arah ku. Sekian tahun kuliah maka segitulah aku menahan gejolak perasaan ku padanya. Terakhir Abi hilang dari hatiku karena aku menyerah dengan keadaan. Lulus kuliah aku pun mengubur dalam-dalam perasaan ku. Dan sekarang kami dipertemukan lagi, dimulai dari kemarin dalam doa ku Abi terlintas hingga sekarang ia ada di depanku. Dadaku kembali sesak, aku menahan nafasku agar tidak keluar air mataku. Aku mengibas-ngibaskan tangan ku ke wajah. 

“Alya, kenapa wajahmu merah, kepanasan ya? ” pertanyaan bang Juan membuat ku malu. Haduh, ini wajah gak bisa kompromi apa, memerah seenaknya saja. Aku menggeleng menanggapi pertanyaan bang Juan. 

Mau kemana ku taruh mukaku ini. Aku menunduk malu. 

“Alya, ngomong napa, jangan liatin Abi terus” kata bang Juan mengagetkan ku. Perasaan aku tidak memperhatikan Abi, ini akal-akalan bang Juan membuat aku blushing. 

“Alya tidak liatin Abi kok bang, Alya itu nonton acara debat live. Seru” ucap Alya membuat Abi menoleh kepadanya. 

Alya tertunduk, 

“ya elah, pake muka merah lagi” canda bang Juan. 

“Bi, kamu mau kan jadi suami adek Abang? Walau udah berumur tapi masih tetap awet kok” bang Juan terkekeh dengan apa yang diucapkannya. 

“apaan sih bang, Al… ” 

“Alya gak suka sama Abi bang Juan,,” Abi memotong ucapan Alya yang membuat Alya melongo. 

“kalian ini” Alya berdiri mau meninggalkan abangnya dan Abi yang masih duduk menatapnya heran. 

Air mata Alya akhirnya keluar. 

Dengan tatapan yang entah seperti apa Alya meninggalkan mereka. 

Abi mau mengejar Alya tapi ditahan Juan. “udah,, biarin aja. Gak kemana-mana kok dia” 

***

Abang kok tega gitu sih, Alya malu. Apa bang Juan gak tau. Abi juga, kok ngomongnya gitu pula, Abi memang gak peka. Hampir sepuluh tahun aku menahan ini semua semenjak awal kuliah.

Alya meninggalkan mereka dan langsung menuju mobil. 

***

Abi merasa bersalah karena ngomong seperti itu. Tapi apa mau dikata, udah keluar duluan ucapannya, gak bisa ditarik lagi.

Seharusnya Aku gak boleh seketus itu sama Alya, tapi apa benar Alya menyukai ku. 

Abi, melangkah gontai menuju parkiran mobilnya. Kepalanya tertunduk memikirkan apa yang telah dilakukannya.

***

Suami Dari Abangku Part. 3

Tinggal seminggu di rumah abang gak membuat ku betah karena gak ngapa-ngapain, beda kalau di rumah sendiri ada usaha yang mesti dikontrol. Sebenarnya memang itu hobbi ku walau hanya sekedar mampir. Itu sebabnya aku pamit pulang dan bagaimana dengan Mama? Mama betah aja tuh. 

“Jadi gimana ini Ma, si Alya kita jodohkan aja ya” kak Mira tiba-tiba ngomong 

“ide bagus itu, iya Mama setuju deh pake banget ” kedengarannya Mama bersemangat ya kan 

“nanti aku bilang sama Aa ya Ma” si kakak juga gak kalah girang. Mereka mengabaikan wajahku.

***

Aku sudah kembali ke rutinitas ku yang biasa. 

Banyakin istighfar ya sayang dibanding mikir. 

Aku membaca SMS yang dikirimkan Kak Mira. Aku ingat kemarin kakak ku bilang akan menjodohkan aku, tetapi dengan siapa ya. Apa teman bang Juan atau Kak Mira. 

Sekarang aku malah gak fokus, padahal aku sedang membuat sketsa untuk model baru, ku ketuk-ketukkan pensil ku ke meja kerja sampai-sampai aku tidak mendengar ada yang mengetuk pintu ruanganku hingga orang tersebut terpaksa masuk begitu saja.

“maaf Bu, saya masuk saja ” katanya sopan sembari menyerahkan laporan mingguan. 

“oh, gak apa-apa, saya yang melamun tadi”

Oh Tuhan,,,

Aku agak tidak bersemangat hari ini, aku buka IG untuk sekadar melihat-lihat. 

Tap. 

Aku terhenti.

Orang ini, yang kemarin muncul dalam doa ku ketika berangkat ke rumah Abang. Sayang akunnya di privat, mau difollow ada rasa gengsi, gak difollow malah penasaran. Piye iki Gusti… Jerit bathin Alya. 

Astagfirullah, apa ini. Udah. Gak usah terlalu dipikirin. Dosa. Dosa. Gak MUHRIM. 

Alya bicara sendirian merutuki HP nya. 

Sesaat kemudian Alya menelepon seseorang. 

” Assalamu’alaykum, Ma.” Alya menghubungi mamanya 

“….”

“Alya rindu Mama, besok Alya ke sana ya,” Alya mengakhiri teleponnya. 

***

Alya menyusun piring makan membantu kak Mira, 

“kak, aku kok tiba-tiba teringat satu orang ya kak. Padahal udah lama banget gak ketemu apalagi kepikiran. Pokoknya tiba-tiba aja gitu ” Alya cerita di sela-sela kegiatannya menyusun piring di meja makan. 

“kamu kangen kali sama dia” kak Mira menjawab sekenanya. 

“ih gak la kak. Udah bertahun-tahun loh kak baru tiba-tiba ingat sekarang ” alya menjelaskan lagi. 

“makan dulu ya, Alya panggil abang sama Mama ya dek” perintah kak Mira yang langsung dituruti Alya. 

Di meja makan, 

“bener kamu keingat seseorang Al? ” tanya bang Juan 

Nih orang tau darimana ya,, pikir Alya.

“besok temenin abang ya, jumpa temen. Kamu kan jago SPSS” apa pula la alasan aku ini, receh banget kedengarannya. Menggerutu di hati Juan. 

“ih abang. Kan abang juga bisa kalau sekadar SPSS. Jangan ngasal deh ” 

Alya seperti mampu membaca pikiran  Juan, 

“gak bisa Al, abang gak bisa lama-lama, lah kamu kan gak ada kerjaan di sini. Bantu abang dikit ntar abang kasi fee ” bang Juan mencoba merayu. Tapi gak pande. Hahahaha 

“abang ini, aku bukan anak kecil lagi yang tiap habis kerja langsung dikasi upah” jawab Alya. “iya, besok Alya bantuin abang, gak usah pake fee segala, cukup semangkuk mie bakso sama jus martabe” Alya cengar-cengir.

Suami Dari Abangku Part. 2

“kasihan adikmu Juan”.. Mama menjawab sekadarnya 

“aku boleh ikut kan kak? Boleh ya,,, udah lama juga gak keluar, kalo urusan diaini mah gampang itu… ” aku meminta pada kak Mira yaitu kakak iparku. 

“ya boleh dong sayang,” 

“jadi Mama mau kan, urusan disini semoga Allah ngasi jalan keluarnya. Sebenarnya kami berencana cuma seminggu disini.” bang Juan menyebutkan. 

“Mama sich ikut aja,,,”

Aku tau Mama itu selalu saja merindukan abangku yang satu ini, makanya ringan kali jawabannya. Hahahaha… Juga orang tua kak Mira sudah tidak ada, bertambah aja sayang Mama sama kak Mira. Aku lihat kak Mira memeluk Mama sambil tersenyum.

***

Di perjalanan aku banyak melamun, sering aku berfikir apa yang salah dengan diriku. Banyak temanku yang lebih mapan dari aku tapi mereka sudah berkeluarga,,

“Alya,, ”

“ha, iya kak,, ” aku dikejutkan panggilan kak Mira. 

“jangan banyak melamun, banyakin istighfar.. ”

“iya kak, makasih kak ” 

Kak Mira tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke arah putrinya yang tertidur tepat di pangkuannya. 

Sesaat bang Juan membelokkan mobil ke kanan,,

“kita solat dulu ya, udah adzan asar.. ” bang Juan menjelaskan. 

Tidak ketinggalan si kecil pun dibawa, duh tu anak lelap amat tidurnya. Bikin iri aja. 

Dalam doa, ku terkejut dengan bayangan yang tiba-tiba terlintas di benakku. Kenapa tiba-tiba dia muncul.

Aku segera menyelesaikan doa ku, aku amati mama, abang dan kakakku yang masih hanyut dalam doa. Hatiku menjadi gusar karena bayangan tadi. 

“ada apa Alya? ” tanya Mama yang menyadari lamunan ku. 

“oh, tidak Ma, Alya ngantuk Ma,” aku berkelah. 

“kalau ada apa-apa jangan dipendam dek, sakitnya tuh di sini” kak Mira bercanda sambil menunjuk lututnya. 

“haha,, kakak bisa aja deh. Gak ada apa-apa kok kak.. ”

Kami melanjutkan perjalanan. Sekitar lima jam lagi baru sampai di tempat bang Juan. Jauh boook. 

Suami Dari Abangku

Sore itu di bawah langit jingga yang keemasan, duduk sendiri di sebuah kursi panjang yang dilindungi pohon rindang. Aku menatap ke atas menerobos pandangan yang tiada batas. Aku menyesap aroma daun kering yang berguguran. Aku menatap langit tanpa jeda, aku mengabsen tiap awan yang beranjak. Di kursi ini lah aku merasa leluasa untuk mencurahkan semua isi hati ku yang kubuat dalam bentuk tulisan. Kadang ia berupa puisi, kadang juga berupa cerita yang pendek. 

Jauh di lubuk hati ku, aku masih terpikir kata-kata abang ku “wanita yang baik untuk lelaki yang baik”. Sudah cukup lama aku tau kata-kata itu, tetapi baru sekarang aku sadar sepenuhnya akan maknanya. 

Hah,,, aku mengehembuakan nafas berat ku ke atas, ya aku masih menatap langit yang mulai berubah warna lagi. Aku yang masih memiliki rasa ragu dengan dalam hati ku, tetap mengikuti apa yang diajarkan padaku, walau aku sudah tahu itu adalah kewajiban atas diriku. Mengenakan jilbab dan pakaian longgar. Aku tidak pernah merasa mantap dengan pilihan ku ini, tetap aku lakukan demi mendapatkan berkah dalam hidupku dan meraih ridhoNya. Pelan-pelan akan terbiasa, begitu pikirku. 

***

Aku sudah dua tahun resign dari tempat kerja ku sebelumnya, bukan karena perubahan ku ini, tetapi dikarenakan aku harus fokus menjalankan usaha yang sudah aku rintis sejak empat tahun yang lalu. Sebuah butik kecil yang sudah mempunyai cabang-cabang yang kecil juga. Pendapatan dari butik lebih besar dibandingkan dengan penghasilan aku per bulan ketika masih bekerja di luar. Setidaknya itu masih menjadi kekuatan ku sebagai seorang yang belum menikah. 

Aku belum menikah, padahal usiaku menginjak dua puluh sembilan tahun.

Orang lain berfikir mungkin aku pilih-pilih, tetapi asal kalian tahu, aku belum pernah pacaran sekali pun walaupun aku pernah menyukai beberapa orang dalam hidup ku. Juga sampai sekarang belum ada yang mencoba untuk menanya dan melamarku. Yang aku tahu orang-orang bilang udah mundur duluan karena status sosial ku yang berpendidikan juga sudah mapan. Padahal aku sudah menahan hasratku untuk tidak lanjut ke jenjang S2, jadi apa lagi salahku. Aku menjadi mengutuki diri dalam hati. Keinginan untuk berumah tangga bukan karena aku menjadi buah bibir ibu-ibu tetanggaku, ini murni keinginan ku untuk hidup yang sempurna, yaitu hidup berpasangan. Aku tidak punya kriteria seperti apa dan mesti bagaimana, yang aku inginkan seseorang yang penyayang dan bertanggung jawab. 

***

Ini rumah rame bener ya,, pikirku. 

“Assalamu’alaykum Alya,,,” sapa seseorang yang sangat ku kenal. 

“waalaykum salam,,,”aku menjawab salam dari kejauhan. “abang!,,kapan sampe? Kemenakan kecil aku mana Bang? ” aku melanjutkan setelah ku tau ternyata abang ku Juan yang datang. 

“baru aja,,,tuh masih di depan sama kakakmu. Mama mana? ” abang cuma nyosor langsung masuk mencari mama di dalam. 

Huh, abang selalu saja gitu, gak rindu sama aku, cuma mama dan mama. Padahal kan aku adik satu-satunya abang. 

“Alya,,, tante Alya,,, kami datang” suara kakak aku menyeruak memecah lamunanku. 

Itu dia yang selalu aku rindukan. Kakakku yang cerewet dan heboh, dan anaknya yang super imut.

“iya kakak…”aku berlari menghampiri kakak iparku yang edisinya terbatas.

Waduhhh kalau udah ada kakak di rumah senangnya hati ya Allah,,,  biasanya cuma ada aku dan mama, ayah sudah pergi menghadap Rabb sejak dua tahun yang lalu. Sedangkan abang setelah selesai kuliah langsung diterima kerja di luar sehingga sangat jarang pulang ke rumah, jadi bisa dibayangkan gimana sepinya rumah dan hati mama yang selalu rindu dengan abang. 

“kakak,, Alya rindu sama kakak la, capek gak kak di perjalanan.. “aku menggelendot di lengan kakak ku ini, kakak cuma senyum kemudian menggeleng. 

“kakak kalau perjalanannya ke rumah sini mah gak akan ada capek-capeknya. Selalu excited, lihat ni Al kakak bawa apaan..yang ni bawa untuk mama, trus plastik yang hitam tarok di kulkas ya,” kakakku menjelaskan panjang lebar beban oleh-olehnya, padahal aku lihat jelas sekali capeknya dia. Tidak ku lupa langsung ku raih kemenakan ku satu-satunya juga sekalian barang bawaan kakakku. 

***

Di ruang tengah kami berkumpul, kakak datang dari dapur membawa buah dan gorengan yang dibuatnya tadi sore. 

“Ma, jadi gimana nih si Alya yang masih betah melajang..apa gak ada yang datang? Setidaknya ada yang menanya gitu Ma? ” mulai lah si abang membuka topik sensitif bagiku. 

“gak tau Juan, Alya gak ada cerita sama Mama juga. Trus yang datang juga gak ada. Tau sendiri kan teman adikmu cewek semua” mama menjelaskan pada abang. 

“yahhh, kalah dong dibanding aku Ma, aku belum lagi lulus SMA udah banyak yang mau melamar dan datang ke rumah” kakak ikut dalam percakapan. “padahal cantik an Alya dibanding kakak, ” lanjutnya lagi. 

“hahaha,,, Alya terlalu judes makanya gak ada yang berani” bang Juan mengejek ke arahku. 

“Aa apaan sich, masa adeknya digituin. Nanti tambah drop loh Alya nya.” kakakku memang tau banget penderitaan ku. 

“gak apa-apa kak, udah biasa.” aku pasrah dengan pembicaraan mereka. 

“Ma, ke tempat kakak ya Ma. Rencananya kami seminggu di sini, Aa Juan gak bisa lama-lama libur.” aku mendengar kakak langsung bicara langsung pada intinya. 

“mau ya Ma, Juan selalu rindu sama Mama juga Alya” bang Juan bersuara. 

Hening…

“Kasihan adikmu Juan,,” mama menjawab singkat. 

Jodoh Tak Kemana 5

Berteman dengan seorang idol?

Hayo,,, kalian mungkin harus punya wajah seperti aku. Kenapa aku bilang seperti itu. Percakapan kami tadi itu masih ingat kan? 

“aku mempercayai mu, aku bisa lihat dari wajah dan matamu ”

Kalimat itu adalah penutup dari pertemuan singkat kami di bus hijau. Itu dia yang menggunakankannya padaku. Aku hanya berterima kasih dan kami berpisah karena arah tujuan kami berbeda. 

“suatu saat kita jumpa lagi, jangan segan untuk bicara pada ku, kamu bisa percaya pada ku ” dia akhirnya berbicara, itu yang di ucapkannya sebelum berpisah tadi. 

“bye bye cingu ya.. “lanjutnya lagi

“bye bye, jaga kesehatan mu, aku menantikan karya-karya kalian” aku melambaikan tanganku dan dia agak berlari. 

Dia menganggap aku sebagai temannya.

Aku masih terus berjalan. Waktu lima belas menit bisa membuatku bertemu teman baru yang sangat berharga. 

OK, fine. Di sekitar sini banyak menjual alat-alat musik dan toko elektronik. Aku memasuki satu persatu tetapi tidak berapa lama aku langsung keluar, bukan karena tidak ada yang ingin aku beli, hanya saja pemilik atau penjaganya tidak asik. Sederhana banget ya alasannya. Aku mau bertemu orangnya atau alat musik yang dijualnya. Hahaha… Namanya juga pelancong yak… Kagak ape-ape la… Begitu gaya Ust. Yusuf Mansyur kalau lagi ceramah. 

Sorry melarat lagi ceritanya. 

Aku makan dulu, aku memilih untuk makan cheesecake sama hot chocolate saja, karena akan melanjutkan jalan-jalan lagi.

Aku pernah bilang kan kalau wanita Korea itu bak boneka berjalan. Jangankan wajahnya, kuku mereka juga. Ya Allah… Cantik banget mak eeeee.. Nail art nya itu loh… Aku cuma bisa pakai inai, susah kalau pakai kutek mah.

Sebenarnya mereka sangat sopan pakaiannya, bukan seperti yang dilihat di TV, drama atau acara musik gitu. Kebanyakan wanitanya pakaiannya longgar kok, jeans juga panjang. Ini realitanya. 

Aku melanjutkan perjalanan ku yang sudah aku tetapkan arahnya. Aku mencari gitar. Aku sengaja mau beli di sini, aku sudah pernah cari di Medan tetapi tidak dapat seperti yang aku inginkan. 

Aku melewati beberapa toko kemudian menghentikan langkah ku tepat di depan toko yang sebenarnya modern banget tetapi terkesan antik. Aku masuk ke dalam, yeokshi… Penjaganya biasa aja, gak langsung tergopoh menghampiri aku, tidak langsung menanya apa yang aku ingin beli. Asik kan,, iya lah,,, gini baru. Pikirku. 

Aku tidak merasa terbebani harus membeli sesuatu di sini. Aku mengangguk ke arahnya yang sedang menyapu pelan. Anggukan ku dibalas kemudian memberi isyarat kepada ku untuk melanjutkan apa yang ingin ku lihat di tokonya.

Tidak berapa lama, dia menanyakan hal serupa dengan teman baru ku yang aku dapat di bus tadi. 

“nona dari mana? ” begitu tanyanya. 

“aku dari Indonesia ” aku jawab dengan bahasa Korea yang membuatnya agak kaget dan tersenyum. 

“aku senang anda bisa berbahasa Korea, aku agak kesulitan jika harus berbahasa Inggris.” jawabnya dengan sedikit menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal itu. 

“jika anda ingin tahu sesuatu, dengan senang hati akan saya bantu sebisa saya ”

“terimakasih, sebenarnya saya….” aku menceritakan apa yang ada di kepala ku hingga terjadi obrolan ringan diantara kami. 

Sebenarnya pengunjungnya bukan aku saja, ada beberapa pasangan juga. Aku bilang sekali lagi dia itu asik banget, tamu yang lainnya juga diperlakukan sama seperti aku hingga terbentuk satu kelompok yang isinya orang asing semua. Keren kan…. 

Mereka duluan pergi setelah menemukan apa yang mereka cari. 

“nona, sebenarnya aku bekerja di sini sudah lebih dari sepuluh tahun” katanya memulai pembicaraan, kemudian melanjutkan “dulu aku di PHK, toko ini pemiliknya mempunyai sebuah agensi, tetapi tidak ada yang tahu kalau aku tidak memberi tahu ”

“hmmm,,, betah kerja di sini? “aku menanyakannya lagi. 

“nona, tidak ingin tahu siapa pemiliknya?” dia malah nanya balik. 

“tidaklah, untuk apa. Aku hanya ingin tahu, apa yang membuat anda tahan bekerja di sini? Aku sangat penasaran.” aku mengulang pertanyaan ku. 

“itu karena pemiliknya yang sangat baik, sopan dan sangat menghargai orang lain seperti saya ini. 

“tidak ada paksaan, tidak ada membedakan, dia juga yang melatih saya bagaimana bersikap dengan orang baru. Nama saya adalah… ” begitu dia melanjutkan.

Aku banyak mendengarkannya, dan kami saling tukar pikiran. 

Ctak!! 

Pintu toko terbuka sedikit. 

“itu keponakan dari pemilik toko ini ” jelas paman penjaga toko. 

Aku hanya bisa berkata WaW… 

Nikmat Tuhan mu yang manakah lagi yang akan kau dustakan. 

Itu yang terfikir di otakku. 

Aku tahu kalau aku tidak bisa berkedip, hanya tubuhku yang berputar mengikuti kemana arahnya. Aku jelas-jelas melihatnya dari jarak yang sangat dekat menyapa paman itu. 

“nona, anda sangat beruntung bisa melihat salah satu pemilik toko ini.” kata si paman 

“nona,, nona,, anda baik-baik saja? Nona,,, “si Paman menepuk bahu ku yang membuat aku sadar dari lamunan ku. 

“eh iya Paman…aku baik-baik saja. Mimpi apa aku semalam Paman? ” si Paman berhasil aku buat bingung dengan bahasa Indonesia ku yang jelas dia tidak mengerti. 

“hahaha,, saya yakin sekali anda mengenal tuan tadi, karena dia idol” kata Paman lagi. 

Gak usah dijelaskan aku sudah tahu semuanya, bahkan tiap tahun aku mengucapkan selamat hari lahir untuknya di SNS ku.

Aku melihatnya dengan sangat jelas, dia berjalan ke arah aku dan Paman. 

“ada yang bisa kami bantu nona? ” dia bersuara, giginya yang rapi terlihat sempurna. 

Si Paman, menaikkan alisnya dan dengan segera aku kembali menguasai diriku. 

“senang bertemu lagi nona ” katanya 

“iya, itu anda kemarin yang di toko kaset kan yang..yang.. Topi. Jaket. Hitam ” ketahuan sekali aku gugupnya. 

Dia hanya tersenyum.

“kenapa tidak berteriak seperti yang lainnya? ” pertanyaan itu lagi, tadi di bus pernyataan dari idol cewek bahwa ia senang karena aku tidak histeris dan sekarang pertanyaan pula. 

“tidak perlu, aku tidak ingin sakit tenggorokan hanya karena melihat kalian. ” jawaban ku membuatnya dan Paman tercengang. 

Nikmat Tuhan mu yang manakah lagi yang kamu dustakan.

Itu saja yang ada di pikiran ku saat ini. 

Lagi-lagi kami bertukar kontak dan nomor HP sampai SNS, bahkan dengan Paman. 

“jangan bingung Paman, kami sudah bertemu kemarin di toko kaset” kata nya pada Paman karena heran dengan obrolan kami. 

“itu hari pertama saya di Korea Paman ” aku menjelaskan. 

Ooo… Hm… 

Si Paman cuman bergumam 

“aku habis pulang latihan, langsung menuju toko kaset yang dekat taman sungai, Paman” katanya lagi menjelaskan 

“apa kamu tidak histeris? Seingat saya, tuan muda bercerita bahwa wanita…maksud saya anda tepat berada di depan tuan muda waktu itu?” tanya Si Paman

“saya tidak ingin mengacaukan toko kaset itu dengan suara saya, tetapi setelah dia keluar sepertinya Orang-orang menyadari hal itu dan bersuara… “aku menjelaskan. 

Aku mendengar mereka berbicara tetapi aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. 

Kami tertawa, Paman membawakan minuman botol untuk kami bertiga dan pembicaraan masih berlanjut. 

Aku menceritakan kedatangan ku di Korea adalah untuk mengisi cuti tahunan ku. Aku juga menceritakan keinginan ku untuk membeli gitar yang bentuknya mirip dengan gitar si Juniel penyanyi solo wanita Korea. Semua aku ceritakan hingga tentang teman baru ku yang aku temukan di bus tadi.

“aku punya teman baru, dia junior anda dalam satu agensi, sekarang kami berteman. ” aku memberi tahu dia dan paman. 

“oh ya, mungkin paman juga kenal” paman ikut menimpali setelah meneguk minumannya. 

“paman pasti kenal, dia sendiri yang merekomendasikan aku untuk datang ke toko ini, tetapi ia tidak bercerita siapa pemilik toko ini ” aku menjelaskan lagi pada mereka. 

“dia mempercayaimu, kalau begitu aku juga mempercayaimu.” “paman juga ” mereka bergantian berbicara. 

“aku sudah sangat lama di sini, nanti pengunjung yang lain terganggu. Aku pamit dulu ” aku pamit untuk pulang. 

“besok datanglah lagi ya ” paman meminta ku. 

“maaf paman, besok jam sepuluh pagi aku sudah harus berangkat dari penginapan karena jadwal pesawat ku jam satu siang.” aku menjelaskan “terimakasih banyak, kedatangan pertama ku di Korea sangat berkesan, saya akan menghubungi kalian besok lagi” aku meneruskan, ku lihat wajah paman agak kecewa dengan peryataan ku barusan. 

“kenapa tidak dari awal kamu langsung ke sini Nami, Paman sangat senang bertemu dengan nona Nami.” kata paman. 

“saya juga paman” aku jawab. 

“tuan muda, tolong antarkan nona Nami ke halte bus, dan beritahu rutenya.” perintah paman. 

“iya paman, kami pergi dulu.” kami pamit pada paman. 

“hati-hati nona Nami” kata paman lagi, kali ini ia melambaikan tangan ke arah kami. 

“jangan sungkan ya untuk berbicara dengan ku, panggil aku oppa karena aku lebih tua dari mu.” kata oppa pada ku. 

“kalau sudah sampai di penginapan langsung kabari oppa atau paman ya.” perintah oppa lagi. 

“iya oppa, aku mengerti. Salam buat junior oppa ya. Juga salam buat member oppa, jaga kesehatan, aku menantikan karya-karya oppa.” aku pamitan pada oppa kemudian langsung masuk ke dalam bus.

Aku lihat oppa melambai-lambaikan tangannya hingga aku lihat ia menghilang di tikungan jalan. 

Oh iya, haltenya sepi kalau masih jam empat sore, jadinya oppa tidak memakai penyamaran seperti waktu di toko kaset kemarin. 

Ini hari berkesan banget. Aku langsung menuliskannya ke dalam diary ku. Tak lupa pula aku mengabari paman, oppa dan teman baru ku bahwa aku telah sampai di penginapan. 

Baru saja terkirim sms ku, si teman baru langsung menelepon. Kami masih sempat ngobrongobrol panjang, aku menceritakan keberuntungan ku bertemu idol di toko kaset yang juga ternyata adalah keponakan dari agensi mereka sendiri. 

Untuk teman baru ku, aku sangat berterimakasih karena direkomendasikan ke toko alat musik yang sangat spesial banget. Ini perjalanan pertama yang waw dan wah la pokoknya. Terimakasih banyak banyak. 😄

Jodoh Tak Kemana 4

Ini sudah hari ke empat, hari ini aku putuskan untuk lebih banyak di rumah karena angin di luar bisa dikatakan lebih kencang dari kemarin -kemarin, kalau pun aku ingin berjalan mungkin cuma jalan di sekitar penginapan aja.

Drrrt drrrt… Drrrt drrrt…

Aku mencari hp ku yang bergetar. Ternyata di bawah bantal ku sendiri. Begitu aku angkat langsung kedengaran jerit seseorang di seberang sana. Nami…. Nami ya seperti itu. Temanku berteriak memanggil namaku si seberang sana. Aku sedikit menjauhkan Ponsel yang ku pegang dari telinga ku, sangat berisik dan terlalu kuat. Aku hanya bisa kekeh mendengar teriakannya. Temanku Desy menelepon untuk pertama kalinya setelah aku beberapa hari di Korea. Desy menghujaniku dengan bertubi – tubi pertanyaan. Mulai dari kabar hingga ia menanyakan oppa -oppa Korea itu beneran tampan seperti di drama atau tidak.

Continue reading “Jodoh Tak Kemana 4”